Links
Labels
- Akhlak (25)
- Al-Qur'an (30)
- Aqidah (9)
- Demokrasi (5)
- Dunia Islam (42)
- Hadits (1)
- Ibadah (16)
- Kontra Liberalisme (15)
- Muamalah (20)
- Pembelaan Iman (13)
- Pemikiran Islam (53)
- Sejarah Islam (6)
- Syari'at (14)
- Tafsir (23)
Popular Posts
Jumlah Kunjungan
Arsip
- January 2025 (1)
- November 2024 (1)
- March 2024 (1)
- October 2019 (1)
- February 2018 (92)
- January 2018 (1)
- April 2014 (1)
- March 2014 (6)
- December 2013 (3)
- November 2013 (3)
- October 2013 (4)
- September 2013 (8)
- May 2013 (1)
- April 2013 (1)
- March 2013 (3)
- February 2013 (2)
- December 2012 (2)
- November 2012 (2)
- October 2012 (5)
- September 2012 (2)
- August 2012 (5)
- July 2012 (14)
- June 2012 (18)
- May 2012 (54)
Artikel Terbaru MMT
-
Gagal Pahamnya Kristen Dalam Memahami Istilah Malaikat Tuhan - *Oleh : Fachrudin.* Adanya keyakinan Kristen tentang Allah bisa menjelma dan akhirnya bisa melakukan inkarnasi, yang menurut mereka hal tersebut adalah s...
-
Arsip kajian Islam - *بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ* Assaamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Keberadaan orang orang yang ingin menghancurkan Islam dengan berbagai ...
-
Diskusi Arda Chandra dan Wawan Kardiyanto; Kewajiban memakai Jilbab.. - Bermula dari status Wawan Kardiyanto yang memuat berita tentang Najwa Shihab yang tidak memakai jilbab, lalu dia menulis komentar : YANG JARANG DIPAHAMI ...
-
Atasi Krisis Air, ACT Siapkan 237 Truk Tangki Berisi Air - Tim Emergency Response Aksi Cepat Tanggap untuk Bencana Kekeringan, menyiapkan 237 truk tanki berisi air bersih untuk didistribusikan ke beberapa wilayah...
-
Perkataan Nabi Menjadi Bumerang Untuknya? - * Oleh Surya Yaya* Seorang Penghujat Islam membuat tulisan dengan judul :Sesumbar-sesumbar Muhammad yg menjadi bumerang bagi dirinya 1) Kalau dia mengada-...
-
Persoalan nabi Muhammad meninggal karena diracun - *Pertanyaan :* Berdasarkan hadits Bukhari dalam versi bahasa Inggeris ini : *Narrated 'Aisha: The Prophet in his ailment in which he died, used to say, "O...
-
Pembinaan Mualaf Perlu Pahami Psikologis Dan Siap Berkorban Waktu - Pembinaan mualaf yang kurang optimal ditenggarai akibat perhatian umat Islam yang kurang, selain itu juga disebabkan minimnya inovasi atau pembaruan tekni...
-
Ebook 'Combat Kit' By Penjaga Kitabullah - Assalamualaikum wr wb, saudara-saudaraku umat Islam sekalian….. Alhamdulillah Kompilasi seluruh judul Notes sudah dapat saya selesaikan, silahkan di down...
-
-
Powered by Blogger.
Showing posts with label Akhlak. Show all posts
Showing posts with label Akhlak. Show all posts
Ini sebuah cerita tentang penulis Islam terkenal, Muhammad Asad (sebelumnya bernama Leopold Weiss - seorang Yahudi keturunan Austria-Hongaria) yang baru saja masuk Islam, lalu melakukan perjalanan ke Timur Tengah dengan sebuah kapal laut. Diatas kapal itu dia berkenalan dengan serombongan orang Yaman..
"Diantara orang-orang Yaman yang ada di kapal tersebut, ada seorang yang bertubuh pendek, kurus dan memiliki hidung seperti elang yang membuat wajahnya terlihat sangar, tapi gerakannya sangat tenang dan terukur. Ketika dia mengetahui bahwa saya adalah seorang mualaf, dia menunjukkan perhatian yang sangat khusus kepada saya. Untuk beberapa waktu kami duduk bersama diatas dek kapal sementara dia berbicara tentang kampungnya di daerah pegunungan di Yaman, namanya : Muhammad Saleh.
Pada suatu malam, saya mengunjungi tempatnya yang berada di dek paling bawah, salah seorang temannya terbaring sakit, tergeletak pada sebuah tempat tidur besi. Dan saya di beritahu oleh mereka ternyata dokter kapal enggan untuk datang ketempat mereka. Kelihatannya temannya tersebut terserang malaria. Lalu saya memberinya beberapa butir pil kina. Sementara saya sedang sibuk dengan si sakit, orang-orang Yaman tersebut berkumpul di sudut lain berkeliling mengitari Muhammad Saleh dan sambil sesekali melirik kepada saya, Muhammad Saleh memberikan penjelasan kepada rekan-rekannya. Pada akhirnya salah seorang dari mereka maju mendekati saya -seorang pria tinggi dengan wajah berwarna zaitun coklat dan mata yang hitam dan tajam, dan dia menyodorkan seikat uang kertas Franc yang kusut lalu berkata :"Kami tadi telah mengumpulkan ini., sayangnya tidak begitu banyak, terimalah ini sebagai tanda penghargaan dari kami..".
Saya melangkah mundur, kaget, dan menjelaskan bahwa bukan karena uang tersebut saya bersedia menolong temannya yang sakit. Orang yaman tersebut menjawab :"Tidak..tidak.., kami tahu itu, tapi terimalah uang ini, ini bukan bayaran melainkan hadiah dari saudara-saudara anda. Kami sangat bahagia melihat anda, oleh karena itu kami bermaksud memberi anda uang ini, anda adalah seorang Muslim dan saudara kami, anda bahkan lebih baik daripada kami semua, karena kami ini terlahir sebagai Muslim, nenek moyang kami adalah Muslim, namun anda menerima Islam dengan hatimu sendiri. Terimalah uang ini saudaraku, demi Rasulullah..".
Label:
Akhlak,
Aqidah,
Dunia Islam,
Muamalah,
Pemikiran Islam
|
0
komentar
Perkembangan ilmu pengetahuan kadangkala membuat kita bingung, dari yang tadinya sekedar mitos yang kemudian dipatahkan oleh ilmu kedokteran sampai pada penelitian terbantah oleh penelitian selanjutnya. Hal ini adalah dinamika ilmu pengetahuan yang senantiasa berkembang secara terus menerus, namun adapula kepentingan bisnis yang mengatasnamakan inovasi sebagai daya tarik dagangannya. Yang mana bukan rahasia lagi sebagaimana banyak kita saksikan, iklan sekarang begitu mudah mengatasnamakan penelitian. Walaupun hanya sekedar (9 dari 10...) dan banyak lagi bahasa-bahasa yang langsung tidak langsung mengatasnamakan penelitian/riset. Karena memang produsen menyadari bahwa masyarakat sekarang semakin kritis namun juga sebenarnya latah alias mudah menerima sesuatu yang baru tanpa mengkoreksi lebih jauh lagi.
Lalu bagaimana kita harus berlaku?
Dari kedua artikel yang dihimpun dibawah ini anda bisa mengambil kesimpulannya :
Lalu bagaimana kita harus berlaku?
Dari kedua artikel yang dihimpun dibawah ini anda bisa mengambil kesimpulannya :
- TERTAWA : Rahasia Jantung Sehat
- Terlalu Banyak Tertawa Bikin Daya Ingat Tidak Tajam
Label:
Akhlak
|
1 komentar
Seorang penganut atheis pernah mengajukan 'puisi' yang bertujuan untuk menyerang Muslim dalam usahanya untuk taat kepada aturan Allah, tentu saja dengan gaya bahasa sindiran :
APA YANG SAYA RASAKAN ??
Aurat Wanita?
Sayalah Anjing Keparat!
Sepanjang hidup saya,
Rasanya secara diam diam, saya tidak pernah mengutuk cewek berpakaian seksi dan seronok.
Bahkan dada saya berdebar-debar saat melihatnya.
Lalu dalam kesendirian, saya lari ke kamar mandi.
Dan disana, saya menghayal sedang menikmati sekujur tubuhnya.
Tapi kenapa itu tidak saya akui dan nyatakan terang-terangan di muka publik?
Bahkan saya pun ikut mengutuk perempuan perempuan yang demikian?
Dengan berbagai alasan terutama dengan alasan norma moral dan agama? Karena begitulah kemunafikan saya.
Didalam, jujur saya suka dan bernafsu melihatnya
Tapi diluar, saya menjaga citra diri agar diri saya tampak mulia dan bermartabat.
Dasar munafik keparat!
Menanggapi 'puisi' tersebut, saya kemudian mengajukan pertanyaan yang sampai sekarang tidak dijawab :
"Jadi supaya tidak dikatakan munafik, apakah nafsu syahwat atheis seperti anda ini disalurkan saja seenaknya seperti anjing keparat..? begitu melihat wanita bahenol dan kebetulan diajak dianya mau, langsung dihantam saja, supaya tidak dikategorikan munafik..".
Soal nafsu syahwat memang selalu menarik untuk diperbincangkan. Ketika kita berselancar di facebook untuk update status, membaca unek-unek dan kata-kata nasehat dari para sahabat, tidak jarang dipojok sebelah kanan atas muncul tulisan yang menggoda : '5 Kasus Lecehkan Seksual' atau 'Ini fakta tentang germo ABG yang menjual temannya sendiri', lengkap dengan gambar yang dibikin 'nyerempet-nyerempet' pornografi, soalnya mau dikategorikan porno juga belum memenuhi syaratnya karena masih ditutupi bagian 'pentingnya'. Sekali dua kali, informasi tersebut mungkin saja tidak anda gubris, tapi bagaimana bisa tahan kalau 'undangan' tersebut muncul terus-terusan..?? maka dalam kondisi yang 'pas' ketika anda lagi 'on', tangan langsung menggerakkan mouse komputer untuk mengklik berita tersebut.
'Undangan untuk berkunjung' ke situs-situs porno juga sering muncul melalui fasilitas pop-up yang memang sering nongol di monitor komputer kita, atau melalui kiriman e-mail spam. Ada software untuk mengatasinya, tapi sering juga tidak kita manfaatkan, lha..kadang kita memang kepingin lihat koq..
Label:
Akhlak,
Muamalah
|
3
komentar
Salah satu momen menarik dalam tontonan reality show ‘The X-Factor US Season 2’ adalah tentang seorang peserta Jillian Jensen, remaja wanita yang menceritakan nasibnya telah mengalami bullying yang berlangsung lama ketika dia disekolah dulu. Ceritanya bermula waktu Jillian mengetahui salah seorang teman sekolahnya membawa narkoba kesekolah, dia lalu memutuskan untuk mengadukan hal ini kepada kepala sekolahnya. Akibat tindakannya yang benar tersebut gadis ini kemudian menjadi sasaran bullying dari hampir seluruh teman-temannya, mengejeknya dengan julukan ‘snitch’ – tukang mengadu. Ejekan dari lingkungan berlanjut ketika dia menjalani profesi sebagai guru musik. Jillian Jensen mengatakan bahwa bullying yang dilakukan orang-orang secara terus-menerus sangat berpengaruh kepada kondisi psikologisnya. Terlepas dari kisah tersebut memang benar, atau cuma didramatisir sebagai satu bentuk ‘marketing startegy’ untuk menggugah para juri meloloskannya ke babak berikut, namun hasilnya memang mantap, pada audisi tersebut terjadi banjir airmata simpati, termasuk Demi Lovato, penyanyi idola remaja yang kebetulan menjadi juri, dia tidak bisa menahan tetesan airmata dengan memberikan komentar terbata-bata :”You broke my heart..”.
Bullying/bully merupakan tindakan kekerasan fisik, atau verbal, atau psikologis yang berjangka panjang, dilakukan oleh seseorang maupun sekelompok orang kepada orang lain dengan tujuan untuk melukai, menakuti, membuat tertekan, trauma, depresi dan tidak berdaya. Pada masyarakat kita, yang paling banyak ditemukan adalah bully melalui cara-cara verbal, baik dalam pengertian berupa omongan langsung maupun lewat sosial media seperti internet. Keterbukaan informasi yang terjadi saat ini merupakan kondisi yang sangat mendukung orang-orang untuk 'membully' siapapun dan kejadian apapun yang merangsang minatnya untuk melakukan itu. Masyarakat gampang mengupdate berita tentang seseorang, lalu juga mudah untuk melontarkan bully yang akan dibaca orang banyak misalnya melalui facebook dan tweeter, dan seperti bola salju, bully tersebut mengundang pihak lain untuk melontarkan bully-bully berikutnya sehingga menjadi heboh.
Label:
Akhlak,
Muamalah
|
0
komentar
Kisah pertaubatan manusia pertama kali dilakukan oleh Adam dan Hawa ketika mereka melanggar larangan Allah. Al-Qur’an mengisahkan :
Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan". Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (Al-Baqarah 36-37)
Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. Allah berfirman: "Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan". (Al-A’raaf : 23-24)
Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk. Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (Thaha 122-123)
Kalau dilihat kronologis kisah pertaubatan Adam dan Hawa ini berdasarkan ketiga informasi ayat Al-Qur’an diatas, maka kita bisa menyimpulkan bahwa pernyataan taubat sudah disampaikan sebelum mereka diturunkan kebumi, kemudian penerimaan Allah terhadap taubat tersebut terjadi mulai dari ucapan Adam dan Hawa sampai setelah mereka diturunkan. Apa maknanya..?
Label:
Akhlak,
Al-Qur'an,
Aqidah,
Ibadah
|
0
komentar
Tulisan ini saya sampaikan tahun lalu di forum diskusi Muslim-Menjawab, dan cukup relevan dihadirkan kembali. Natal sudah mendekat beberapa hari lagi. Kalau dilihat bagaimana kemeriahan natal di negeri ini yang hampir sama meriahnya dengan perayaan Idul Fitri, padahal penduduk Katolik/Kristen yang merayakannya berjumlah hanya 10% dari total penduduk yang mayoritas Muslim. Melihat kenyataan ini seharusnya bagi umat Kristen yang tahu dan memahami, akan berterima kasih kepada saudara-saudara mereka yang Muslim, bahwa secara umum umat Kristen dijaga dan dilindungi untuk bisa menjalankan ajaran agama mereka dengan tenang dan tenteram. Lihatlah kemeriahannya, hampir semua mal dan pusat perbelanjaan meriah dengan nuansa natal, karyawan dan karyawatinya memakai (atau terpaksa memakai) topi Sinterklas, ada promosi berupa 'Christmas Sale', warna ruangan dominan berwarna merah, yang merupakan ciri khas natal. Begitulah sikap umat Islam di negeri ini, sesuatu yang barangkali tidak mereka dapatkan di negeri dimana mereka menjadi minoritas.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Terjadi perbedaan pendapat para ulama tentang boleh atau tidaknya seorang Muslim menyampaikan ucapan selamat natal kepada umat Kristen yang merayakannya. Umumnya pihak yang membolehkan beranggapan bahwa terdapat pemisahan antara natal sebagai suatu ritual ibadah/misa dan natal sebagai suatu perayaan hari kelahiran, seperti halnya dengan perayaan ulang tahun seseorang. Pendapat ulama yang membolehkan penyampaian ucapan selamat natal menyatakan bahwa ucapan tersebut sebagai bentuk tahni’ah/ucapan selamat dan penghormatan, bahkan menurut Yusuf Qadrawi mengkategorikan hal ini sebagai al-birr – perbuatan yang baik – sesuai Al-Qur’an surat al- Mumtahanah 8 dan an-Nisaa 86. Di Indonesia sendiri kita tidak menemukan adanya fatwa MUI yang menetapkan apakah mengucapkan selamat natal diharamkan atau tidak, yang ada hanyalah fatwa MUI thn 1981 yang menyatakan tentang tidak boleh mengikuti perayaan natal bersama, bukan soal mengucapkan selamat natal. Disini bisa dilihat bahwa MUI-pun membedakan antara natal sebagai suatu ritual ibadah dengan natal sebagai suatu perayaan hari kelahiran.
Sikap MUI ini tergambar juga dengan pernyataan Dien Syamsudin, Sekjen MUI sekaligus Ketua Umum PP Muhammadiyah yang menyatakan : “Kalau hanya memberi ucapan selamat tidak dilarang, tapi kalau ikut dalam ibadah memang dilarang, baik orang Islam ikut dalam ritual Natal atau orang Kristen ikut dalam ibadah orang Islam,". Setali tiga uang, dulu semasa hidupnya Gus Dur juga tidak mempermasalahkan ucapan Natal dari seorang Muslim dengan alasan :"Perayaan Natal adalah perayaan hari kelahiran Isa Almasih, jadi sebagai umat Islam yang mengakui kenabian beliau, tidak masalah kalau kita juga ikut merayakannya..".
Label:
Akhlak,
Aqidah,
Dunia Islam,
Ibadah,
Pemikiran Islam,
Syari'at
|
0
komentar
Al-Qur’an menceritakan tentang sosok orang kaya yang bernama Qarun. Menurut tafsir beberapa ulama, Qarun pada awalnya adalah seorang hamba Allah yang ta’at dan miskin. Suatu ketika dia memohon kepada Allah dengan penuh ketulusan hati :”Yaa..Allah, seandainya Engkau menjadikan saya ini kaya-raya, maka tentulah saya bisa melakukan keta’atan yang lebih banyak lagi kepada-Mu, karena kekayaan dan kemahsyuran memberi kesempatan untuk lebih banyak melakukan kebaikan..”. Allah ternyata mengabulkan keinginannya tersebut lalu Dia memberikan kekayaan yang berlimpah kepada Qarun. Konon sampai kunci-kunci pintu perbendaharaan hartanya saja sangat banyak dan berat sehingga untuk membawanya harus diangkut oleh beberapa orang. Namun ternyata kekayaan yangh diberikan Allah tersebut tidak membuat Qarun menjadi lebih ta’at dan banyak berbuat baik, dia menjadi kikir dan sombong. Al-Qur’an mengabadikan perkataan Qarun tentang dirinya : ”Sesungguhnya aku diberi (harta itu),semata-mata karena ilmu yang ada padaku” (QS Al Qashash [28]:78).
Kita tahu bagaimana kesudahan nasib Qarun ini, Allah menyampaikan pelajaran berharga kepada kita : ”Maka, kami benamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka, tidak ada suatu golongan pun yang dapat menolongnya dari azab Allah.” (QS Al Qashash [28]: 81).
Ada suatu kisah diceritakan oleh seorang ustadz dalam suatu kesempatan pengajiannya, tentang ‘curhat’ salah seorang ibu-ibu pengusaha yang mengeluh tentang nasibnya. Si ibu mengisahkan bahwa dia adalah pengusaha yang sukses dengan beberapa perusahaan yang berkembang dan menghasilkan keuntungan materi tidak sedikit. Dulunya dia dan keluarga bukan siapa-siapa, hidup sederhana dengan usaha warung kecil-kecilan. Tentu saja ada harapan dan keinginan agar usahanya berkembang dan untuk itu dia tidak henti-hentinya memohon kepada Allah. Ternyata do’anya dikabulkan dan dalam beberapa tahun si ibu dan keluarganya berhasil mengembangkan bisnis mereka. Namun keluhannya kepada pak ustadz sangat menyedihkan hati. Kekayaan dan kesejahteraan yang telah dilimpahkan Allah ternyata membuat rumah-tangganya berantakan, waktu untuk berkumpul dan memberikan perhatian buat keluarga menjadi sangat minim karena semuanya sibuk, suami menjadi ‘jagoan maksiat’ karena sarana dan kesempatan terbuka lebar, anaknya yang perempuan tidak jelas nasibnya karena tinggal ‘kumpul kebo’ dengan bule di luar negeri, anak laki-lakipun kena narkoba. Si ibu lalu mengeluh :”Seandainya Allah berkenan, ambillah semua harta ini kembali, jadikan hidup kami sederhana seperti dulu lagi asal keluarga bisa berkumpul dalam kebahagiaan. Kekayaan ini begitu menyiksa saya..”.
Ada suatu kisah diceritakan oleh seorang ustadz dalam suatu kesempatan pengajiannya, tentang ‘curhat’ salah seorang ibu-ibu pengusaha yang mengeluh tentang nasibnya. Si ibu mengisahkan bahwa dia adalah pengusaha yang sukses dengan beberapa perusahaan yang berkembang dan menghasilkan keuntungan materi tidak sedikit. Dulunya dia dan keluarga bukan siapa-siapa, hidup sederhana dengan usaha warung kecil-kecilan. Tentu saja ada harapan dan keinginan agar usahanya berkembang dan untuk itu dia tidak henti-hentinya memohon kepada Allah. Ternyata do’anya dikabulkan dan dalam beberapa tahun si ibu dan keluarganya berhasil mengembangkan bisnis mereka. Namun keluhannya kepada pak ustadz sangat menyedihkan hati. Kekayaan dan kesejahteraan yang telah dilimpahkan Allah ternyata membuat rumah-tangganya berantakan, waktu untuk berkumpul dan memberikan perhatian buat keluarga menjadi sangat minim karena semuanya sibuk, suami menjadi ‘jagoan maksiat’ karena sarana dan kesempatan terbuka lebar, anaknya yang perempuan tidak jelas nasibnya karena tinggal ‘kumpul kebo’ dengan bule di luar negeri, anak laki-lakipun kena narkoba. Si ibu lalu mengeluh :”Seandainya Allah berkenan, ambillah semua harta ini kembali, jadikan hidup kami sederhana seperti dulu lagi asal keluarga bisa berkumpul dalam kebahagiaan. Kekayaan ini begitu menyiksa saya..”.
Label:
Akhlak,
Pemikiran Islam
|
0
komentar
Alkisah seorang tua miskin disuatu kampung memiliki seekor kuda putih yang indah. Penduduk kampung tersebut menyarankan agar pak tua menjual saja kuda tersebut karena membutuhkan biaya besar untuk merawatnya agar tetap terlihat cantik, lagipula kuda seindah itu rentan terhadap pencurian, namun pak tua menolak untuk menjualnya. Suatu ketika kekhawatiran warga kampung menjadi kenyataan, kuda sudah tidak ada lagi dikandangnya, raib entah kemana. Melihat kejadian ini, penduduk lalu menyalahkan orang-tua :”Lihatlah.., apa yang kami sampaikan adalah sesuatu yang logis dan masuk akal, semua orang juga akan berpikiran yang sama, bahwa kuda yang cantik tersebut akan hilang dicuri. Karena anda tidak mau menerima pendapat yang masuk akal ini maka sekarang anda harus menghadapi musibah, kehilangan kuda..”. Pak tua menjawab :”Darimana kalian tahu kalau kehilangan kuda yang cantik tersebut menjadi musibah buat saya..?”.
Ternyata beberapa hari kemudian kuda yang cantik tersebut kembali lagi ke kandangnya. Rupanya si kuda pergi ke hutan untuk beberapa lama dan berkumpul dengan kuda-kuda liar yang hidup disana, ketika kembali, kuda tersebut membawa belasan kuda liar untuk masuk ke kandang bersama-sama. Mendengar kejadian ini, penduduk kemudian mendatangi pak tua dan berkata :”Ternyata anda benar, apa yang dalam pandangan logis kami merupakan musibah buat anda ternyata malah sebaliknya, merupakan suatu keberuntungan yang besar..”. lagi-lagi pak tua tidak peduli dan menjawab :”Darimana kalian tahu kalau bertambahnya kuda yang saya miliki tersebut merupakan keberuntungan..?”. Penduduk kampung kembali heran dengan jawaban pak tua, mereka kemudian pergi dengan bertanya-tanya.
Label:
Akhlak,
Pemikiran Islam
|
6
komentar
Ada cerita yang tercecer dari perjalanan umroh saya di bulan ramadhan kemaren, terkait dengan interaksi yang terjadi dengan jamaah yang datang dari seluruh penjuru dunia..
Kebetulan jadwal perjalanan kami selama sebulan di tanah suci terlebih dahulu berkunjung ke Madinah, untuk beribadah di masjid Nabawi selama 3 hari, setelah itu baru berpindah ke Makkah melakukan umroh dan shalat di Masjidil Haram sebanyak-banyaknya, mengikuti yang fardhu dan juga tarawihnya sekalian. Sebagaimana kebiasaan pada kedua masjid tersebut, ketika menjelang maghrib di bulan Ramadhan, pihak pengelola selalu menyediakan ‘tajil’ untuk berbuka puasa, kalau di Madinah agak rada lebih lengkap, berupa korma dan roti, ‘laban’; semacam yoghurt dari susu sapi kental yang sudah di fermentasi, ‘syai’ panggilan Arab untuk teh, ataupun ‘gawa’ kopi Arab. Tentu saja tidak ketinggalan beberapa gelas air zamzam. Bagi anda yang biasa ‘bertajil-ria’ di masjid-masjid Indonesia, jangan heran kalau disana tidak akan ditemukan kolak, cendol, lemper, dll karena bagi orang kita istilah tajil memang melekat kepada jenis-jenis makanan tersebut, sampai-sampai ada yang menyangka kalau tajil adalah kata Arab untuk kolak atau cendol. Tajil memang berasal dari bahasa Arab ‘ajjala’ artinya : menyegerakan, mendahulukan. Maksudnya sebelum melakukan buka puasa dengan makanan besar, umat Islam terlebih dahulu membatalkan puasanya dengan memakan makanan kecil lalu shalat maghrib, setelah itu baru berbuka dengan makanan seperti biasanya.
Label:
Akhlak,
Dunia Islam,
Ibadah,
Muamalah
|
0
komentar
Pernah dalam suatu kesempatan perjalanan umroh di Madinah, diadakan pengajian terbatas oleh ustadz pembimbing dihotel tempat menginap, mengisi waktu mulai dari ba’da Ashar menunggu datangnya waktu Maghrib. Sang ustadz memulai dengan suatu pertanyaan :”Lihatlah.., katanya, “kita sedang berada di negeri yang kaya raya, penduduknya makmur. Bahkan kota ini sibuk dengan kegiatan perdagangan, toko-toko selalu ramai didatangi pembeli dari seluruh dunia, hotel dan penginapan jarang yang kosong.” Lalu dia melanjutkan :”Apa gerangan yang menyebabkan Allah melimpahkan rahmat dan berkah terhadap penduduk negeri dan kota ini..?”. Ustadz ini jelas sedang mengajukan pertanyaan retorika, karena kemudian dia menjawabnya sendiri :”Terlepas dari segala kekurangan perilaku penduduknya secara personal, disini masjid selalu penuh ketika datang waktunya shalat fardhu, jangankan masjid Nabawi, masjid kecil yang bertebaran disela-sela pertokoan juga sama saja penuhnya dan melimpah sampai kejalanan, jamaah yang berada diluar ruangan sering lebih banyak dibandingkan mereka yang ada didalam ruangan. Penduduk kota ini sudah memiliki sikap yang mendarah-daging, bahwa shalat fardhu memang harus berjamaan di masjid terdekat. Bagi mereka yang kebetulan sedang berdagang menunggu toko akan segera menutup tokonya dengan hanya selembar kain dan bergegas pergi ke masjid, semua kegiatan ditinggalkan untuk memenuhi kewajiban mereka kepada Allah”.
“Kota Medinah dan Makkah dengan ketat menjaga agar penyakit masyarakat berupa tempat maksiat, judi, dll tidak muncul dan berkembang diwilayah mereka. Semuanya beramar makruf nahi munkar..”.
Lalu sang ustadz melanjutkan :”Inilah yang menyebabkan Allah memberikan berkah kepada para penduduk negeri..”.
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Al-A'raaf: 96)
Label:
Akhlak,
Dunia Islam,
Ibadah
|
0
komentar
Beberapa hari menjelang Lebaran biasanya orang sudah mulai sibuk berbelanja terutama pakaian. Hal ini sudah merupakan bagian dari budaya. Tidak ada yang salah dari semua itu, justru menambah dinamika selagi tidak berlebihan.
Menarik untuk dicermati, sebagaimana banyak pemberitaan di berbagai media seperti televisi ketika meliput pusat perbelanjaan, dengan mudah akan menjumpai fenomena menarik yaitu busana dengan nama sejumlah artis yang tampil dalam sinetron Religi selama Ramadhan ataupun penampilan pada acara-acara lain, tidak terkecuali gosip.
Apa yang dikenakan si Artis sepertinya menjadi acuan desainer atau pedagang untuk menarik pembeli atau mengenalkan tren terbaru. Kitapun tahu di akhir tayangan produk mode yang menjadi sponsornya. Yang sepertinya sudah melihat prilaku masyarakat/konsumen yang lebih menempatkan TONTONAN menjadi TUNTUNAN (panutan). Lantas sayapun berfikir "SINETRON atau FASHION SHOW?". Memang sinetron bukanlah satu-satunya hiburan yang kemudian menjadi role model pemirsanya, tapi cukup menjadi wakil karena intesitasnya yang tinggi, hingga pemirsa seringkali menjadi kecanduan.
Seakan sudah menjadi tradisi begitu memasuki bulan Ramadhan maka banyak sekali tanyangan2 berbau Religi, namun sayangnya acara seringkali tidak menekankan pesan Islami bahkan seolah hanya ganti casing dimana muatannya tidak jauh beda dengan tayangan pada hari-hari lainnya.
Label:
Akhlak
|
0
komentar
Kalau boleh saya menyebutkan siapa manusia yang paling beruntung di dunia, maka itu adalah Abu Bakar ash-Shiddiq. Bukan karena dia konglomerat kaya, orang saleh, tokoh Islam, khalifah bahkan dinyatakan Rasulullah sebagai salah seorang yang diinformasikan akan masuk surga, tapi keberuntungan Abu Bakar karena sejak kecil dia memiliki seorang teman yang sangat ‘berkualitas’, yaitu Rasulllah. Apakah anda bisa membayangkan memiliki seorang sahabat, yang selalu datang paling duluan ketika anda mendapat kesulitan dan kesusahan, selalu bersikap ramah dan peduli dengan keselamatan anda, memberi nasehat ketika anda salah jalan dengan cara yang santun, tidak menghakimi. Sahabat anda tersebut mungkin suatu waktu bersikap keras dan tegas, namun anda bisa merasakan bahwa apa yang dia lakukan semata-mata untuk kepentingan anda sendiri, tidak ada maksud tersembunyi dalam dirinya yang ujung-ujungnya mau mengambil manfaat bagi keuntungan pribadinya. Ketika sahabat anda tersebut muncul di pintu rumah anda, perasaan anda sangat gembira karena tahu bahwa dia datang bukan membawa suatu kepentingan sendiri, murni sekedar ingin mendengar berita tentang diri anda, kesehatan anda, apakah anda baik-baik saja, cuma itu..
Saya yakin, sahabat yang demikian selalu anda harapkan kehadirannya..
Adalah hal yang menakjubkan ketika kita membaca hadits yang berisi catatan para sahabat tentang tingkah-laku dan ucapan Rasulullah, ketika sahabat menyampaikan dari mulut ke-mulut apa yang dia dengar dari Rasulullah ketika dirinya ada didekat beliau. Tidak ada satupun kesan antara nabi Muhammad SAW dengan si perawi hadits tersebut memiliki jarak, misalnya antara atasan dengan bawahan, atau boss dengan anak buah. Setiap catatan ucapan Rasulullah selalu terkesan disampaikan dalam kondisi kedekatan beliau dengan sahabat. Tidak ada satupun catatan yang memberitakan dalam persahabatan nabi Muhammmad SAW dengan orang-orang di sekelilingnya ada kelompok ‘inner-cirle’, atau istilah politiknya, ring-1, ring-2, atau ring berapapun. Dalam perjalanan hidupnya Rasulullah berteman sejak kecil dengan Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar ash-Shiddiq, lalu setelah masa kenabian muncul Umar bin Khattab yang menjadi dekat dengan Rasulullah setelah dia masuk Islam. Bahkan banyak para sahabat yang baru menjadi sahabat beliau setelah penaklukan Mekkah, yaitu mereka yang dulunya musuh-musuh Islam. Kalau anda simak bagaimana semua sahabat tersebut menyampaikan omongan Rasulullah dalam hadits, sulit membedakan apakah itu bentuk omongan kepada sahabat sejak kecil atau pertemanan yang baru terjalin pada masa dewasa.
Label:
Akhlak,
Sejarah Islam
|
0
komentar
Dari dulu orang-orang selalu ribut tentang batas aurat, mana yang bisa dikategorikan sebagai suatu bentuk pornografi atau pornoaksi dan mana yang tidak. Inul Daratista bisa saja bilang gerakan ngebor yang dilakukannya tidak lebih hanya merupakan gerakan yang ‘enerjik’, namun bang Haji Rhoma Irama dengan tegas mengatakan itu perbuatan yang sengaja mengundang syahwat. Orang-orang ribut foto telanjang Anjasmara ala Adam dan Hawa di surga, para seniman bilang itu hanyalah pengungkapan suatu nilai seni. Umat Islam mengatakan jilbab - menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan tangan - diwajibkan agar kaum wanita terpelihara dari tindakan pelecehan oleh kaum laki-laki , pihak yang menentang bilang :”Jilbab tidak berguna, ngeliat jempolnya doank gue bisa nafsu koq..”. Yang lainnya mengatakan :”Belum tentu laki-laki bakalan terangsang lihat cewek pakai bikini atau bahkan telanjang sekalian, itu tergantung pikirannya kotor atau tidak…”. Lalu muncul usulan yang seolah-olah bijaksana :”Batas aurat diserahkan saja kepada nilai-nilai kesopanan masyarakat..”, kalau ini yang dilakukan maka orang Papua bakalan ribut dengan orang Jawa karena batas kesopanan di Papua cukup ditutup dengan koteka, sesuatu batasan yang tidak akan pernah diterima di Jogyakarta.
Maka batasan aurat, bagian mana dari tubuh manusia yang bisa menimbulkan nafsu syahwat dan mana yang bukan, tidak bisa diserahkan kepada pendapat manusia, urusannya nggak bakalan selesai. Ketika ajaran Islam memerintahkan aturan jilbab bagi kaum wanita dengan batasan yang jelas tercantum dalam Al-Qur'an, ini merupakan perintah yang masuk akal. Kita bisa menerima dengan gampang bahwa Allah tentu lebih mengetahui mana batasan tubuh manusia yang boleh dipertontonkan dan mana yang harus disembunyikan, karena Allah mengetahui tentang diri manusia lebih baik dibandingkan dengan pengetahuan manusia tentang dirinya sendiri, tentu saja artinya Allah juga mengetahui apa isi hati orang yang menyatakan bisa bernafsu hanya dengan melihat jempol wanita tadi.
Label:
Akhlak,
Syari'at
|
0
komentar
Nabi bersabda, "Tahukah kalian siapa sebenarnya orang yang bangkrut?" Para sahabat menjawab, "Orang yang bangkrut menurut pandangan kami adalah orang yang tidak memiliki dirham (uang) dan tidak memiliki harta benda". Kemudian Rasulullah berkata, "Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari Kiamat membawa pahala shalat, pahala puasa dan zakatnya, (tapi ketika hidup di dunia) dia mencaci orang lain, menuduh orang lain, memakan harta orang lain (secara bathil), menumpahkan darah orang lain (secara bathil) dan dia memukul orang lain, lalu dia diadili dengan cara kebaikannya dibagi-bagikan kepada orang ini dan kepada orang itu (yang pernah dia zhalimi). Sehingga apabila seluruh pahala amal kebaikannya telah habis, tapi masih ada orang yang menuntut kepadanya, maka dosa-dosa mereka yang didzalimi ditimpakan kepadanya, dan pada akhirnya dia dilemparkan kedalam neraka (Shahih Muslim No.4678, Tirmidzi No. 2342)
Siapakah kira-kira yang dimaksud ‘orang lain’ yang disebut dalam hadits tersebut? Apakah mungkin mereka itu orang yang tinggalnya jauh dari kita.? Misalnya anda yang tinggal di Indonesia, maka ‘orang lain’ yang dimaksud Rasulullah adalah Mr. Smith di Amerika Serikat, atau Nakamura-san di Tokyo, Mr. Mugabe di Afrika..? Lalu kapan adanya kesempatan kita berinteraksi dengan mereka sehingga memunculkan kedzaliman dan sikap menyakiti..?. Bagaimana mungkin bisa dikatakan kita melakukan dosa padahal kenalpun tidak..?.
Maka ‘orang lain’ yang dimaksud oleh hadist tersebut pastilah orang-orang terdekat kita. Anda tahu siapa mereka..? mereka adalah keluarga kita, istri atau suami, anak-anak, orang-tua, saudara, tetangga kiri dan kanan, jamaah masjid, rekan sekantor, teman sekolah, karyawan dan anak buah kita, itulah ‘orang lain’ yang bisa menyeret kita ke neraka akibat kedzaliman yang kita lakukan terhadap mereka.
Label:
Akhlak,
Al-Qur'an,
Muamalah,
Pemikiran Islam
|
0
komentar
Tirmizi dan Ibn Majah meriwayatkan sebuah isnad yang shahih dari Al-Miqdam ibn Ma’dikarib radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Seorang syuhada akan memperoleh tujuh kehormatan dari Allah subhanahu wa ta’ala: ia akan dimaafkan sejak tetesan pertama darahnya; kepadanya akan diperlihatkan tempatnya di surga; ia akan dilindungi dari adzab kubur; ia akan dibebaskan dari adzab hari kiamat; di atas kepalanya akan ditaruh mahkota keagungan dengan batu mulia yang lebih baik daripada dunia dan segala isinya; ia akan dinikahkan dengan 72 bidadari surga; dan ia akan diizinkan untuk memberikan pertolongan (syafaat) kepada 72 orang kerabatnya. (Misykat al-Masabih, III, hlm. 357, no.3834).
Bisa kita gambarkan isi hati para ibu-ibu dengan bahasa gaul :”Lha..suami gua enak-enak dikeroyok puluhan bidadari di surga, mosok gua hanya bisa manyun saja menonton…??”.
Label:
Akhlak,
Al-Qur'an
|
0
komentar
Sungguh, ketika kita bicara soal sifat Allah yang Maha Pengampun, sudah tidak ada lagi kata-kata yang bisa disampaikan untuk membahas soal ini. Anda bisa membayangkan kalau anda disakiti orang lain, lalu besok lusa dia meminta maaf atas kelakuannya, sangat sulit rasanya memberikan maaf, bahkan ketika secara lisan anda menyampaikan :”Sudahlah.., tidak apa-apa, saya sudah memaafkan anda..”, namun besok lusa ketika anda teringat kembali kelakuan orang tersebut yang telah melukai anda, tetap saja rasa tidak enak muncul dalam hati, dan anda harus bersusah-payah untuk kembali melupakannya. Apalagi ketika kesalahan yang dilakukan terjadi berulang-kali, saya malah tidak yakin kalau kita sanggup untuk memberikan maaf. Apakah kita bisa membayangkan tentang ‘isi hati’ Allah ketika Dia menyatakan :
“Wahai bani Adam, sesungguhnya selama engkau masih berdoa dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampunimu semua dosa yang ada padamu dan Aku tidak akan peduli; Wahai bani Adam, seandainya dosa-dosamu mencapai langit, kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, Aku akan mengampunimu dan Aku tidak peduli; Wahai bani Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan membawa kesalahan seukuran bumi kemudian engkau datang menjumpai-Ku dalam keadaan tidak berbuat syirik atau menyekutukanKu dengan apapun juga, maka sungguh Aku akan datang kepadamu dengan membawa ampunan seukuran bumi juga. [HR. at-Tirmidzi]
Apa yang ada dalam pikiran kita ketika Allah mengatakan :
Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Az-Zumar: 53)
Label:
Akhlak,
Pemikiran Islam
|
0
komentar
Beberapa tahun lalu saya pernah ditelepon salah seorang saudara dari kampung halaman. Terus terang saja saya agak kaget menerimanya karena jarang-jarang saudara saya tersebut menghubungi, ini tentu sesuatu hal yang penting. Ternyata dia menawarkan sebuah rumah mewah dikampung, “untuk hari tua”, katanya. Dengan bersemangat dia menjelaskan bahwa rumah tersebut sangat luas, bertingkat, punya sekian kamar, sekian kamar mandi, dilengkapi kolam renang, lalu dilanjutkan :”Harganya tidak terlalu mahal, hanya ‘satu em”, sambil mengiming-imingi saya bahwa rumah lain yang setara bisa berharga lebih dari itu. Terus-terang saya jadi ketawa sendiri, koq dia bisa menyimpulkan kalau saya punya duit sedemikian banyak. Tawa saya makin keras ketika hal ini saya sampaikan kepada istri saya dan jawabannya :”Walah….bisa gempor menyapunya tiap hari, nggak mau saya di hari tua harus mengurus rumah sebesar itu..”. dalam, pikiran saya, rumah demikian memang menyiksa. Bayangkan bagaimana beratnya mengurus rumah tersebut, kalaupun pakai pembantu, minimal harus ada 4 orang pembantu yang stand-by terus dirumah, dan ini bisa menimbulkan masalah karena pengalaman saya, 1 pembantu saja kelakuannya aneh-aneh dan bikin pusing, apalagi 4 orang. Belum lagi kalau untuk perawatan, ada yang bocor, listrik konslet, dll.
Pernah juga dalam suatu wawancara di sebuah stasiun televisi, 2 orang pengacara kondang adik-kakak yang terkenal dengan hobby mengkoleksi mobil-mobil mewah, puluhan jumlahnya nangkring di garasi rumah. Sebagaimana umumnya konstruksi mobil mewah, tidak bisa dikendarai di semua jalan, harus jalan yang mulus, dan celakanya di Indonesia ini malah sebaliknya, jalan berlobangnya lebih banyak dibandingkan yang mulus. Mobil mewah juga biasanya didesain untuk ngebut, maka sangat riskan kalau dipakai di kompleks perumahan, harus pergi ke jalan tol, celakanya dihari kerja biasanya jalan tol di Jakarta selalu macet. Maka si pengacara kondang tersebut, entah dengan bangga atau memelas bercerita bahwa kalau dia ingin menikmati mobil koleksinya tersebut, dia harus menunggu tengah malam disaat lalu-lintas sudah sepi, membawa ke jalan tol, baru ngebut disana. Saya menjadi bingung mensikapi cerita dia tersebut, entah merasa lucu atau kasihan…
Label:
Akhlak,
Pemikiran Islam
|
0
komentar
Pertanyaan yang ‘sangat manusiawi’ sering diajukan, terutama oleh non-Muslim terhadap ajaran Islam tentang nasib mereka kelak di akherat :”Kalau saya ini orang yang selalu berbuat baik, suka menolong orang tidak peduli apapun keyakinannya, dermawan dan sering membantu fakir miskin yang kesusahan, ramah dan tidak pernah menyakiti siapapun, apakah saya akan tetap masuk neraka karena bukan seorang Muslim..??”.
Yang pertama kali saya beritahukan adalah jawabannya adalah : saya tidak tahu, maka kalau saya menjawab bagaimana nasib dia kelak di akherat, artinya itu bukan datang dari saya, tapi dari Allah yang Maha Mengetahui, istilahnya saya hanya mengcopy-paste jawaban dari pihak lain. Yang kedua, saya juga tidak berambisi mau mempesonakan orang lain dengan jawaban yang menyenangkan, lalu harus mengarang cerita agar saya memberikan jawaban sesuai harapan orang tersebut, itu sama saja namanya dengan menipu orang, pada dasarnya merugikan orang tersebut sekalipun mungkin hatinya senang mendengar apa yang saya sampaikan..
Saya kutip lengkap pernyataan Allah tentang nasib orang kafir yang selama hidupnya melakukan perbuatan baik di dunia :
Orang-orang kafir kepada Tuhannya, amal ibadah mereka laksana debu-debu yang ditiup angin kencang pada suatu hari dimana angin bertiup kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan di dunia ini. Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh." (QS. Ibrahim: 18)
Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka itu laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga. Akan tetapi ketika ia mendatangi air itu ia tidak mendapati apa-apa sama sekali. Dan ia mendapati Allah disisinya. Lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungannya. (QS. An-Nur: 39)
Label:
Akhlak,
Pembelaan Iman,
Tafsir
|
0
komentar
Senin kemaren, sebagaimana kegiatan rutin saya yang tinggal di Bandung dan kerja di Jakarta, saya dan istri berangkat agak siangan ke Jakarta. Sampai di tol Cikunir jam sudah menunjukkan pukul 12 siang dan iseng-iseng kami akhirnya memutuskan untuk turun di pintu Tol Lebak Bulus mau mampir ke Pondok Indah Mall di jakarta Selatan. Tadinya sih mau jalan-jalan sambil liat –liat jadwal film kalau ada film yang menarik untuk ditonton, jadi kami bisa nonton sampai sore baru pulang ke Bintaro. Sekalian melaksanakan shalat Dhuhur dan ‘Ashar di mall, karena kami tahu Pondok Indah Mall punya musholla yang bagus dan bersih dilantai III. Setelah memarkir mobil dibasement, kami naik eskalator menuju mall. Di depan kami ada 2 orang cewek yang kelihatannya baru pulang kuliah. Satu hal yang membuat saya harus mengalihkan pandangan kearah lain adalah cara berpakaiannya. Istri saya kelihatannya punya pikiran yang sama, makanya dia berbisik :”Lihat tuh..pakai celananya ketat sekali sampai cetakan celana dalamnya kelihatan, sedangkan yang satu lagi pakai rok jeans mini…”. Kedua cewek tersebut berada di depan kami, dan karena itu adalah eskalator naik dan posisi mereka berada di atas saya, anda bisa membayangkan bagaimana gambaran yang sedang terpampang.
Saya harus mengalihkan pandangan dan menunduk sedalam-dalamnya karena memang ada perintah dalam Al-Qur’an. Kami lalu mengambil jalan menghindar dari arah kedua cewek tersebut agar saya tidak terus-terusan ‘terganggu’ dengannya. Ternyata dijalan yang lainpun sama saja, banyak perempuan memakai pakaian seksi, tanktop, celana pendek ketat, kaos ketat buntung, dll. Akhirnya malah selama jalan-jalan di mall saya harus menunduk terus…
Allah menyampaikan dalam Al-Qur’an [24:30] Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya”, dan sebagai seorang Muslim yang ingin sekali dikategorikan sebagai yang beriman, saya tentunya berusaha sekuat tenaga untuk mematuhinya, semata-mata karena Allah. Namun hidup dikota besar saat ini benar-benar membutuhkan perjuangan berat, bukan hanya jalan di mall, bahkan pulang kerumahpun, ketika saya mulai merebahkan diri ditempat tidur dan menyetel televisi, saya harus mengganti-ganti saluran agar bisa mendapatkan acara yang tidak membuat saya harus menjatuhkan pandangan. Selalu ada saja acara baik itu sinetron, infotainment, video clip, bahkan berita yang tidak terlepas dari wanita yang terbuka auratnya. Aturan Al-Qur’an terasa sangat menyiksa saya. Menurut saya, ini karena perempuan, baik sebagai muslimah ataupun bukan, tidak mejalankan aturan yang lainnya, yaitu : [24:31] Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya..“.
Label:
Akhlak
|
0
komentar
Sepasang suami istri datang menghadap hakim, mengadukan masalah mereka bahwa si suami berniat mau berpoligami. Islam mengajarkan bahwa poligami diperbolehkan dengan satu syarat si suami harus berlaku adil. Tentu saja kalau ukuran keadilan diserahkan kepada pasangan suami istri bakalan tidak akan ketemu ujungnya, mau berdebat 7 hari 7 malam-pun dipastikan tidak akan ada kata sepakat tentang apa yang dimaksud dengan keadilan. Maka satu-satunya jalan untuk memutuskan apakah si suami bakal berlaku adil atau tidak harus diserahkan kepada hakim.
Mendengar permasalahan yang dikemukakan, si hakim bicara kepada istri :”Kebolehan berpoligami memang tercatat jelas dalam Al-Qur’an sekalipun memiliki syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi. Apa boleh buat, mau ditafsirkan model apapun boleh yaa boleh, tidak bisa dibikin jadi tidak boleh atau mengharamkannya. Kalau ibu menolaknya sama saja artinya mengingkari aturan Allah yang sudah ditetapkan-Nya..”. Mendengar omongan Hakim, si suami langsung nyengir lebar.
Lalu Hakim berpaling ke pihak suami dan berkata :”Syarat untuk berpoligami adalah harus bisa bersikap adil. Kalau anda nantinya tidak mampu bersikap adil maka Rasulullah mengatakan suami yang tidak adil terhadap istri-istrinya akan dibangkitkan di hari kiamat dalam keadaan pincang/cacat. Pertanyaannya adalah menuju ke arah mana si pincang tersebut berjalan, yang pasti tidak akan ada orang cacat yang akan masuk surga karena kecacatannya dihapus oleh Allah. Di akherat pilihan kita cuma dua, kalau tidak ke surga , pasti ke neraka..". Mendengar omongan si hakim ini giliran istri yang nyengir lebar.
Label:
Akhlak,
Muamalah
|
0
komentar
Subscribe to:
Posts (Atom)






























