Loading

Labels

Jumlah Kunjungan

Artikel Terbaru MMT

Facebook Arda Chandra

Powered by Blogger.
Showing posts with label Tafsir. Show all posts
Showing posts with label Tafsir. Show all posts

Katakanlah anda sebagai orang-tua menginginkan anak anda yang masih SD berprestasi di sekolah, lalu anda mengatakan :"Nak.., kalau kamu bisa jadi juara tahun ini, ayah akan membelikan kamu lukisan asli karya Rembrandt yang harganya milyaran, untuk kamu pasang di dinding kamarmu..". Pertanyaannya : apakah iming-iming hadiah anda tersebut akan memacu si anak untuk berusaha menjadi juara..? Lukisan Rembrandt mungkin bernilai mahal, namun seorang anak SD lebih suka diberi hadiah Play Station keluaran terbaru, atau gadget paling mutakhir yang harganya jauh lebih murah, karena kebutuhan dan keinginan anak SD bukanlah sebuah lukisan mahal. 

Apakah untuk melatih seekor harimau peliharaan anda supaya bisa main sirkus, anda lalu mengiming-iminginya dengan seikat rumput disaat harimau tersebut berhasil menjalankan perintah..?? atau seekor lumba-lumba yang anda latih akan anda berikan handphone karena dia berhasil melakukan atraksi sesuai keinginan..?? Anda dipastikan sudah salah kaprah menilai keinginan dan kebutuhan hewan peliharaan anda kalau melakukan hal tersebut.. 

Janji surga juga demikian.... 

Ketika Tuhan menciptakan manusia, lalu menginginkan mereka untuk menjalani hidup dalam kepatuhan dan ketaatan kepada perintah dan larangan, janji surga seperti apa yang akan 'diiming-imingi'-Nya agar manusia bisa terdorong untuk mengikutinya..? Sebagai pencipta manusia, Tuhan tentu saja mengetahui apa yang ada dalam diri manusia, menyangkut kebutuhan dan obsesi manusia tersebut, karena Dia telah mendesainnya berdasarkan ilmu-Nya. Bahkan dipastikan Tuhan jauh lebih mengetahui manusia melebihi pemahaman manusia tersebut terhadap dirinya sendiri. Tuhan menciptakan kita lengkap dengan nafsu dan keinginan, lalu bagaimana mungkin ketika Dia menjanjikan surga, lalu Tuhan mengatakan :"Aku akan menjadikan kamu hidup seperti malaikat yang tidak punya keinginan lagi..". Siapakah manusia - yang sudah menjalani hidup lengkap dengan keinginan dan bisa merasakan nikmatnya ketika keinginan tersebut terpenuhi - merasa tertarik untuk hidup menjadi malaikat..?. Siapakah manusia yang selama ini bisa merasakan kenikmatan hubungan seksual akan terpesona ketika dijanjikan nanti tidak akan lagi punya keinginan tersebut, tidak kawin dan dikawinkan..? Kecuali kalau berhubungan seksual bukan sesuatu hal yang nikmat bagi manusia, tapi lebih berbentuk sebagai siksaan, maka janji 'tidak kawin dan dikawinkan' bisa dikatakan sebagai sesuatu yang didambakan. Kita bisa mengatakan bahwa Tuhan telah salah memberikan janji, seolah-olah Dia tidak tahu apa yang menjadi kebutuhan dan harapan hamba-Nya. 


Islam mengajarkan bahwa manusia ditempatkan ke dunia bukan untuk menjalankan kutukan, sebaliknya ini adalah kesenangan yang sementara , disampaikan Allah ketika Dia memerintahkan Adam dan Hawa untuk turun ke bumi : 

Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan". (Al-Baqarah: 36) 

Dan bagaimana bentuk kesenangan tersebut dijelaskan Al-Qur'an secara lebih rinci : 

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (Ali-Imran: 14) 

Ketika Allah menceritakan apa saja faktor yang bisa dijadikan kesenangan hidup manusia di dunia, Dia sama sekali tidak mengecam semua itu sebagai sesuatu yang salah, hina dan rendah. Jelas sekali kalau ayat tersebut menyatakan bahwa memang itulah bentuk-bentuk kesenangan manusia yang telah dianugerahkan Allah. Lalu disaat Allah mengiming-imingi kita dengan janji surganya, Dia seolah-olah mengatakan :"Bisa dirasakan toh.., bagaimana enaknya kalau kesenangan dan keinginan kamu terpenuhi..? Nah di surga akan kamu dapatkan yang lebih dari itu..". Selanjutnya kita hanya bisa membayangkan bagaimana nikmatnya kalau janji tersebut bisa kita peroleh. 

Janji surga dalam Islam sangat memenuhi kodrat kita sebagai manusia, sanggup memenuhi relung -relung hati, merasuk ke alam bawah sadar dan menyentuh segala obsesi yang mungkin ada. Ini ibarat anak SD dijanjikan gadget terbaru atau Play Station mutakhir yang memang sangat diimpi-impikannya. Janji tersebut lalu memberi dorongan positif kepada sikap kita untuk berusaha memenuhi segala persyaratan agar bisa memperolehnya. Kita lalu berusaha untuk menjadi hamba-Nya yang patuh, menjalankan segala perintah dan menjauhi semua larangan, mengisi setiap perbuatan dengan penuh pengharapan agar Allah meridhoi dan menerimanya. Maka ketika Allah menjanjikan surga, tempat segala keinginan terpenuhi (QS 16:31 dan QS 25:16) ini menunjukkan Allah sangat mengetahui manusia dengan segala keinginannya, janji yang diberikan-Nya sanggup memenuhi kebutuhan dan keinginan kita. 

Ada 'pembelaan diri' yang disampaikan ketika seseorang mengatakan :"Bagi saya kebahagiaan tertinggi adalah bisa hidup bersama Tuhan di surga, setiap hari menerima curahan rahmat dan anugerah-Nya. Tidak ada lagi kebahagiaan yang lebih tinggi dari itu..". Kita bisa bertanya :"Lalu dalam peranan sebagai apa anda harus menjalani keadaan tersebut..?", karena umat islam tentu saja akan menjalani hal yang sama, di surga akan hidup bersama Allah, setiap hari mendapat rahmat dan curahan kasih-sayang-Nya yang tidak terbatas, bahkan dalam Al-Qur'an dikatakan para penghuni surga akan diberikan kesempatan untuk melihat wajah Allah. Namun semua itu dijalankan dalam peranannya sebagai manusia lengkap dengan segala kodrat kemanusiaannya, bukan sebagai makhluk lain seperti malaikat. 

Apa enaknya jadi malaikat..?? makhluk yang tidak punya keinginan, yang artinya tidak pernah bisa merasakan kenikmatan ketika keinginan tersebut terpenuhi..?. Sesuatu dikatakan nikmat bukan karena anda tidak pernah merasakan gatal, tetapi ketika anda gatal, lalu anda bisa menggaruknya dengan bebas.  

Janji surga dalam Islam, bukan seperti mengiming-imingi harimau dengan seikat rumput..



Ada ungkapan yang sering sekali kita dengar yang berasal dari seorang kafir ketika bicara tentang takdir :"Sebelum semuanya terjadi Tuhan sudah menetapkan takdirnya, maka sikap saya yang tidak percaya kepada Tuhan jelas merupakan ketetapan-Nya juga. Lalu mengapa harus saya yang disalahkan dan dihukum kalau Dia memang sudah menetapkan saya menjadi orang kafir..?". 

Ketika melontarkan 'pembelaan diri' agar orang ini tetap bisa melanjutkan hidup dalam kekafirannya dan menyalahkan takdir - artinya menyalahkan Allah - atas pilihan hidup yang sedang dijalaninya, sebenarnya sudah terjadi kesalah-pahaman dalam melihat takdir. Awal mula takdir adalah menyatu dengan iradah/kehendak Allah, berada dalam ilmu Allah, artinya bersemayam dalam 'kecerdasan' Allah dan menyatu dengan eksistensi Allah. Islam mengajarkan bahwa kehendak Allah tersebut dicantumkan dalam suatu kitab yang dinamakan Lauh Mahfudz, suatu kitab yang mencatat semua peristiwa yang terjadi di alam semesta dari dulu, sekarang dan masa yang akan datang, Al-Qur'an menyatakan : "dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering.." (QS 6:59), dan dari sana mengalir menuju alam kehidupan semua makhluk. Bagaimana bentuk catatan yang ada dalam Lauh Mahfudz kita juga tidak tahu persis, apakah dalam bentuk tulisan seperti halnya kalimat dan sebuah buku, atau berbentuk program aplikasi yang memiliki rumus logika 'jika A maka B' lalu melakukan interaksi dengan proses kehidupan. Yang pasti keberadaan lauh Mahfudz tersebut sangat dekat dan 'menempel' dengan alam semesta, makanya diistilahkan sebagai suatu 'blueprint' yang nyata. 

Bisa dilihat bahwa takdir merupakan suatu proses yang bergerak dinamis dan bukan bersifat statis. Kita bisa mengibaratkan bahwa takdir itu seperti sebuah film dan bukan merupakan potret, sekalipun ketika 'dipreteli', suatu gulungan film sebenarnya merupakan rangkaian potret yang diputar secara cepat dan menghasilkan gambar yang bergerak. Pernyataan orang kafir tentang takdir Allah tersebut merupakan suatu kesalahan ketika memperlakukan sebuah film seperti melihat potret, ini menjadi kesalahannya yang pertama. 



Persoalan tentang asal-mula nama 'Allah' ini sudah banyak didiskusikan orang, bukan hanya dikalangan internal umat Islam saja, tapi perbedaan pemahaman yang sengit juga terjadi di intenal agama samawi lainnya seperti Kristen. Hal ini dikarenakan untuk sebagian pemeluk Kristen terutama mereka yang berbahasa Arab, nama 'Allah' ini juga dipakai untuk menjadi nama generik (proper name) Tuhan mereka, dan ini sudah terjadi jauh sebelum agama Islam datang. Tulisan ini berusaha untuk melihat asal-mula nama 'Allah' berdasarkan sumber Islam, yaitu Al-Qur'an dan mengajukan pikiran logis untuk mengungkapkan mengapa nama tersebut dipakai dalam ajaran Islam. 

Al-Qur'an memberikan informasi bahwa sebagai suatu sebutan, nama 'Allah' sudah diucapkan sejak manusia pertama. Kita memang tidak menemukan sebutan ‘Allah’ keluar dari mulut nabi Adam dan Hawa termasuk juga ketika Al-Qur’an bercerita tentang penciptaan manusia dan kehidupan kedua nenek moyang umat manusia tersebut ketika berada di ‘jannah’. Satu-satunya sebutan Tuhan yang ada, hanyalah kata ‘rabb’, yaitu bahasa Arab dari nama jabatan Tuhan : 

Keduanya berkata: "Ya Tuhan (rabb) kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. (Al-A'raaf 23) 

Kita juga tidak menemukan nama diri ‘Allah’ tersebut keluar dari mulut Iblis maupun malaikat pada peristiwa itu. Para malaikat dicatat menyebut kata ganti orang pertama ‘Engkau’ dan Iblispun juga demikian, selain menyebut ‘Engkau’ juga menyebut kata ‘Rabb - Tuhan’ sebagai nama jabatan. Apa rahasia dibalik ini..?? Apakah waktu disurga dan ketika Adam dan Hawa diturunkan ke bumi, Allah belum memperkenalkan nama-Nya..?? 



Peristiwa awal-mulanya kejatuhan Adam dan Hawa ke dunia merupakan kisah yang sangat menarik, bukan hanya dalam khazanah Islam, tetapi juga agama samawi lainnya seperti Yahudi dan Kristen. Namun kalau dilihat gaya bahasa Al-Qur’an dalam menceritakan kisah ini, kalimat-kalimatnya sangat membuka peluang untuk penafsiran, mulai dari pemakaian kata bahasa Arab, susunan kalimat, maupun hubungan antara satu kelompok ayat dengan kelompok lainnya. Keterbukaan penafsiran kisah ini anehnya tidak membuat maksud dan tujuan Al-Qur’an sebagai kitab petunjuk terhadap eksistensi Allah menjadi tidak jelas. Apapun penafsiran yang dimunculkan, muaranya tetap saja kepada satu hal, bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Kuasa, Maha Tahu dan Maha Pengampun, sedangkan manuia adalah makhluk-Nya yang lemah, cenderung berbuat salah dan ujung-ujungnya kembali menyerahkan diri kepada Allah untuk meminta ampunan. 

Al-Qur’an sendiri menceritakan kisah ini terpencar sebanyak 7 kali dalam 7 surat, yaitu : Al-Baqarah 30-39, Al-A’raaf 11-25, Al-Hijr 26-42, Al-Kahfi 50, Al-Isra’ 61-65, Thaaha 115-124 dan Shaad 71-85. Inti dari kisah tersebut bisa dilihat, baik melalui penggabungan semua ayat maupun dibaca secara sendiri-sendiri, pengulangan tidak diartikan menyampaikan fokus kisah yang sama karena setiap rangkapan ayatnya memiliki kekhususan masing-masing. 

Satu hal yang membedakan pemahaman Islam dengan ajaran Yahudi dan Kristen, ‘terlemparnya’ umat manusia untuk hidup di dunia ini bukanlah merupakan suatu kutukan. Ayat Al-Qur’an yang menginformasikan hal tersebut hanyalah menjelaskan adanya beberapa perubahan yang dialami oleh Adam dan Hawa. Setelah terjadinya pelanggaran, Allah lalu memerintahkan mereka untuk turun ke dunia dengan menyebutkan bagaimana kondisi yang akan dialami mereka dan anak-keturunan, bahwa manusia di dunia akan bermusuhan satu sama lain (QS 2:36), (QS 7:24) dan (QS 20:123), namun sebaliknya dikatakan juga pada ayat yang sama, manusia juga akan menjalani kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan, mempunyai tempat kediaman dan tetap akan mendapatkan petunjuk dari Allah. Pada banyak ayat lain, Al-Qur’an menyebutkan juga bahwa kehidupan di dunia adalah ‘kesenangan yang menipu’ (QS 57:20) dengan segala rejeki, harta, emas perhiasan, anak keturunan (QS 13:26), (QS 18:46), ( 57:20), (QS 9:55) dan banyak ayat lainnya, sehingga membuat orang-orang yang terlena dengannya akan lebih mementingkan kehidupan dunianya dibandingkan apa yang akan diperoleh di akhirat (QS 2:212), (QS 30:7), (QS 76:27), intinya tidak ada satu ayatpun yang menyatakan hidup di dunia ini penuh ketidak-enakan, sengsara dan hasil dari suatu kutukan. Sebaliknya penggambaran kondisi ‘jannah’ tempat Adam dan Hawa sebelumnya digambarkan bukan sebagai suatu yang berkontradiksi dengan apa yang dialami mereka di dunia. Ketika Allah memerintahkan mereka untuk tinggal di ‘jannah’ setelah masa penciptaan mereka, Allah menyatakan bahwa ditempat tersebut : tersedia makanan yang baik lagi banyak (QS 2:35), bisa dimakan dimanapun mereka sukai (QS 7:19), tidak akan kelaparan, dahaga, ditimpa panas matahari dan telanjang (QS 118-119). 



Ketika kita berbicara tentang istilah ‘ummi’ yang disematkan kepada Rasulullah maka fokus perdebatan biasanya bermuara kepada beberapa hal. Umumnya pihak non-Muslim akan menyatakan dan mempertanyakan kebenaran seorang nabi Muhammad yang ‘ummi’, mereka mengartikan kata ini dengan ‘tidak bisa baca tulis’ alias ‘buta huruf’. Dilihat dari sejarah hidup beliau rasa-rasanya tidak mungkin nabi Muhammad merupakan orang yang buta huruf. Beliau adalah ‘manager’ yang sukses mengelola perusahaan milik Siti Khadijah, berinteraksi dengan masyarakat sampai ke negeri Syam, mosok tidak ada niat sedikitpun untuk membaca tulisan-tulisan yang ditemuinya dipasar-pasar..? Boleh jadi Rasulullah memang tidak bisa baca-tulis sampai usia tertentu, lalu koq bisa tetap ngotot untuk tidak belajar membaca dan menulis sampai akhir hayatnya..?, Lha..mbok-mbok pembantu rumah-tangga saja bisa melek huruf dengan mengikuti Kejar paket A atau B, bagaimana mungkin Rasulullah mau ‘memandegkan diri’ untuk tidak belajar sampai tua..? 

Motivasi non-Muslim mengajukan hal ini setahu saya bertujuan untuk membuktikan bahwa dengan kemampuan Rasululah yang bisa membaca dan menulis, maka terbuka kemungkinan Al-Qur’an adalah merupakan karangan beliau, yang ditulis berdasarkan referensi yang pernah dibaca dari kitab-kitab yang ada. “Arahan moncong senjata’ selanjutnya bisa ditebak, akan ada ‘masukan-masukan’ tentang nabi Muhammad yang sering nongkrong di perpustakaan milik Waraqah bin Naufal, seorang Kristen yang hidup dijaman itu, yang dikatakan oleh hadist telah menerjemahkan kitab Injil kedalam bahasa Arab. Berdasarkan hasil kunjungan ke perpustakaan inilah Rasulullah kemudian memunculkan ide tentang ajaran Islam dan Al-Qur’an, begitu perkiraan ‘input’ yang akan diberikan. 

Sebaliknya pihak Muslim menolak keras tuduhan ini, mereka bersikukuh menyatakan bahwa Rasulullah yang ‘ummi’ artinya tidak pernah sekalipun bersentuhan dengan tulisan ataupun bacaan, agar keyakinan tentang kemurnian Al-Qur’an sebagai wahyu Allah bisa dijaga. 



Perlu disampaikan terlebih dahulu, pengetahuan kita tentang malaikat, khususnya umat Islam, berpedoman kepada informasi yang disampaikan dalam Al-Qur’an dan hadits, karena keduanya memang berasal dari Allah yang Maha Tahu, Al-Qur’an adalah wahyu dengan redaksi kalimat yang sepenuhnya berasal dari Allah, sedangkan hadits adalah wahyu yang redaksi kalimatnya berasal dari Rasulullah, namun keduanya adalah wahyu juga (dengan catatan hadits yang dimaksud memang berasal dari ucapan Rasulullah). Sebagai seorang Muslim, kita tidak mengetahui tentang malaikat diluar jalur tersebut. Mungkin saja ada yang mengenal malaikat melalui kontak langsung misalnya Lia Aminuddin yang mengaku nabi dan menikah dengan malaikat Jibril, atau juga banyak orang yang menyatakan diri sebagai wali atau orang sakti karena mengaku telah bertemu malaikat, namun baiknya hal tersebut kita abaikan saja. 

Informasi Al-Qur’an dan hadits menyatakan malaikat diciptakan Allah dengan desain sebagai makhluk yang dimuliakan : 

Dan mereka berkata: "Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak", Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan, (Al-Anbiyaa': 26) 

Bentuk kalimat ‘makhluk yang dimuliakan’ adalah kalimat pasif, artinya kemuliaan malaikat bukan merupakan hasil dari tindakan bebas mereka untuk menjadi mulia, tapi karena memang sudah ‘dicetak’ seperti itu. 

Penjelasan Al-Qur’an yang lain tentang sosok malaikat misalnya : Malaikat selalu mentaati perintah Allah dan tidak pernah bermaksiat kepada-Nya (QS 21:27), menjalankan kewajiban yang penting seperti menyangga ‘arsy (QS 69:17) mengatur urusan yang terkait kehidupan manusia (QS 79:5), mengambil nyawa manusia dan makhluk hidup lain (QS 7:37), sebagai pengawas dan pencatat perbuatan manusia (QS 82:10-12). Semua penjelasan tersebut menunjukkan malaikat berfungsi sebagai ‘instrument’ yang melengkapi kehidupan manusia, sebagai ‘perpanjang-tangan’ Allah dalam interaksi-Nya dengan manusia. 

Malaikat tidak mempunya nafsu, Al-Qur’an menceritakan bahwa mereka tidak memiliki nafsu untuk makan dan minum melalui kisah kedatangan mereka kepada nabi Ibrahim dan menolak makanan yang disodorkan beliau (QS 11:69-70). Dalam suatu pernyataannya Ali bin Abi Thalib menyatakan :“Tidak ada kelelahan dan kelalaian di dalam diri mereka, serta tidak pula ada penentangan … Rasa kantuk tidak pernah terlihat pada wajah-wajah mereka, dan akal mereka tidak akan pernah berada dalam kekuasaan hawa nafsu dan kelalaian. Badan mereka tidak pernah diselimuti oleh rasa lelah, dan mereka pun tidak pernah berada dalam sulbi seorang ayah dan rahim seorang ibu.” 



Saya ingat cerita guyonan ayah saya ketika masih kecil dulu tentang lailatul qadar. Seseorang terbangun tengah malam dimasa-masa akhir bulan Ramadhan untuk melakukan shalat tahajud, dia pergi kepancuran air yang ada diluar rumah untuk berwudhu. Agar tidak basah kena air, maka orang tersebut melepas kopiahnya dan menggantungkan di dahan sebuah pohon. Ketika wudhu selesai dan dia menjulurkan tangan bermaksud meraih kopiah dari dahan pohon dengan mata tertutup karena masih basah oleh air, namun kopiah tidak ada ditempat semula. Ketika orang ini membuka matanya, ternyata dahan pohon tempat kopiahnya tergantung sudah berpindah tempat, membengkok kearah lain. Malam itu lailatul qadar, langit yang tadinya gelap gulita mendadak terang-benderang, langit terbuka, malaikat turun kebumi berbondong-bondong, dan semua makhluk termasuk pohon tadi, bersujud kearah kiblat, makanya dia tidak menemukan kopiahnya ditempat semula, ikut-ikutan terbawa dahan pohon yang sedang bersujud tersebut. 

Cerita ini mempengaruhi persepsi saya tentang lailatul qadar sampai sekarang, bahwa malam istimewa tersebut ditandai dengan fenomena alam yang bisa dilihat semua orang, yang kebetulan terjaga pada waktu itu. Alam semesta memperlihatkan diri secara menakjubkan dan malaikat yang turun kebumi bisa disaksikan dengan mata telanjang, sampai kemudian saya merenung di Masjidil Haram di bulan Ramadhan tahun ini. Pada umumnya semua orang yang datang untuk melakukan umroh dibulan puasa kesana mengharapkan bisa bertemu dengan lailatul qadar, bisa menjadi saksi saat-saat beberapa menit malam yang penuh berkah tersebut, bernilai lebih dari seribu bulan. Jadwal kegiatan di Masjidil Haram sangat mendukung agar kita bisa bertemu dengan lailatul qadar. Mulai dari maghrib ketika berbuka puasa dan melakukan shalat, lalu dilanjutkan dengan shalat ‘Isya dan tarawih sampai jam 11 malam, pada sepuluh hari terakhir ketika Rasulullah memberi petunjuk lailatur qadar akan terjadi pada masa-masa tersebut, kegiatan ibadah ditambah lagi mulai jam 1 tengah malam untuk bertahajud bersama-sama sampai jam 3 pagi, tidak berapa lama shubuhpun datang. 



"Makanan berguna untuk kelangsungan hidup anda, makanan bisa menghasilkan energi untuk anda beraktifitas, kalau anda tidak makan dalam waktu yang lama, anda bisa dalam bahaya. Namun dari berbagai jenis makanan, terdapat makanan yang berkolasterol tinggi, seperti jeroan, dll. Kalau anda tidak punya ketahanan tubuh untuk menerima makanan tersebut, lebih aman kalau anda makan makanan jenis lain, seperti daging, kolasterolnya lebih rendah. Namun kalau anda juga punya tubuh yang rentan, mungkin berpotensi tinggi terhadap diabetes dan darah tinggi, sebaiknya anda makan yang lebih aman, sayuran dan ikan-ikan. Itu lebih baik dan sehat buat anda". 

Logisnya, sekalipun anda termasuk punya tubuh yang kuat, mungkin karena anda adalah olahragawan terlatih, anda tentu memprioritaskan untuk makan makanan yang paling aman, yaitu sayuran dan ikan. Tetapi suatu waktu anda juga bisa mengkonsumsi makanan berkolasterol tinggi karena beberapa alasan, antara lain : 

1. Anda merasa tubuh anda SANGGUP untuk mengkonsumsinya.. 
2. Bisa juga karena SELERA (NAFSU) makan anda mendorong anda sehingga sekalipun mengerti apa resikonya, jeroanpun anda sikat juga. 
3. Bisa juga karena anda BUTUH makan makanan beresiko tinggi tersebut, karena aktifitas anda memang membutuhkan masukan makanan yang berenergi tinggi. 
4. Bisa juga karena makanan tersebut sudah diletakkan diatas meja, kalau ada tidak memakannya akan membusuk dan mengganggu lingkungan, sedangkan anda TIDAK PUNYA ALTERNATIF untuk membuangnya. 



Kebiasaan orang-orang yang mempertanyakan ajaran Islam tentang pernyataan Allah yang menyesatkan manusia adalah dengan mengambil ‘ujung’ dari suatu ayat, memotong-motong ayat lalu mengajukan pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban :”Jadi dalam Islam, Allah-lah yang menyesatkan manusia. Bukan main.., mengapa Tuhan anda tidak memberikan kasih-Nya agar manusia yang tersesat itu bisa diselamatkan..??”. Sudah jelas, orang yang bertanya tidak akan membutuhkan jawabannya karena sasaran sudah tercapai, menyampaikan tuduhan bahwa Islam mengajarkan Allah menyesatkan manusia yang dikehendaki-Nya, buktinya memang ada kalimat yang persis sama dalam Al-Qur’an menyatakan hal tersebut. 

Penjelasan soal ini sebenarnya mudah, dibaca saja ayatnya dengan lengkap, maka kita akan menemukan bahwa pernyataan ‘Allah menyesatkan siapapun yang Dia kehendaki’ merupakan ‘ujung’ dari suatu penjelasan. Sebelumnya Allah memberikan informasi tentang kelakuan manusia yang memilih sikap untuk menentang dan durhaka kepada Allah. Misalnya saja surat al-An’am 3 yang menyatakan ‘Barangsiapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya), niscaya disesatkan-Nya’, merupakan ujung dari penjelasan pada kalimat sebelumnya ‘Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah pekak, bisu dan berada dalam gelap gulita’, artinya : bagi anda yang memilih untuk mendustakan ayat-ayat Allah maka anda akan dibikin pekak, bisu, buta oleh Allah, maka Allah berdasarkan pilihan anda tersebut telah memberikan ketetapan untuk menyesatkan anda. 



Islam adalah salah satu agama yang ajarannya sering menimbulkan salah sangka, terutama bagi orang-orang yang tidak mau mendalami maksud dari suatu perintah, dengan menggali berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an dan juga hadits yang memperkuatnya. Salah satu ajaran tersebut adalah soal : menolong Allah. Salah-sangka ini, terutama yang datang dari pihak non-Muslim (bahkan juga dari sebagian Muslim yang rada ‘minder’ dengan ayat-ayat Allah yang memerintahkan untuk ‘menolong Allah’ ini) berangkat dari cara berpikir yang ‘kelihatannya’ masuk akal : “Tuhan adalah sesuatu yang Maha Berkuasa, Maha Perkasa, dll maka Dia mampu melindungi diri-Nya sendiri, tidak butuh bantuan makhluk. Buat apa Tuhan menciptakan makhluk dan memerintahkan mereka untuk menolong-Nya dari serangan makhluk yang lain..??”. Jadi pikiran ini muncul dari logika : sesuatu yang membutuhkan pertolongan artinya dia adalah lemah. 

Dengan logika yang sama sebenarnya kita juga bisa melakukan pertanyaan balik, misalnya kepada umat Kristen :"Kalau memang Tuhan anda Maha Kuasa, lalu buat apa para pendeta atau pastor anda harus merajalela memasuki daerah pedalaman, wilayah miskin, bahkan sampai mengeluarkan uang untuk 'mengiming-imingi' para pengemis dan gelandangan agar bisa ditarik masuk agama anda..?. Mengapa tidak membiarkan saja roh kudus 'gentayangan' untuk mempengaruhi orang-orang agar mau menerima ajaran Kristen..?". Di satu sisi mereka 'rewel' mempermasalahkan adanya perintah Al-Qur'an agar setiap Muslim mau 'menolong Allah', disisi lain mereka melakukan hal yang sama, menolong Tuhan mereka untuk menyebarkan keyakinan yang mereka miliki.

Pertanyaannya adalah : ketika Allah memerintahkan seorang Muslim untuk menolong-Nya, apakah itu harus selalu dikatakan ‘Allah membutuhkan’, dan sebagai suatu kelemahan..?? Disini letak sumber kesalahannya… Semua orang sependapat bahwa Tuhan bukanlah sesuatu yang lemah, Dia Maha Perkasa, Maha Berkuasa, Dia menentukan segala-galanya, dan tentu saja tidak membutuhkan sesuatu-pun atau siapa-pun untuk menolong-Nya. Menolong dari apa..?? dari siapa..??. Semua ‘serangan’ kepada Allah pasti datang dari makhluk ciptaan-Nya dan Allah Maha Berkuasa terhadap makhluk-makhluk-Nya tersebut, pasti tidak satupun makhluk yang mampu untuk ‘menyerang’ Allah. Makanya kita tidak bisa menyebut tindakan makhluk terhadap Allah adalah ‘menyerang’, namun kata yang lebih tepat adalah ‘durhaka, menentang’ apa yang telah ditentukan Allah agar dilaksanakan oleh makhluk tersebut. 



Lumrahnya dalam menerjemahkan sebuah buku, nama-nama orang yang tercantum didalamnya tidak akan ikut diterjemahkan. Misalnya novel karangan Ian Fleming yang sangat terkenal dan diterjemahkan ke berbagai bahasa ‘James Bond’, ketika dialih-bahasakan ke dalam bahasa Indonesia, nama James Bond tersebut tidak di-Indonesia-kan menjadi ‘James Ikatan’ atau juga ‘James Obligasi’. Bisa saja semua kata dan kalimat dalam dalam didalamnya diterjemahkan namun ketika menyangkut nama orang, tetap akan memakai bahasa aslinya. Karakter lain yang ada dalam novel tersebut misalnya sekretaris kantor dinas rahasianya yang bernama ‘Moneypenny’ tidak akan diterjemahkan menjadi ‘Uang Receh’. Ketika kita bercerita tentang Goerge Bush dalam bahasa Indonesia maka kita tidak akan memanggilnya ‘George Semak’, atau misalnya bicara tentang senator terkenal AS ‘Barry Goldwater’ lalu menyapanya dengan ‘Barry Banyumas’, atau juga memanggil Mr. Longhouse dengan panggilan ‘Sutan Rumah Panjang’. Sama juga halnya ketika nabi Muhammad diwahyukan tentang kisah orang-orang jaman dahulu, terutama tentang nabi-nabi bangsa Yahudi, maka nama-nama mereka tidak akan dialih-bahasakan ke dalam bahasa Arab, bahasa yang dipakai Allah dalam mewahyukan Al-Qur’an. Nama Musa, Daud, Sulaiman, Zakaria, Yahya dan Isa Almasih tetap dipakai dengan bunyi sama seperti nama-nama tersebut dipanggil oleh bangsa Yahudi dalam bahasa mereka, mungkin terjadi perbedaan logat, namun itu hal yang lumrah, sama saja misalnya ketika orang Indonesia melafahdzkan nama-nama George, Barry, James, dll logatnya tentu berbeda dengan orang Inggeris atau Amerika dalam membunyikannya. 

Demikian pula dengan nama ‘Allah’….. 

Saya sendiri tidak menemukan kata ‘Allah’ keluar dari mulut nabi Adam dan Hawa termasuk juga ketika Al-Qur’an bercerita tentang penciptaan manusia dan kehidupan kedua nenek moyang umat manusia tersebut ketika berada di ‘jannah’. Satu-satunya sebutan Tuhan yang ada, hanyalah kata ‘rabb’, yaitu bahasa Arab dari nama jabatan Tuhan : 

Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. (al-A’raaf 23) 



Al-Qur’an menyebutkan bahwa surga merupakan sesuatu yang ‘diwariskan’ kepada orang-orang yang beriman dan bertaqwa, beberapa ayat yang menyatakan hal tersebut antara lain pada surat az-Zukhruf 72 al-Mu’minuun 10-11. Arti kata ‘waris’ umumnya dimaknai sebagai ‘sesuatu yang seharusnya dimanfaatkan oleh seseorang namun karena satu suatu sebab pemanfaatannya dialihkan kepada orang lain’, maka muncul pertanyaan :”Jadi milik siapa seharusnya surga yang telah diwariskan kepada orang beriman tersebut..?”. 

Para ulama menafsirkan bahwa semua manusia sebenarnya telah disediakan Allah ‘kapling’- nya masing-masing di surga maupun di neraka. Disaat manusia tersebut memilih untuk beriman dan bertaqwa kepada Allah maka ketika dia masuk surga terjadi ‘serah-terima’ kapling yang sudah disediakan tersebut, ditambah dengan kaplingan orang lain yang bernasib sial tidak dapat memanfaatkannya. Mengapa orang lain tersebut tidak bisa memiliki surga yang sudah disediakan buat dirinya..?? karena dia telah memilih untuk ingkar kepada Allah sehingga masuk ke neraka, maka serah-terima terjadi untuk bagiannya di neraka yang memang sudah disediakan. Lalu karena tempat orang beriman di neraka tidak diisi disebabkan dia masuk surga, maka kaplingannya tersebut diwariskan kepada orang yang ingkar dan berdosa. Makanya dalam ayat yang lain Allah mengatakan : Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga. ‪(Ar-Rahmaan: 46). Bahkan Allah menginformasikan surga yang diwariskan kepada orang yang beriman dan bertaqwa tersebut lebih dari satu : Dan selain dari dua surga itu ada dua surga lagi ‪(Ar-Rahmaan: 62)‪. 



Pertanyaan yang ‘sangat manusiawi’ sering diajukan, terutama oleh non-Muslim terhadap ajaran Islam tentang nasib mereka kelak di akherat :”Kalau saya ini orang yang selalu berbuat baik, suka menolong orang tidak peduli apapun keyakinannya, dermawan dan sering membantu fakir miskin yang kesusahan, ramah dan tidak pernah menyakiti siapapun, apakah saya akan tetap masuk neraka karena bukan seorang Muslim..??”. 

Yang pertama kali saya beritahukan adalah jawabannya adalah : saya tidak tahu, maka kalau saya menjawab bagaimana nasib dia kelak di akherat, artinya itu bukan datang dari saya, tapi dari Allah yang Maha Mengetahui, istilahnya saya hanya mengcopy-paste jawaban dari pihak lain. Yang kedua, saya juga tidak berambisi mau mempesonakan orang lain dengan jawaban yang menyenangkan, lalu harus mengarang cerita agar saya memberikan jawaban sesuai harapan orang tersebut, itu sama saja namanya dengan menipu orang, pada dasarnya merugikan orang tersebut sekalipun mungkin hatinya senang mendengar apa yang saya sampaikan.. 

Saya kutip lengkap pernyataan Allah tentang nasib orang kafir yang selama hidupnya melakukan perbuatan baik di dunia : 

Orang-orang kafir kepada Tuhannya, amal ibadah mereka laksana debu-debu yang ditiup angin kencang pada suatu hari dimana angin bertiup kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan di dunia ini. Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh." (QS. Ibrahim: 18) 

Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka itu laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga. Akan tetapi ketika ia mendatangi air itu ia tidak mendapati apa-apa sama sekali. Dan ia mendapati Allah disisinya. Lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungannya. (QS. An-Nur: 39) 



Salah satu istilah yang sering salah dimengerti orang tentang kedudukan hukum-hukum Allah yang ditetapkan-Nya bagi manusia adalah tentang dikotomi ‘hablumminallah’ dan ‘hablumminannas’, bahwa ketika mereka menyebut ‘hablumminallah’ itu berarti suatu perbuatan yang semata-mata berhubungan dengan peribadatan kepada Allah berupa shalat, puasa dan haji, sebaliknya kalau menyangkut ‘hablumminannas’ artinya suatu perbuatan yang terkait dengan sesama manusia, misalnya soal berbuat baik, hukum pidana dan perdata, aturan kesopanan berpakaian dan bertingkah-laku, hidup bertetangga, sampai kepada aturan bernegara dan bermasyarakat secara umum. 

Salah kaprah berikutnya soal kedua istilah ini adalah, tata-cara ‘hablumminallah’ sudah diatur secara baku dan tidak boleh dirobah baik bentuknya maupun waktunya, misalnya aturan shalat wajib 5 kali sehari semalam dengan rakaat yang tetap dan waktu yang tetap, puasa wajib harus di bulan ramadhan mulai dari terbit fajar sampai matahari terbenam. Sebaliknya urusan ‘hablumminannas’ merupakan tata-cara yang terkait tempat dan konteksnya, termasuk harus berpedoman kepada budaya setempat. Maka tata-cara hidup bertetangga di Arab berbeda dengan di Indonesia, bahkan ada yang berani menafsirkan aturan hukum pidana dan perdatanya juga bisa berubah-ubah sesuai nilai-nilai yang dianut pada tempat dan waktu tertentu. Lalu diambil kesimpulan hukuman potong tangan bagi si pencuri atau qishash untuk si pembunuh hanya sesuai diterapkan pada konteks jaman dahulu, sedangkan saat sekarang yang sudah menganut nilai-nilai HAM, aturan tersebut sudah tidak tepat diberlakukan. Memakai jilbab merupakan cara yang cocok dipakai dijaman Arab jahiliyah karena kedudukan wanita yang rentan dengan bahaya hegomoni kaum laki-laki, sedangkan jaman sekarang tidak diperlukan lagi karena adanya paham kesetaraan gender. 



Katakanlah ada seorang penulis buku, saya ambil contoh Karl Marx, dedengkot kaum komunis kelas dunia. Marx suatu ketika memiliki gagasan/ide tentang komunisme, sebagai suatu reaksi yang ada dalam pikirannya melihat ketimpangan masyarakat yang menganut paham kapitalisme yang sangat memeras dan memperalat kaum buruh. Sebelum gagasan/ide tersebut dituangkannya dalam sebuah buku yang kelak diberi judul Das Kapital, maka isi buku tersebut masih tersimpan di kepalanya, orang bilang masih dalam bentuk sinyal-sinyal listrik yang bekerja di otak Marx, belum berbentuk tulisan, huruf A, B, C, dst. Jadi kalau waktu itu kepala Karl Marx anda bedah, tidak bakalan ketemu susunan huruf tersebut disana. Sampai saatnya dedengkot komunisme ini merasa memiliki waktu dan kesempatan untuk menuangkan gagasan/ide tersebut kedalam sebuah buku, maka dia mulai menulis. Yang akan terjadi adalah gagasan/ide tersebut yang sebelumnya masih berbentuk sinyal-sinyal listrik yang ada di kepala Marx, disebarkan (saya tidak mengistilahkan : dipindahkan) ke dalam susunan huruf yang memiliki makna, membentuk kata dan kalimat, maka yang terjadi adalah gagasan/ide tersebut terkandung dan termuat dalam buku, yang diberinya judul : Das Kapital, isinya berbicara soal ide komunisme dan sosialisme sebagai reaksi dari paham kapitalisme yang mencengkeram masyarakat pada waktu itu. 

Apakah karena buku sudah mengandung gagasan/ide yang sebelumnya ada di kepala Marx tersebut, lalu kita mau mengatakan gagasan/ide yang ada dalam kepala sudah hilang..?? sudah pindah tempat ke dalam buku..?? Tentu saja tidak, gagasan/ide tersebut masih ada di kepala Marx, sekalipun dia sudah menulis dan ‘memasukkannya’ ke dalam buku. Ide tersebut disimpan dalam bentuk susunan huruf A,B,C, tersusun menjadi kata dan kalimat yang bermakna, bukan berbentuk sinyal-sinyal listrik seperti yang terdapat dalam kepala. 

Seratus lima puluh tahun kemudian, anda mendapatkan buku tersebut, katakanlah merupakan buku asli yang ditulis langsung oleh Karl Marx, lalu anda membacanya. Perlu diketahui, ketika anda membaca buku tersebut, si Marx sudah mati, maka gagasan/ide Komunisme dalam bentuk sinyal-sinyal listrik yang ada di kepalanya juga sudah lenyap, sudah padam. Anda baca bukunya, dan melalui susunan huruf yang membentuk kata dan kalimat tersebut anda lalu ‘menyerap’ makna, artinya gagasan/ide yang dikandung dalam susunan huruf tersebut telah ‘tersebar’ ke dalam otak anda, lalu gagasan/ide tersebut disimpan dalam bentuk sinyal-sinyal listrik. Membaca dan memahami diartikan anda sedang melakukan interaksi dengan si pemilik gagasan/ide tersebut, maka sekalipun Karl Marx sudah mati dan bukunya masih ada, anda tidak dikatakan sedang berinteraksi dengan buku, namun sedang melakukan ‘koneksi’ dengan si pengarangnya. 



Sebagian orang bertanya tentang adanya hadits Rasulullah yang menyatakan ‘Tak seorangpun diantara kalian dimasukkan oleh amalnya ke dalam surga dan tidak pula diselamatkan dari neraka begitu pula aku, kecuali dengan rahmat dari Allah’, padahal pada ayat-ayat Al-Qur’an banyak disebut kalau surga diperoleh dengan iman dan amal saleh. Selama ini tuduhan yang dialamatkan kepada umat Islam, mereka dicitrakan sebagai sekelompok orang yang sedang menghitung-hitung amal saleh yang dilakukan, apakah sudah memenuhi syarat untuk masuk surga atau belum, ibaratnya sopir angkot yang sudah ditetapkan target oleh juragannya, lalu ketika target sudah tercapai maka si juragan ‘tidak punya pilihan lain’ untuk memberi hadiah atas prestasinya. Hadits ini mementahkan anggapan tersebut, baik berupa tuduhan dari pihak non-Muslim maupun bagi kalangan Muslim yang memang punya pemahaman demikian. Rasulullah jelas menyatakan ‘bukan amal saleh kita yang akan memasukkan kita ke dalam surga’. 

Lalu bagaimana hubungan hadits tersebut dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang menyatakan surga itu diperuntukkan bagi hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh. Kita tidak perlu membahas soal syarat keimanan karena pikiran logis sudah bisa menerimanya, tanpa iman tidak akan masuk surga.. 

Sekarang saya tanya, apabila diselenggarakan suatu pertandingan sepakbola, dan anda sebagai salah seorang ‘bobotoh’ atau ‘bonek’ yang ingin menikmati kegembiraan dalam stadion, menyaksikan secara langsung pertandingan tersebut, apakah anda bisa masuk stadion tanpa memiliki tiket..?? Tentu saja tidak bisa. Tiket merupakan suatu lambang yang mengandung ‘kekuasaan yang didelegasikan’ oleh pihak penyelenggara, bahwa dengan memilikinya artinya si penyelenggara memberikan kesempatan kepada anda untuk masuk stadion. Tanpa tiket, anda tidak bisa masuk stadion. Lalu untuk memperoleh tiket tersebut anda tentu saja harus punya uang, dan uang bisa anda peroleh kalau anda berusaha untuk mendapatkannya. Berikutnya anda harus antri membeli tiket tersebut, tanpa adanya usaha anda untuk mengantri maka logikanya anda tidak akan mendapatkan tiket. Maka dikatakan, tidak seorangpun bisa masuk stadion menonton sepakbola kalau tidak ada tiket, tidak peduli anda punya duit berapapun dan mengantri di tempat penjualannya mulai dari pagi. 



Supaya jangan sampai salah paham perlu saya beritahukan sebelumnya, bahwa informasi tentang hal ini bukan berdasarkan pengalaman pribadi karena saya belum pernah beranjangsana ke alam kematian, juga bukan berdasarkan cerita dari teman yang pernah travelling kesono. Setahu saya belum pernah ada seorangpun yang pernah jalan-jalan ke alam barzakh, lalu kembali lagi menceritakan pengalamannya. Semua informasi berdasarkan apa yang diberitahukan Allah dan Rasul-Nya lewat Al-Qur’an dan Hadits. 

Titik awal manusia bersinggungan dengan alam kematian diistilahkan oleh ajaran Islam sebagai ‘sakharatul maut’, suatu kondisi dikatakan hidup, tapi sudah tidak hidup lagi karena jasad sudah tidak berfungsi, dibilang mati juga belum karena belum dimasukkan ke alam barzakh, tempat roh, atau jiwa, atau apapun istilahnya, menunggu sampai nanti dibangkitkan di akherat. Makanya dalam kondisi ini, sekalipun dikatakan belum masuk ke alam barzakh, namun segala perhitungannya sebagai manusia sudah tidak berlaku lagi, taubat sudah tidak diterima karena pintu kehidupan sudah ditutup. 

Al-Qur’an menyatakan disaat itulah Allah membukakan tabir alam ghaib, orang-orang bertaqwa mampu melihat ribuan malaikat turun mendekati, mengelilingi, dan berucap :”Jangan takut, jangan sedih dan khawatir, bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan Allah, didalamnya kamu akan mendapatkan segala apa yang kamu inginkan”, lalu para malaikat tersebut menyampaikan tugasnya :”Kami menjadi pelindungmu..”. Ternyata dalam keadaan sakharatul maut, seorang yang bertaqwa sudah diberitahukan tentang nasibnya kelak di akherat, bahwa dia akan dimasukkan kedalam surga. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan kita kalau diberitahukan :”Nanti kamu akan dapat hadiah..”, sekalipun hadiah belum ditangan namun perasaan senang dan bahagia pasti sudah muncul. 



Beberapa tahun lalu tersebar di internet foto-foto ‘sebuah’ mayat yang baru dibongkar dari kubur. Ceritanya itu adalah jenazah seorang anak muda yang masih segar, normal dan mulus. Karena ayah si pemuda tersebut meragukan hasil diagnosa penyakit yang menyebabkan anaknya meninggal, maka mereka memutuskan untuk menggali kembali kuburan si anak muda 3 jam setelah dilakukan pemakanannya. Yang ditemukan ternyata sangat mengejutkan, bisa dilihat dari foto-fotonya. Mayat si anak menjadi rusak, diilustrasikan dengan kalimat ‘tampak jelas bekas siksaan dan pukulan yang amat keras dan dengan tulang-tulang kaki dan tangan yang hancur begitu juga ujung-ujungnya sehingga menekan ke badannya, seluruh badan dan mukanya memar, matanya yang terbuka memperlihatkan ketakutan, kesakitan dan keputus-asaan’. Lalu dikatakan bahwa itulah bukti adanya siksa kubur. Saya berpikir sungguh luar-biasa siksa kubur ini, sampai bikin mayat babak-belur seperti itu. 

Kisah saya pindahkan ke sebuah museum di Mesir yang menyimpan mayat Fir’aun Ramses II yang diceritakan sebagai Fir’aun yang hidup dijaman nabi Musa, ditenggelamkan Allah dilaut pada peristiwa eksodus kaum Yahudi. Si Fir’aun ini tercatat dalam Al-Qur’an sebagai model manusia yang sangat ingkar kepada Allah, menyatakan dirinya sebagai Tuhan dan menyiksa kaum Yahudi. Kalau diperbandingkan dosa-dosa si Fir’aun dengan dosa anak muda tadi, saya yakin kelakuan anak muda tersebut tidak ada apa-apanya. Ternyata mayat Fir’aun tersebut tidak disiksa seperti yang dialami si anak muda tadi. Mayatnya ‘tidur manis’ dalam ruang museum, utuh ribuan tahun, terbaring dalam ruang yang nyaman ber-A/C. Tidak ada bekas-bekas babak-belur dihajar malaikat di dalam kuburnya selama ribuan tahun tersimpan dibawah piramida. Apakah Fir’aun tersebut tidak mengalami siksa kubur..?? 



Ayat Al-Qur’an yang menyatakan bentuk antropomorfisme dari Allah sudah menjadi perdebatan sengit dari jaman dahulu, terutama antara kelompok Mu’tazilah dan Asy’ariyah. Kita bisa menemukan pernyataan Al-Qur’an bahwa Allah memiliki al-'ain (telinga), al-wajh (wajah), dan al-yad (tangan) disamping juga Dia dikatakan al-istiwa' (bersemayam) diatas ‘arsy. Kaum Asy’ariyah mengartikan penjelasan ini apa adanya namun dengan ketentuan ‘tidak diketahui bagaimana’ (bila kaifa), maksudnya mereka menerima bahwa Allah mempunyai wajah, tangan, dan bersemayam diatas ‘arsy, namun jangan berpikiran bagaimana bentuknya, memperbandingkan dengan wajah, tangan, telinga yang terdapat pada makhluk, juga jangan membayangkan posisi Allah bersemayam dengan membandingkan seorang raja bersemayam di singgasananya. 

Untuk memperjelas soal kata ‘wajah, tangan, bersemayam’ ini bisa saya kemukakan kata yang sama dan dipakai dalam kalimat dengan kondisi yang berbeda. Kita mengenal kata ‘wajah peradaban Barat’ misalnya yang menjadi judul buku karangan Adian Husaini, atau juga istilah ‘wajah kemiskinan ibukota’, atau juga ‘tangan kekuasaan’, dll. Sekalipun memakai kata yang sama namun jangan diartikan kata ‘wajah’ yang dimaksudkan dalam kalimat ‘wajah peradaban Barat’ sama bentuknya dengan wajah manusia yang punya mata, hidung, mulut, alis, jidat, dll. Demikian juga kalau kita bicara soal ‘tangan kekuasaan’, jangan diartikan seperti tangan manusia yang punya jari, kuku, telapak, dll. Bentuknya tentu saja harus disinkronkan dengan eksistensi sesuatu yang disandangnya. 



Apa itu kejahatan..?? apa itu kebaikan..??, Sesuatu hal kita bilang sebagai ‘jahat’ atau ‘baik’, karena KEMANUSIAAN KITA MEMBERI NILAI kepada sesuatu sebagai jahat dan baik. Mengapa perbuatan menipu, merampok, berzina, mencaci-maki, dikatakan sebagai perbuatan jahat..?? sebaliknya mengapa perbuatan : menolong, membantu, ramah, sopan, dikatakan sebagai perbuatan baik??? Karena dalam batas kemanusiaan kita, semua hal tersebut sudah kita beri nilai baik dan jahat. 

Ketika semua atribut itu kita ‘cantelkan’ kepada Tuhan, apakah anda pikir masih mempunyai ‘nilai’ yang sama..?? makanya saya bilang : apakah sesuatu yang kita nilai sebagai baik, adalah baik dan apakah sesuatu yang kita nilai sebagai jahat akan bernilai sama kalau itu kita kaitkan dengan tindakan Tuhan..??. Seseorang bisa saja berkata :"Saya sangat kaya dan berkuasa, semua orang bisa saya beli dan atur sesuai kehendak saya", maka perkataan manusia tersebut dikategorikan sebagai suatu bentuk kesombongan. Lain soal kalau kalimat yang sama, atau lebih dahsyat, diucapkan oleh Tuhan :"Aku Maha Kaya, Aku Maha Berkuasa..", mana bisa perkataan Tuhan tersebut kita kategorikan sebagai kesombongan..??. Manusia membunuh manusia lain adalah kezaliman, sedangkan tindakan Tuhan mematikan manusia bukan suatu kezaliman. 

Maka semua tindakan Tuhan tidak tepat kalau dibagi kepada dikotomi baik dan buruk, kita hanya bisa mengatakan bahwa apapun yang dilakukan oleh Tuhan itu adalah tindakan yang ilahiyah (godly thing) dan Tuhan tidak mungkin melakukan tindakan yang tidak ilahiyah (ungodly thing). Tindakan keilahian tidak sama dengan kebaikan dalam perspektif manusia, sebaliknya tindakan tidak ilahiyah tidak bisa disejajarkan dengan keburukan dalam perspektif kemanusiaan. Dalam Al-Qur’an disampaikan bahwa semua ciptaan Allah tidak ada yang sia-sia, dengan hikmah, bukan main-main dan dengan hak.