Loading

Labels

Jumlah Kunjungan

Artikel Terbaru MMT

Facebook Arda Chandra

Powered by Blogger.
Showing posts with label Pembelaan Iman. Show all posts
Showing posts with label Pembelaan Iman. Show all posts


Jaringan TV kabel HBO Amerika Serikat (AS) menayangkan film dokumenter yang mengisahkan kehidupan umat Islam di AS. Film berjudul The Education of Muhammad Hussein ditayangkan pada Senin 7 Januari 2014 malam. Film tersebut menceritakan kehidupan Mohammad Hussein (10 tahun) seorang siswa Muslim di kota Detroit yang menerima perlakuan diskriminasi oleh teman-teman di sekolahnya. ”Mereka mengatakan Muslim itu sebagaimana Mohammed Hussein, seorang siswa di Al-Ikhlas Training Academy kotor dan teroris,” tulis Detroit Free Press. Hussain menceritakan perasaan yang ditanggungnya selama ini. Ia getir dengan perlakuan terhadap komunitas Islam. Sejumlah orang di Detroit tak menerima kehadiran Muslim. Dalam adegan lain orang-orang itu mengatakan ” Mereka dapat meledakkan barang-barang kami , tapi kami tidak dapat membakar kitab suci mereka?” 

Bagian dari umat islam yang paling merasakan perlakuan buruk karena keyakinan mereka adalah kaum wanita. Mungkin ini disebabkan oleh beberapa hal : (1) Wanita memang kaum yang dianggap lemah dan tidak akan mampu melakukan pembalasan ketika mendapat perlakuan tidak menyenangkan (2) Wanita Muslim mudah dilihat ciri-cirinya yang membedakan mereka dengan wanita non-Muslim karena memakai jilbab dan burqa. Pada tahun 2006 - 2009 setidaknya ini dialami enam perempuan Muslim Jack Straw, dari Kejaksaan Tinggi, mengatakan bahwa ia meminta perempuan Muslim yang mengunjungi konstituensi di Blackburn untuk membuka jilbab mereka. Dalam satu insiden seorang perempuan Muslim berusia 20-an ditarik lepas jilbabnya dan dilemparkan ke tanah oleh seorang pria kulit putih sementara ia berada di stasiun Tube Canning Town di timur London. Serangan terjadi pada hari yang sama ketika seorang cadar perempuan Muslim dilepaskan dengan paksa dari wajahnya oleh seorang pria kulit putih yang mengucapkan kata-kata bermuatan pelecehan rasial saat ia menunggu di bus-stop di distrik Liverpool's Toxteth. Bahkan wanita muslimah ada yang sampai terbunuh ketika Marwa el-Sarbini, seorang keturunan Mesir yang ditikam berkali-kali oleh seorang kafir yang telah melakukan pelecehan sebelumnya dengan menarik lepas jilbab yang dikenakannya. Berita-berita ini -sekalipun sering dimuat - hilang bak angin lalu, diganti dan ditutupi dengan lontaran tuduhan yang menyebutkan Islam adalah agama kekerasan. 



Beberapa tahun lalu saya membeli kitab tafsir Al-Mishbah karya ustadz ahli tafsir Quraish Shihab, lengkap 15 jilid. Maksudnya tentu untuk dibaca, dipahami isinya, agar pengetahuan agama Islam yang saya miliki bisa lebih mendalam, agar kualitas keimanan saya bisa lebih hebat. Ketika saya mulai membaca dari jilid 1, mulai dari surat Al-Fatihah, hasilnya cuma mengantuk dan bosan. Kalau waktu itu anda ada disamping saya lalu menyuruh untuk mengulangi apa yang dibaca, kemungkian besar anda akan berhadapan dengan muka yang bengong, karena saya sendiri bingung mau menjelaskan apa. Kurang dari 10 halaman tafsir tentang Al-Fatihah tersebut, mungkin hanya 10 persen yang masuk ke otak. Alhasil diwaktu berikutnya, kitab tafsir Al-Mishbah yang sudah dibeli dengan mahal hanya menjadi pajangan di rak buku, berdebu karena lama tidak disentuh. Tahukah anda kapan akhirnya saya kembali membolak-balik kitab tersebut dan sampai sekarang tidak pernah berhenti membacanya..? 15 jilid tafsir Al-Mishbah sekarang ini ada disamping komputer, sering dibaca dan dibolak-balik mencari ayat-ayat tertentu. Bukan cuma itu, saya bahkan menambahnya dengan serangkaian kitab tafsir yang lain, ada tafsir Ibnu Katsir, tafsir Fi Zilali Qur'an karangan Sayyid Qutb, tafsir Jalalain, ditambah buku-buku Islam lain yang membahas soal hadits, sejarah Islam, Shirat Nabawiyah bahkan kamus bahasa Arab Al-Munawwir. 

'Kegilaan' ini dimulai ketika saya terpancing terjun terlibat dalam debat di forum-forum lintas agama yang banyak tersedia di internet. Awal mulanya hanya karena emosi disaat secara kebetulan saya iseng-iseng membaca-baca debat yang ada. Sebelumnya saya tidak begitu tertarik, alasannya karena 'takut terpengaruh' dan bisa menjadi murtad membaca argumentasi dari non-Muslim yang kelihatannya sudah terlatih mempelajari agama Islam di gereja mereka, mungkin materi pelajaran 'memelintir ayat Al-Qur'an' sudah menjadi kurikulum wajib di seminari-seminari sehingga pemahaman dan referensi mereka jauh lebih lengkap dibandingkan pengetahuan saya terhadap ajaran agama sendiri. Sekalipun saya tergolong Muslim 'asal-asalan' dengan pemahaman agama yang 'ala kadarnya', namun hati tidak rela membaca tulisan non-Muslim yang secara sembarangan menghina Allah, nabi Muhammad, ajaran Islam, Al-Qur'an dan hadits. 

Banyak dari tulisan yang saya baca telah memperlakukan ajaran islam secara tidak adil, memfitnah dan dari sudut pandang pengetahuan agama saya yang sangat kurang, jelas merupakan pelintiran. Belum lagi hujatan dan caci-maki yang menghina Allah serta nabi Muhammad dengan tuduhan-tuduhan yang tidak masuk akal, sampai saya membathin sendiri :"Kalau apa yang dituduhkan mereka tersebut memang benar, pasti saat ini ajaran Islam sudah lenyap karena ditinggalkan orang. Sebusuk-busuknya manusia, mereka tidak mungkin mengikuti suatu ajaran yang dituduh menyuruh memancung leher musuh dimanapun ditemui, menyiksa wanita, menghalalkan berbohong dan menipu, dst..", mana ada yang mau mengikuti ajaran seperti itu..? bahkan bandit yang paling keji-pun mikir-mikir mau jadi pengikutnya. Faktanya, bahkan gelombang manusia yang beralih memeluk Islam justru datang dari kalangan intelektual yang berpendidikan di Eropah dan Amerika, kebanyakan bukan melalui paksaan ataupun motivasi duniawi, tapi karena mereka berinteraksi dengan Al-Qur'an, hadits dan nilai-nilai Islam yang dipraktekkan oleh pemeluk-pemeluknya. 



Dalam perdebatan lintas agama, khususnya antara Islam dan Kristen, sering kita jumpai salah satu pihak mengutip ayat-ayat pada kitab suci pihak lain untuk membenarkan ajarannya, baik bagi pihak Muslim terhadap alkitab, maupun pihak Kristen terhadap Al-Qur’an. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan salah satu topik ‘favorit’ dari Kristen tentang adanya ayat-ayat Al-Qur’an yang mendukung tentang ketuhanan Yesus. Saya berharap bahwa apa yang saya sampaikan tidak ditanggapi dengan ‘kepala panas’ karena sebagai seorang Muslim, saya merasa punya hak untuk memberikan pembelaan iman, selain berguna untuk menjelaskan kepada pihak Kristen yang mungkin merasa benar tentang hal ini, maupun kepada sesama umat Islam yang bertanya-tanya. Apalagi topik ini sering diulang-ulang dalam berbagai forum debat, sekalipun sudah dijawab tapi tetap saja diulang kembali pada kesempatan yang lain. Saya tidak bermaksud mempermasalahkan apa yang tercantum dalam alkitab dan bagaimana penafsirannya, tapi lebih fokus untuk menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an yang telah dikutip. 

Biasanya ‘jurus’ yang umum dipakai oleh pihak Kristen yang berusaha mencari rujukan adanya ayat-ayat Al-Qur’an yang mengakui ketuhanan Yesus dimulai dengan surat al-Faatihah 6 :”Tunjukilah kami jalan yang lurus…”, lalu Kristen mengkaitkannya dengan ayat alkitab, Yoh 14:6 Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”. Pertautan antara 2 ayat ini bermaksud untuk mengatakan bahwa ‘jalan yang lurus’ yang selalu dimohonkan setiap Muslim, diulang-ulang dalam shalat fardhu adalah Yesus Kristus sendiri, sesuai dengan apa yang disampaikannya dalam alkitab.

Penjelasannya sebenarnya gampang, karena pihak Kristen memakai surat al-Fatihah untuk dijadikan dalil tentang ketuhanan Yesus, maka kita juga memakai ayat yang sama untuk membantahnya, ayatnya kita kutip saja secara lengkap untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan ‘jalan yang lurus’ tersebut : 

"Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat".



Ini juga merupakan pertanyaan yang sering diajukan oleh pihak non-Muslim yang tidak memahami konsep Islam soal kesesatan manusia. Al-Qur’an jelas menyatakan bahwa setiap kesesatan yang terjadi memang merupakan kehendak-Nya, dan apabila Dia berkehendak untuk menyesatkan manusia, tidak ada sesuatupun yang sanggup untuk menyelamatkan manusia tersebut : 

Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan. ‪(An-Nahl: 93) 

Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. ‪(Ibrahim: 4) 

dan siapa yang disesatkan Allah, niscaya tidak ada baginya seorangpun yang akan memberi petunjuk. ‪(Ghaafir: 33)‪ 

dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya. ‪(Al-Kahf: 17) 

Pernyataan Al-Qur’an ini sangat jelas, bahwa kesesatan yang dialami manusia merupakan ‘hasil kerja’ Allah sendiri yang memang mengehendaki manusia tersebut tersesat, dan ketika Dia sudah menyesatkan manusia, maka tidak ada kekuasaan apapun yang mampu memberikan pertunjuk agar manusia tersebut bisa diselamatkan. Menanggapi soal ini, biasanya non-Muslim akan langsung bereaksi :”Tuhan seperti apa yang telah membuat manusia tersesat..??”, lalu mulai ‘berpromosi’ untuk mengajukan alternatif konsep ketuhanan mereka dengan menyatakan :”Tuhan kami Maha Kasih, Dia selalu mengharapkan agar manusia yang tersesat untuk kembali, bahkan Dia mau mengorbankan diri untuk itu. Tuhan yang benar adalah Tuhan yang menyelamatkan ketika tahu ada manusia yang tersesat, bukan malah mempergunakan kekuasaan dan kehendak-Nya untuk menyesatkan manusia..”. Sampai disini logikanya terkesan benar, namun terbentur kepada satu pertanyaan :”Kalau bukan atas dasar kehendak dan kuasa Tuhan, lalu atas kuasa siapa seseorang bisa menjadi tersesat..?? atas kehendak siapa seorang manusia bisa tersesat..?? Apakah ada kekuasaan dan kehendak diluar kuasa dan kehendak Tuhan yang mempunyai kemampuan untuk itu..??”. Kalau dikatakan kesesatan seseorang diakibatkan oleh kehendaknya dan kuasanya sendiri, maka ini bertentangan dengan fakta, bahwa bisa terjadi seseorang yang telah berusaha untuk menyesatkan dirinya namun atas kuasa dan kehendak Allah, dia tetap tidak akan tersesat. Kalau dikatakan kesesatan manusia tersebut merupakan kehendak dan kuasa syaitan dan Iblis, maka apabila Tuhan berkehendak agar manusia tersebut tidak tersesat, kuasa dan kehendak syaitan dan Iblis tidak akan bisa direalisasikan. Ini adalah pikiran yang masuk akal dan terjadi dalam kehidupan sehari-hari. 



Tentang adanya kisah kaum terdahulu yang dimuat dalam Al-Qur’an merupakan satu topik yang juga sering dipermasalahkan oleh umat Kristen, karena banyak terdapat kesamaannya, baik dengan kisah yang dimuat dalam alkitab maupun tercantum dalam kitab-kitab apokripa, yaitu dikategorikan sebagai cerita rakyat (folklore) Yahudi yang tidak dimasukkan dalam ayat-ayat alkitab. Kita sampaikan saja contohnya : Kisah soal burung gagak yang dijadikan contoh oleh Qabil bagaimana cara menguburkan mayat Habil yang dibunuh (al-Maaidah 31) mirip dengan kitab Tradisi yahudi kuno tulisan Pierke rabbi Eleazer (150M-200M) dan Jewish Mishnah Sandhedrin 4:5 yg ditulis pada abad 2, kisah Nabi Sulaiman dan singgasana ratu Bilqis (an-Naml 17-44) berkesuaian dengan Tarqum II Ester yang ditulis abad ke-2 SM, kelahiran Maryam (Ali Imran 35-37) mirip dengan buku apokripa The Protevangelion’s James the Lesser 4:4, 5:9 dan 7:4, cerita nabi Ibrahim menghancurkan berhala (as-Saaffaat 91-97) sama dengan yang dimuat dalam cerita rakyat Yahudi abad II Masehi yang dikarang oleh Midrash Rabbah hampir 4 abad sebelum Al-quran, Isa Almasih bicara dalam ayunan (Maryam 29-30) persis informasi yang tercatat dalam buku apokripa/dongeng Mesir abad II yang berjudul :”First Gospel of the Infancy of Jesus Christ” (kitab pertama tentang masa kanak-kanak yesus Kristus), mukjizat yang dilakukan Isa Almasih (Ali Imran 49) menghidupkan burung pipit sama dengan buku apokripa/dongeng abad II yang berjudul “Thomas’s Gospel of The Infancy of Jesus Christ” (Buku Thomas tentang masa kanak-kanak Yesus Kristus), kisah kehamilan Maryam dan kelahiran Isa Almasih (Ali Imran 45-47 dan Maryam 19-21) sama dengan cerita alkitab pada Lukas 30-35. 

Perlu diketahui bahwa tidak ada seorang Muslimpun membantah beberapa cerita dalam Al-Qur’an mempunyai kesamaan dengan kisah yang terdapat dalam khazanah Yahudi, baik dalam maupun diluar alkitab, karena kenyataannya memang demikian. Islam mengakui nabi-nabi terdahulu yang datang dari kaum Yahudi, orangnya itu-itu juga dan tentu saja cerita mereka tetap sama. 

Apa itu dongeng, apa itu folklore atau cerita rakyat..?? Sejak SD kita umumnya telah mendapat pelajaran sastra, yang membahas tentang dongeng (para ahli soal ini biasanya menyebut istilah : Folklore). Masih terekam dalam ingatan bahwa guru SD kita pernah menjelaskan, dongeng terdiri dari beberapa jenis. Ada yang namanya : fabel, yaitu dongeng yang ada dalam masyarakat bersumber dari cerita tentang hewan, misalnya : sang kancil, burung gagak dan srigala, lalu ada yang namanya : legende, yaitu dongeng yang berhubungan dengan tempat-tempat tertentu, misalnya : kisah Sangkuriang di Tangkuban Perahu, Situ Bagendit, Loro Jonggrang, ada juga dongeng berasal dari cerita disekitar dewa-dewi yang dinamakan : mite, misalnya Dewi Sri, lalu ada dongeng yang dikembangkan dari kisah sejarah yang benar-benar terjadi dinamakan : sage, misalnya : Joko Tingkir, Ken Arok dan Ken Dedes, Hang Tuah. 



Peristiwa ini selalu menjadi topik yang ‘hangat’ dalam perdebatan lintas agama, bahkan termasuk juga di kalangan internal umat Islam sendiri. Bedanya mungkin kalau dalam konteks debat lintas agama, tujuannya tidak lain untuk menyampaikan penghinaan dan hujatan kepada pribadi Rasulullah. Sekalipun hal ini sudah dijawab berulang-ulang oleh umat Islam, namun tetap saja dipermasalahkan oleh pihak non-Muslim. Jawaban yang paling sering kita temukan adalah dengan mengkaji dan menganalisa sanad dari hadits yang menginformasikan bahwa ketika menikah, Aisyah berusia 6 tahun dan hidup serumah (diartikan telah melakukan hubungan suami istri) pada umur 9 tahun. Secara keseluruhan terdapat beberapa hadits yang mencatat jelas soal umur Aisyah ini, termasuk dalam shahih Bukhari dan Muslim, artinya kedua ahli hadits ini ketika mengumpulkan hadits, menemukan cerita yang sama dari beberapa orang, lalu ketika ditelusuri jalur periwayatannya, mereka berkesimpulan bahwa orang-orang yang terlibat dalam ‘menurunkan’ kisah tersebut layak dipercaya. Makanya Bukhari dan Muslim mencatat hadits ini dengan kategori shahih. Masalahnya, sekalipun ketika imam Bukhari dan imam Muslim memperoleh banyak sumber yang menceritakan umur Aisyah tersebut, jalur periwayatannya ternyata mengerucut kepada 1 orang, yaitu : Hisyam, yang lahir tahun 61H (jadi tidak bertemu dengan Aisyah yang wafat tahun 57H). Hisyam sendiri mendapatkan cerita tersebut dari bapaknya : Urwah bin Zubair, salah seorang sahabat yang hidup di jaman Nabi Muhammad SAW, dia memperoleh kisah tersebut sebagaimana yang diceritakan Aisyah kepadanya. Jadi sekalipun imam Bukhari dan Muslim menemukan banyaknya orang yang menceritakan hadits ini, sumbernya adalah 1 orang, melalui Hisyam, sebagai satu-satunya orang yang memperoleh informasi dari bapaknya Urwah. Redaksi hadits tersebut menunjukkan Aisyah bercerita kepada Urwah ‘face to face’, tidak ada orang lain, lalu beberapa tahun kemudian Urwah juga menceritakan ‘face to face’ kepada anaknya, Hisyam, setelah itu barulah Hisyam menyampaikan informasi kepada banyak orang. 



Dosa didefinsikan sebagai suatu perbuatan yang bertentangan dengan aturan Allah, tidak mengerjakan apa yang diperintahkan, atau sebaliknya mengerjakan apa yang dilarang. Anda tidak menjalankan shalat wajib 5 waktu, tidak puasa Ramadhan, tidak mengeluarkan zakat padahal sudah memenuhi persyaratan..?? itu namanya dosa, atau anda meminum khamar yang memabukkan, makan babi tidak dalam keadaan terpaksa, berzina, ngomongin tetangga..?? itu juga dosa. Masalahnya, bagaimana cara mengukur segala dosa tersebut sehingga membuat kita terjerumus kepada kekafiran..?? 

Silahkan didalami hati anda sendiri, apa sebenarnya alasan yang mendasari perbuatan dosa yang anda lakukan tersebut, karena bisa jadi bentuk perbuatannya sama, namun karena dasarnya berbeda maka anda bisa menetapkan diri anda sendiri apakah sudah kafir atau tidak. Dua orang yang sama-sama tidak mengerjakan shalat punya dasar yang berbeda, yang satu bilang :”Saya percaya kepada Allah dan nabi Muhammad, bahwa Dia memerintahkan shalat wajib 5 waktu untuk menyembah-Nya, tata-caranya dicontohkan oleh Rasulullah, saya yakin itu memang kebenaran yang datang dari Allah. Tapi gimana yaa.., saya sibuk dan sering tidak punya waktu, lagipula sering malas mengerjakannya”, maka anda termasuk Muslim yang berdosa. Orang yang lain menyampaikan alasan :”Saya ini Muslim, saya mengikrarkan shahadat, saya tidak shalat karena memang tidak percaya perintah tersebut datang dari Allah. Memang sih tercantum dalam Al-Qur’an, tapi saya meyakini Al-Qur’an tersebut hanya karangan Muhammad sekalipun dia mendapat ilham dari Allah. Perintah shalat yang disampaikannya merupakan aturan yang terkait dengan kehidupan Arab jaman dulu, sekarang sudah kedaluarsa dan tidak sesuai lagi dengan perkembangan jaman..”, maka sekalipun anda berteriak-teriak di depan umum mengucapkan kalimat shahadat, anda termasuk kafir. 



Islam adalah salah satu agama yang ajarannya sering menimbulkan salah sangka, terutama bagi orang-orang yang tidak mau mendalami maksud dari suatu perintah, dengan menggali berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an dan juga hadits yang memperkuatnya. Salah satu ajaran tersebut adalah soal : menolong Allah. Salah-sangka ini, terutama yang datang dari pihak non-Muslim (bahkan juga dari sebagian Muslim yang rada ‘minder’ dengan ayat-ayat Allah yang memerintahkan untuk ‘menolong Allah’ ini) berangkat dari cara berpikir yang ‘kelihatannya’ masuk akal : “Tuhan adalah sesuatu yang Maha Berkuasa, Maha Perkasa, dll maka Dia mampu melindungi diri-Nya sendiri, tidak butuh bantuan makhluk. Buat apa Tuhan menciptakan makhluk dan memerintahkan mereka untuk menolong-Nya dari serangan makhluk yang lain..??”. Jadi pikiran ini muncul dari logika : sesuatu yang membutuhkan pertolongan artinya dia adalah lemah. 

Dengan logika yang sama sebenarnya kita juga bisa melakukan pertanyaan balik, misalnya kepada umat Kristen :"Kalau memang Tuhan anda Maha Kuasa, lalu buat apa para pendeta atau pastor anda harus merajalela memasuki daerah pedalaman, wilayah miskin, bahkan sampai mengeluarkan uang untuk 'mengiming-imingi' para pengemis dan gelandangan agar bisa ditarik masuk agama anda..?. Mengapa tidak membiarkan saja roh kudus 'gentayangan' untuk mempengaruhi orang-orang agar mau menerima ajaran Kristen..?". Di satu sisi mereka 'rewel' mempermasalahkan adanya perintah Al-Qur'an agar setiap Muslim mau 'menolong Allah', disisi lain mereka melakukan hal yang sama, menolong Tuhan mereka untuk menyebarkan keyakinan yang mereka miliki.

Pertanyaannya adalah : ketika Allah memerintahkan seorang Muslim untuk menolong-Nya, apakah itu harus selalu dikatakan ‘Allah membutuhkan’, dan sebagai suatu kelemahan..?? Disini letak sumber kesalahannya… Semua orang sependapat bahwa Tuhan bukanlah sesuatu yang lemah, Dia Maha Perkasa, Maha Berkuasa, Dia menentukan segala-galanya, dan tentu saja tidak membutuhkan sesuatu-pun atau siapa-pun untuk menolong-Nya. Menolong dari apa..?? dari siapa..??. Semua ‘serangan’ kepada Allah pasti datang dari makhluk ciptaan-Nya dan Allah Maha Berkuasa terhadap makhluk-makhluk-Nya tersebut, pasti tidak satupun makhluk yang mampu untuk ‘menyerang’ Allah. Makanya kita tidak bisa menyebut tindakan makhluk terhadap Allah adalah ‘menyerang’, namun kata yang lebih tepat adalah ‘durhaka, menentang’ apa yang telah ditentukan Allah agar dilaksanakan oleh makhluk tersebut. 



Mungkin kita pernah bertanya kalau kita memang diciptakan Allah untuk melaksanakan penghambaan kepada-Nya, lalu mengapa harus ada ritual ibadah sunnah, selain pelaksanaan ibadah wajib..?. Ibadah sunnah adalah ritual dengan ketentuan ‘apabila dikerjakan mendapat pahala, kalau tidak dikerjakan tidak beresiko apa-apa’. Rasulullah mencontohkan selain shalat wajib 5 waktu, kita juga dianjurkan untuk shalat sunnah 2 rakaat sebelum Shubuh, 2 atau 4 rakaat sebelum Dhuhur, 2 rakaat setelah Dhuhur, 2 rakaat setelah Maghrib, dan 2 rakaat setelah ‘Isya. Lalu ada qiyamul lail (shalat malam) 8 rakaat ditambah witir 3 rakaat, shalat dhuha diwaktu pagi 2 sampai 8 rakaat. Selain puasa wajib di bulan Ramadhan, ada puasa sunnah Senin-Kamis, atau yang punya ‘hobby’ berpuasa bisa melaksanakan puasa Daud, sehari puasa sehari tidak. Ada infaq dan sadaqah selain zakat wajib, ada umroh selain kewajiban berhaji. Lalu kalau kita diciptakan ke dunia untuk menyembah Allah, mengapa tidak ditetapkan saja semua hal tersebut menjadi suatu kewajiban, toh banyak orang yang sanggup melakukannya secara konsisten…? 

Pemahaman kita terhadap ibadah sunnah tersebut bisa kita dapatkan ketika kita melakukannya, rasakan saja apa yang akan muncul dalam hati. Disaat melakukan ibadah wajib, maka dasar yang melandasi niat kita sering karena hal tersebut memang harus dilaksanakan, suka atau tidak suka, mengingat resiko yang harus diterima kalau kita tidak mengerjakannya. Tidak melakukan shalat wajib 5 waktu..?? ada perasaan berdosa yang muncul dalam hati. Tidak puasa Ramadhan tanpa alasan yang kuat..?? menyesal setengah mati lalu cepat-cepat minta ampun, demikian seterusnya. 



Pertanyaan yang ‘sangat manusiawi’ sering diajukan, terutama oleh non-Muslim terhadap ajaran Islam tentang nasib mereka kelak di akherat :”Kalau saya ini orang yang selalu berbuat baik, suka menolong orang tidak peduli apapun keyakinannya, dermawan dan sering membantu fakir miskin yang kesusahan, ramah dan tidak pernah menyakiti siapapun, apakah saya akan tetap masuk neraka karena bukan seorang Muslim..??”. 

Yang pertama kali saya beritahukan adalah jawabannya adalah : saya tidak tahu, maka kalau saya menjawab bagaimana nasib dia kelak di akherat, artinya itu bukan datang dari saya, tapi dari Allah yang Maha Mengetahui, istilahnya saya hanya mengcopy-paste jawaban dari pihak lain. Yang kedua, saya juga tidak berambisi mau mempesonakan orang lain dengan jawaban yang menyenangkan, lalu harus mengarang cerita agar saya memberikan jawaban sesuai harapan orang tersebut, itu sama saja namanya dengan menipu orang, pada dasarnya merugikan orang tersebut sekalipun mungkin hatinya senang mendengar apa yang saya sampaikan.. 

Saya kutip lengkap pernyataan Allah tentang nasib orang kafir yang selama hidupnya melakukan perbuatan baik di dunia : 

Orang-orang kafir kepada Tuhannya, amal ibadah mereka laksana debu-debu yang ditiup angin kencang pada suatu hari dimana angin bertiup kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan di dunia ini. Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh." (QS. Ibrahim: 18) 

Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka itu laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga. Akan tetapi ketika ia mendatangi air itu ia tidak mendapati apa-apa sama sekali. Dan ia mendapati Allah disisinya. Lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungannya. (QS. An-Nur: 39) 



Selama ini saya temukan ada 2 pertanyaan, terutama diajukan oleh non-Muslim terkait dengan aturan Allah mengharamkan setiap Muslim memakan daging babi : (1) kalau larangan tersebut dengan alasan babi adalah ‘rijs’ – kotor, bagaimana kalau teknologi sudah menemukan cara agar kekotoran yang dikandung oleh babi bisa dilenyapkan..? (2) dalam keadaan terdesak Allah membolehkan Muslim untuk memakan babi, lalu apakah babi yang sebelumnya haram menjadi halal karena kondisi tertentu..? 

Al-Qur’an memang menyatakan secara jelas bahwa alasan Allah mengharamkan kita untuk mengkonsumsi babi adalah karena ‘rijs’ – kotor. Istilah ‘rijs’ ini tidak diartikan hanya dalam konteks fisiknya saja, bisa berarti majazi/kiasan karena dalam ayat lain Allah juga menyatakan bahwa orang-orang musyrik yang saya yakin setiap hari mandi, gosok gigi, manicure, pedicure tetap disebut sebagai ‘rijs’ – kotor, maka istilah tersebut tidak hanya terkait soal kekotoran fisik saja, misalnya mengandung bibit penyakit, kuman, dll. Babi dikategorikan kotor karena ‘dikotorkan’ oleh Allah, maka selamanya akan berada dalam kondisi kotor yang membahayakan manusia yang memakannya. Katakanlah dulu orang ribut adanya cacing pita, lalu teknologi berhasil melenyapkan cacing pita dari tubuh babi, apakah kemudian babi menjadi bersih dan layak di konsumsi..??, tidak juga karena kemudian muncul flu babi. 

Setelah ilmu pengetahuan berhasil mengatasi flu babi, apakah babi menjadi layak dimakan..?? tidak juga karena kandungan lemak dan kolesterolnya membahayakan manusia dilihat dari ilmu gizi. Lalu orang kembali berkelit dan mengatakan :”Diatur saja jumlahnya untuk dimakan, disesuaikan dengan kebutuhan tubuh..”, lalu apakah babi kemudian menjadi layak dimakan..?? tidak juga karena penelitian menyebutkan terdapat pengaruh negatif mengkonsumsi babi terhadap perilaku si pemakannya, demikian seterusnya. 



Ketika anda sakit, anda lalu pergi ke dokter. Ditempat praktek dokter tersebut dia memerintahkan anda :"Silahkan berbaring.., buka baju..., buka mulut..", dan di mengobok-obok badan dan mulut anda untuk diperiksa. Apa yang akan anda lakukan..? tentu saja kita semua akan bersikap sama, pasrah dan menyerahkan diri. Setelah selesai diperiksa, pak dokter menulis resep obat sekian macam, diminum 3 kali sehari, sebelum atau sesudah makan. Apa reaksi anda..?? tentu saja anda tidak akan protes dan menantang si dokter untuk berdebat. 

Setelah semuanya selesai, anda mau pulang dan kembali menuju parkiran, ke mobil anda. Lalu si tukang parkir mendekati, dia memberikan perintah yang PERSIS SAMA dengan apa yang dilakukan si dokter tadi, menyuruh anda berbaring ditempat tidur yang sudah disediakannya dibawah pohon, menyuruh anda buka baju, buka mulut, lalu mengobok-obok mulut dan tubuh anda. Setelah itu dia menulis resep sekian macam obat, dengan dosis sekian, diminum 3 kali sehari. Apa reaksi anda..?? Saya jamin anda tentu akan protes dan tidak mau diperlakukan seperti itu oleh si tukang parkir, anda akan mendebat dan mempertanyakan semua yang dia perintahkan. 

Mengapa demikian..?? karena anda MENGAKUI OTORITAS dokter soal penyakit anda, dan sebaliknya TIDAK MENGAKUI otoritas si tukang parkir tentang hal yang sama. 



Seorang rekan non-Muslim keheranan bertanya :"Bagaimana caranya umat Islam membayangkan sosok Tuhan..?? bentuk apa yang muncul dalam pikiran anda ketika menyebut nama Allah..?? apakah berupa sesuatu bentuk abstrak, atau seperti asap, cahaya, atau berupa kekosongan..". Saya merasa ini pertanyaan wajar karena dia tidak pernah mendapat petunjuk bagaimana caranya kita 'melihat' Allah. Seorang Muslim mempunyai petunjuk jelas tentang hal ini ketika Rasulullah menyatakan agar kita jangan memikirkan (artinya termasuk tidak membayangkan) dzat Allah, tapi keberadaan/ eksistensi Allah bisa dipahami dengan memikirkan hasil ciptaan-Nya. 

Saya lalu menjawab :"Harap dibedakan 'tidak membayangkan sesuatu bentuk' dengan 'membayangkan sesuatu yang tidak berbentuk', jadi ketika saya menyebut asma Allah maka saya tidak berusaha membayangkan apapun, tentu saja tidak akan muncul bayangan apapun karena saya tidak membayangkannya. Yang muncul dalam pikiran adalah suatu wujud/eksistensi/keberadaan, memiliki sifat yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Kuasa, Maha Mendengar, Maha Adil, dll. Dia-lah yang akan menjawab segala do'a karena dengan sifat-Nya tersebut membuat tidak ada lagi batas antara saya dengan-Nya. Kalau anda berusaha membayangkan Tuhan maka tentu saja akan muncul bayangan, bahkan kekosongan juga merupakan hasil dari membayangkan sesuatu". 

Tidak membayangkan Allah merupakan perintah yang sangat gampang untuk dilaksanakan, kita tinggal berhenti untuk melakukannya. Makanya konsep ketuhanan Islam sangat mudah diterima oleh siapapun mulai dari orang yang berpikiran sederhana sampai yang cerdas. Keyakinan akan eksistensi Allah tanpa harus membayangkan sosok/bentuk-Nya sangat mudah diterima, semudah kita meyakini udara itu ada tanpa bisa mengetahui bagaimana bentuknya.