Links
Labels
- Akhlak (25)
- Al-Qur'an (30)
- Aqidah (9)
- Demokrasi (5)
- Dunia Islam (42)
- Hadits (1)
- Ibadah (16)
- Kontra Liberalisme (15)
- Muamalah (20)
- Pembelaan Iman (13)
- Pemikiran Islam (53)
- Sejarah Islam (6)
- Syari'at (14)
- Tafsir (23)
Popular Posts
Jumlah Kunjungan
Arsip
- January 2025 (1)
- November 2024 (1)
- March 2024 (1)
- October 2019 (1)
- February 2018 (92)
- January 2018 (1)
- April 2014 (1)
- March 2014 (6)
- December 2013 (3)
- November 2013 (3)
- October 2013 (4)
- September 2013 (8)
- May 2013 (1)
- April 2013 (1)
- March 2013 (3)
- February 2013 (2)
- December 2012 (2)
- November 2012 (2)
- October 2012 (5)
- September 2012 (2)
- August 2012 (5)
- July 2012 (14)
- June 2012 (18)
- May 2012 (54)
Artikel Terbaru MMT
-
Gagal Pahamnya Kristen Dalam Memahami Istilah Malaikat Tuhan - *Oleh : Fachrudin.* Adanya keyakinan Kristen tentang Allah bisa menjelma dan akhirnya bisa melakukan inkarnasi, yang menurut mereka hal tersebut adalah s...
-
Arsip kajian Islam - *بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ* Assaamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Keberadaan orang orang yang ingin menghancurkan Islam dengan berbagai ...
-
Diskusi Arda Chandra dan Wawan Kardiyanto; Kewajiban memakai Jilbab.. - Bermula dari status Wawan Kardiyanto yang memuat berita tentang Najwa Shihab yang tidak memakai jilbab, lalu dia menulis komentar : YANG JARANG DIPAHAMI ...
-
Atasi Krisis Air, ACT Siapkan 237 Truk Tangki Berisi Air - Tim Emergency Response Aksi Cepat Tanggap untuk Bencana Kekeringan, menyiapkan 237 truk tanki berisi air bersih untuk didistribusikan ke beberapa wilayah...
-
Perkataan Nabi Menjadi Bumerang Untuknya? - * Oleh Surya Yaya* Seorang Penghujat Islam membuat tulisan dengan judul :Sesumbar-sesumbar Muhammad yg menjadi bumerang bagi dirinya 1) Kalau dia mengada-...
-
Persoalan nabi Muhammad meninggal karena diracun - *Pertanyaan :* Berdasarkan hadits Bukhari dalam versi bahasa Inggeris ini : *Narrated 'Aisha: The Prophet in his ailment in which he died, used to say, "O...
-
Pembinaan Mualaf Perlu Pahami Psikologis Dan Siap Berkorban Waktu - Pembinaan mualaf yang kurang optimal ditenggarai akibat perhatian umat Islam yang kurang, selain itu juga disebabkan minimnya inovasi atau pembaruan tekni...
-
Ebook 'Combat Kit' By Penjaga Kitabullah - Assalamualaikum wr wb, saudara-saudaraku umat Islam sekalian….. Alhamdulillah Kompilasi seluruh judul Notes sudah dapat saya selesaikan, silahkan di down...
-
-
Powered by Blogger.
Showing posts with label Ibadah. Show all posts
Showing posts with label Ibadah. Show all posts
Disebutkan dalam peristiwa sejarah bahwa Imam Ali bin Abi Thalib pada sebagian peperangan terluka karena terkena anak panah. Anak panah itu menghujam hingga menyentuh tulangnya. Meski telah diusahakan untuk mencabut anak panah tersebut namun tidak kunjung berhasil. Orang-orang berkata, “Hanya tatkala daging dan kulitnya dicabut dan tulang dipatahkan, anak panah tersebut akan dapat dicabut.” Para sahabat berkata, “Apabila demikian adanya, kita harus bersabar hingga tiba waktu shalat karena tatkala menunaikan shalat sedemikian larut dalam shalat sehingga beliau tidak tahu-menahu tentang kondisi di sekelilingnya.” Mereka pun bersabar menantikan hingga beliau menunaikan shalat. Setelah beliau menunaikan shalat dan mengerjakan sunnah-sunnah shalat, beliau mulai mengerjakan shalat-shalat sunnah. Tabib datang, menarik daging, mematahkan tulang dan mencabut anak panah tersebut dan Ali masih tetap khusyu' mengerjakan shalat. Tatkala beliau memberikan salam, beliau berkata, “Sekarang lukaku agak ringan.” Orang-orang berkata, “Anda telah menjalani pengobatan sementara Anda tidak mengetahuinya.” Imam Ali berkata, “Pada waktu itu, aku tengah bermunajat kepada Allah Swt, sekiranya dunia terbalik atau orang-orang memukulkan paku dan tombak maka hal itu tidak akan mengusik munajatku kepada Allah Swt.” (diadaptasi dari Tafsir Kasyf al-Asrar Maibad, tercantum juga dalam beberapa buku : rsyad al-Qulub Dailami, al-Anwar al-Nu’maniyah, al-Manaqib al-Murtadhawiyah, Hilyat al-Abrar, Muntaha al-Amal, al-Mahajjat al-Baidha demikian juga pada buku-buku fikih seperti al-Urwat al-Wutsqa)
Entah cerita tersebut benar atau tidak, karena tidak terdapat pada kitab-kitab hadits derajat pertama seperti : Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, dll. namun barangkali ini untuk menunjukkan bagaimana konsentrasinya Ali bin Abi Thalib ketika melakukan shalat sehingga bisa melupakan keadaan yang terjadi disekitarnya. Ini mungkin dianalogikan ketika kita asyik dengan suatu pekerjaan, lalu kita sampai lupa makan atau beristirahat.
Seorang teman pernah bergurau tentang kisah ini, dia berkata ;"Saya juga pernah melakukan shalat seperti itu, memfokuskan diri melupakan apapun yang ada disekeliling, hanya ada diri dengan Allah, berdialog berdua saja diruang hampa. Saking konsentrasinya, saya malah lupa sudah sampai rakaat berapa...".
Apa yang dimaksud shalat khusyu'..?? bagaimana kita bisa memastikan kalau shalat yang kita lakukan sudah mencapai tingkatan khusyu' atau setengah khusyu' atau sama sekali belum khusyu'..? Para 'ahli' shalat sampai perlu untuk membuat pelatihan soal ini, bahkan harus membayar biaya sekian juta 'untuk mengganti sewa ruangan pelatihan'. Pelatihan tersebut bertujuan untuk 'menghadirkan Allah dihadapan kita', begitu kira-kira bahasanya. Entah bagaimana hasilnya, saya tidak tahu..
Label:
Ibadah
|
0
komentar
Pernahkah anda sekali waktu mencoba melakukan 'diet ketat' terhadap akhlak anda dalam akitifitas sehari-hari, katakanlah hanya untuk 1 hari saja anda 'memaksa' diri untuk 100% menjadi hamba Allah yang taat. Dalam sehari tersebut anda selalu tersenyum ketika menghadapi sikap atau peristiwa yang tidak menyenangkan, menyatakan kepada diri sendiri bahwa itu adalah ujian dari Allah, atau keberuntungan sebagai faktor penghapus dosa, menghindar ketika ada pandangan yang bisa mengundang syahwat baik di televisi maupun di dunia nyata, memakan makanan dengan rasa syukur atas karunia yang diberikan Allah, mengucapkan perkataan yang menyenangkan orang lain, banyak membantu meringankan beban orang disekitar, tidak berlaku curang disaat ada kesempatan, beribadah dengan 'kualitas terbaik' semisal shalat berjamaah ke masjid, sedang melakukan puasa sunnah Senin-Kamis, bahkan juga tidur dengan terlebih dahulu meminta ampunan atas dosa-dosa yang mungkin dilakukan siang harinya. Pokoknya anda merasa ketika sudah mulai terbaring untuk beristirahat, ada keyakinan selama sehari penuh anda telah berusaha keras mendisiplinkan diri untuk menjadi hamba Allah yang saleh, dan sebaliknya percaya bahwa sedikit sekali berbuat sesuatu yang tidak disukai Allah, kalaupun ada maka anda sudah cepat-cepat beristighfar dan mohon ampunan-Nya.
Lalu pada dua pertiga malam anda bangun untuk melakukan shalat tahajud..
Barangkali disaat itulah kita bisa merasakan Allah itu sangat dekat, seolah-olah membayangkan Dia 'tersenyum' menerima kita bersujud pada saat orang-orang lain tertidur, berimajinasi tentang Tuhan yang sedang membangga-banggakan hamba-Nya kepada para malaikat, seakan-akan Allah berkata kepada kita : "Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya..." (Al-Fajr 27-28)
Pada saat lain anda mungkin melakukan hal yang sebaliknya. Seharian berbuat tidak baik, lepas kontrol dalam berucap, mata 'dibiarkan' untuk menikmati pemandangan yang mengundang syahwat, berbohong, memelihara kedengkian dan iri hati kepada orang lain dan tidak berusaha untuk beristighfar, banyak membuang-buang waktu, membelanjakan uang untuk sesuatu yang tidak berguna dan mubazir. Katakanlah anda tetap menjalankan ritual ibadah wajib seperti shalat 5 waktu namun dengan hati yang terpaksa. Lalu dimalam hari anda kelelahan dan tertidur.
Dan anda bangun pada dua pertiga malam untuk melakukan shalat tahajud... Apakah kita masih 'ge-er' berimajinasi kalau disaat itu Allah masih 'tersenyum'..? apakah ada dalam bayangan anda Dia membangga-banggakan anda dihadapan para malaikat..? membuka 'tangan-Nya' menyambut hamba yang terbaik..?
Label:
Ibadah
|
1 komentar
Beberapa bulan belakangan saya selalu menyempatkan diri untuk shalat shubuh ke mesjid di dekat rumah. Dulu sebenarnya saya sering juga melakukan shalat ke mesjid, baik diwaktu shubuh maupun maghrib dan ‘Isya, bahkan kalau lagi ‘mood’ dan ada kesempatan, shalat dhuhur dan ‘ashar pun saya lakukan juga di mesjid. Namun beberapa bulan kemudian kemalasan kembali melanda, rasanya sangat berat untuk melangkahkan kaki, kalau sudah demikian biasanya otak mulai ‘jalan’ untuk mencari-cari alasannya. Yang paling ‘masuk akal’ adalah : percuma ibadah dilakukan dengan memaksakan diri, toh..akhirnya sekalipun shalat di mesjid tapi selalu dengan hati terpaksa, lebih baik shalat di rumah karena bisa dilakukan tanpa ada perasaan terpaksa, ibadahnya tentu ‘lebih berkualitas’…
Sekarang saya mulai lagi menyempatkan diri ke mesjid, khususnya untuk shalat shubuh, karena dari kelima shalat wajib, hanya shalat shubuh-lah yang tidak mempunyai alasan yang masuk akal untuk tidak dilakukan di mesjid, kecuali karena ngantuk atau tidur. Ketika waktu dhuhur di siang hari ataupun ‘ashar di sore hari sudah tiba, kita masih punya banyak alasan, biasanya karena masih bekerja di kantor atau ditempat lain sehingga berhalangan untuk mendatangi mesjid. Ketika waktu maghrib dan ‘isya datang, kita masih bisa punya alasan baru sampai dirumah setelah capek bekerja seharian. Namun untuk shalat shubuh, apa alasan kita untuk tidak dilakukan di mesjid..?? sebelum shubuh kita sudah beristirahat cukup panjang (kecuali buat pekerja malam seperti ronda, keamanan, maling, prostitusi, termasuk bagi yang suka dugem, dll), sebenarnya ketika bangun setengah jam sebelum shubuh, kemungkinan besar kita masih mampu.
Satu-satunya halangan untuk tidak pergi ke mesjid di waktu shubuh adalah karena ‘pingin menambah jam tidur’, cuma itu satu-satunya alasan. Makanya setiap azan shubuh selalu ada tambahan seruan :”Shalat itu lebih baik daripada tidur..” – asshalaatukhairul mina annaum…”. Di Masjidil Haram dan masjid Nabawi, jamaah selalu penuh melakukan shalat shubuh berjamaah, padahal kedua masjid tersebut gedenya bukan main. Di negeri kita, di kota manapun, di RT manapun (umumnya di daerah mayoritas Muslim, mesjid/musholla ada disetiap RT) jamaahnya nggak cukup satu shaf (sekitar 20 s/d 25 orang). Mungkin karena seruan azan ‘asshalaatukhairul minaan naum’ di Arab Saudi dan di negeri kita berbeda, kalau disono seruan ‘naum’nya pendek, kalau dinegeri kita seruannya dipanjangin menjadi ‘nauuuuuummm…”. ‘Naum’ artinya ‘tidur’, mungkin ini yang menyebabkan jamaah shubuh di negeri kita cuma sedikit, karena ‘nauuuuuummm’nya kepanjangan, jadinya tidurnya juga ikut diperpanjang….
Label:
Ibadah,
Muamalah,
Pemikiran Islam
|
0
komentar
Kisah pertaubatan manusia pertama kali dilakukan oleh Adam dan Hawa ketika mereka melanggar larangan Allah. Al-Qur’an mengisahkan :
Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan". Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (Al-Baqarah 36-37)
Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. Allah berfirman: "Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan". (Al-A’raaf : 23-24)
Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk. Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (Thaha 122-123)
Kalau dilihat kronologis kisah pertaubatan Adam dan Hawa ini berdasarkan ketiga informasi ayat Al-Qur’an diatas, maka kita bisa menyimpulkan bahwa pernyataan taubat sudah disampaikan sebelum mereka diturunkan kebumi, kemudian penerimaan Allah terhadap taubat tersebut terjadi mulai dari ucapan Adam dan Hawa sampai setelah mereka diturunkan. Apa maknanya..?
Label:
Akhlak,
Al-Qur'an,
Aqidah,
Ibadah
|
0
komentar
Tulisan ini saya sampaikan tahun lalu di forum diskusi Muslim-Menjawab, dan cukup relevan dihadirkan kembali. Natal sudah mendekat beberapa hari lagi. Kalau dilihat bagaimana kemeriahan natal di negeri ini yang hampir sama meriahnya dengan perayaan Idul Fitri, padahal penduduk Katolik/Kristen yang merayakannya berjumlah hanya 10% dari total penduduk yang mayoritas Muslim. Melihat kenyataan ini seharusnya bagi umat Kristen yang tahu dan memahami, akan berterima kasih kepada saudara-saudara mereka yang Muslim, bahwa secara umum umat Kristen dijaga dan dilindungi untuk bisa menjalankan ajaran agama mereka dengan tenang dan tenteram. Lihatlah kemeriahannya, hampir semua mal dan pusat perbelanjaan meriah dengan nuansa natal, karyawan dan karyawatinya memakai (atau terpaksa memakai) topi Sinterklas, ada promosi berupa 'Christmas Sale', warna ruangan dominan berwarna merah, yang merupakan ciri khas natal. Begitulah sikap umat Islam di negeri ini, sesuatu yang barangkali tidak mereka dapatkan di negeri dimana mereka menjadi minoritas.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Terjadi perbedaan pendapat para ulama tentang boleh atau tidaknya seorang Muslim menyampaikan ucapan selamat natal kepada umat Kristen yang merayakannya. Umumnya pihak yang membolehkan beranggapan bahwa terdapat pemisahan antara natal sebagai suatu ritual ibadah/misa dan natal sebagai suatu perayaan hari kelahiran, seperti halnya dengan perayaan ulang tahun seseorang. Pendapat ulama yang membolehkan penyampaian ucapan selamat natal menyatakan bahwa ucapan tersebut sebagai bentuk tahni’ah/ucapan selamat dan penghormatan, bahkan menurut Yusuf Qadrawi mengkategorikan hal ini sebagai al-birr – perbuatan yang baik – sesuai Al-Qur’an surat al- Mumtahanah 8 dan an-Nisaa 86. Di Indonesia sendiri kita tidak menemukan adanya fatwa MUI yang menetapkan apakah mengucapkan selamat natal diharamkan atau tidak, yang ada hanyalah fatwa MUI thn 1981 yang menyatakan tentang tidak boleh mengikuti perayaan natal bersama, bukan soal mengucapkan selamat natal. Disini bisa dilihat bahwa MUI-pun membedakan antara natal sebagai suatu ritual ibadah dengan natal sebagai suatu perayaan hari kelahiran.
Sikap MUI ini tergambar juga dengan pernyataan Dien Syamsudin, Sekjen MUI sekaligus Ketua Umum PP Muhammadiyah yang menyatakan : “Kalau hanya memberi ucapan selamat tidak dilarang, tapi kalau ikut dalam ibadah memang dilarang, baik orang Islam ikut dalam ritual Natal atau orang Kristen ikut dalam ibadah orang Islam,". Setali tiga uang, dulu semasa hidupnya Gus Dur juga tidak mempermasalahkan ucapan Natal dari seorang Muslim dengan alasan :"Perayaan Natal adalah perayaan hari kelahiran Isa Almasih, jadi sebagai umat Islam yang mengakui kenabian beliau, tidak masalah kalau kita juga ikut merayakannya..".
Label:
Akhlak,
Aqidah,
Dunia Islam,
Ibadah,
Pemikiran Islam,
Syari'at
|
0
komentar
Ada cerita yang tercecer dari perjalanan umroh saya di bulan ramadhan kemaren, terkait dengan interaksi yang terjadi dengan jamaah yang datang dari seluruh penjuru dunia..
Kebetulan jadwal perjalanan kami selama sebulan di tanah suci terlebih dahulu berkunjung ke Madinah, untuk beribadah di masjid Nabawi selama 3 hari, setelah itu baru berpindah ke Makkah melakukan umroh dan shalat di Masjidil Haram sebanyak-banyaknya, mengikuti yang fardhu dan juga tarawihnya sekalian. Sebagaimana kebiasaan pada kedua masjid tersebut, ketika menjelang maghrib di bulan Ramadhan, pihak pengelola selalu menyediakan ‘tajil’ untuk berbuka puasa, kalau di Madinah agak rada lebih lengkap, berupa korma dan roti, ‘laban’; semacam yoghurt dari susu sapi kental yang sudah di fermentasi, ‘syai’ panggilan Arab untuk teh, ataupun ‘gawa’ kopi Arab. Tentu saja tidak ketinggalan beberapa gelas air zamzam. Bagi anda yang biasa ‘bertajil-ria’ di masjid-masjid Indonesia, jangan heran kalau disana tidak akan ditemukan kolak, cendol, lemper, dll karena bagi orang kita istilah tajil memang melekat kepada jenis-jenis makanan tersebut, sampai-sampai ada yang menyangka kalau tajil adalah kata Arab untuk kolak atau cendol. Tajil memang berasal dari bahasa Arab ‘ajjala’ artinya : menyegerakan, mendahulukan. Maksudnya sebelum melakukan buka puasa dengan makanan besar, umat Islam terlebih dahulu membatalkan puasanya dengan memakan makanan kecil lalu shalat maghrib, setelah itu baru berbuka dengan makanan seperti biasanya.
Label:
Akhlak,
Dunia Islam,
Ibadah,
Muamalah
|
0
komentar
Pernah dalam suatu kesempatan perjalanan umroh di Madinah, diadakan pengajian terbatas oleh ustadz pembimbing dihotel tempat menginap, mengisi waktu mulai dari ba’da Ashar menunggu datangnya waktu Maghrib. Sang ustadz memulai dengan suatu pertanyaan :”Lihatlah.., katanya, “kita sedang berada di negeri yang kaya raya, penduduknya makmur. Bahkan kota ini sibuk dengan kegiatan perdagangan, toko-toko selalu ramai didatangi pembeli dari seluruh dunia, hotel dan penginapan jarang yang kosong.” Lalu dia melanjutkan :”Apa gerangan yang menyebabkan Allah melimpahkan rahmat dan berkah terhadap penduduk negeri dan kota ini..?”. Ustadz ini jelas sedang mengajukan pertanyaan retorika, karena kemudian dia menjawabnya sendiri :”Terlepas dari segala kekurangan perilaku penduduknya secara personal, disini masjid selalu penuh ketika datang waktunya shalat fardhu, jangankan masjid Nabawi, masjid kecil yang bertebaran disela-sela pertokoan juga sama saja penuhnya dan melimpah sampai kejalanan, jamaah yang berada diluar ruangan sering lebih banyak dibandingkan mereka yang ada didalam ruangan. Penduduk kota ini sudah memiliki sikap yang mendarah-daging, bahwa shalat fardhu memang harus berjamaan di masjid terdekat. Bagi mereka yang kebetulan sedang berdagang menunggu toko akan segera menutup tokonya dengan hanya selembar kain dan bergegas pergi ke masjid, semua kegiatan ditinggalkan untuk memenuhi kewajiban mereka kepada Allah”.
“Kota Medinah dan Makkah dengan ketat menjaga agar penyakit masyarakat berupa tempat maksiat, judi, dll tidak muncul dan berkembang diwilayah mereka. Semuanya beramar makruf nahi munkar..”.
Lalu sang ustadz melanjutkan :”Inilah yang menyebabkan Allah memberikan berkah kepada para penduduk negeri..”.
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Al-A'raaf: 96)
Label:
Akhlak,
Dunia Islam,
Ibadah
|
0
komentar
Tadinya saya tidak mau menuliskan catatan terkait dengan kepergian saya ke tanah suci untuk menjalankan umroh selama bulan Ramadhan disana, biasa.., takut termasuk kategori riya sehingga pahala ibadah saya menjadi tidak berarti, Allah akan menjadikannya bagai debu-debu yang berterbangan ditiup angin. Namun pengalaman yang didapatkan kelihatannya mendesak saya harus banyak bercerita, terutama untuk menyampaikan informasi yang berimbang terkait dunia Islam, bahwa ketimpangan informasi yang selama ini terjadi, ketika media massa lebih banyak menyampaikan orang-orang yang antri sembako dan zakat fitrah sampai ada yang mati terinjak-injak, disetiap Ramadhan dan Idul Fitri, menghasilkan pandangan yang sudah mengkristal dari dulu sebagai suatu ‘bagian integral’ dari umat Islam. Soal riya biarlah menjadi urusan saya dengan Allah, karena toh Al-Qur’an juga menyampaikan : [QS 93:11] Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.
Entah disengaja atau tidak, ketika orang-orang membicarakan tentang bulan Ramadhan dan Idul Fitri, maka gambaran dan informasi yang selalu diulang-ulang adalah soal kemiskinan umat Islam, diumbar lewat pemberitaan penduduk miskin kota yang sedang antri untuk menerima zakat fitrah, lalu sebagian misionaris Kristen misalnya mulai ‘jualan obat’ untuk menimbulkan pencitraan negatif :”Lihat tuh umat Islam, mereka indentik dengan kemiskinan dan kemelaratan..”, padahal susah untuk dilacak indentitasnya, apakah orang-orang yang antri tersebut memang berasal dari pemeluk Islam atau bukan. Sedangkan berita sebaliknya jarang diungkapkan. Pada tahun ini saja diperkirakan ada 6 juta umat Islam diseluruh dunia membanjiri tanah suci, jauh lebih banyak dari pengunjung di musim haji yang tidak sampai 4 juta orang. Biaya umroh dari Indonesia berkisar antara USD 1500 sampai USD 3000, bahkan ada yang sampai mendekati 5000 dolar.
Label:
Dunia Islam,
Ibadah
|
0
komentar
Saya membayangkan, pada satu saat setelah selesainya bulan Ramadhan malaikat turun kebumi membawa sertifikat yang telah ditanda-tangani, telah dicap stempel akherat, disana tertulis nama saya. Pernyataan dalam sertifikat tersebut : “Telah berhasil menjalani ibadah puasa dibulan Ramadhan dengan hasil memuaskan, dan untuk itu yang bersangkutan telah dianugerahi ketaqwaan dan dinyatakan telah bersih dari dosa seperti bayi yang baru lahir, demikianlah sertifikat ini dibuat dan diberikan untuk dipergunakan sebagaimana mestinya”. Apa reaksi logis yang akan saya lakukan..?? apa yang akan anda perbuat kalau itu terjadi dengan diri anda..??
Saya pasti akan mencari pigura yang bagus, kalau bisa terbuat dari emas, berukir indah dengan hiasan permata, sertifikat tersebut akan saya gantung di dinding untuk bisa saya nikmati setiap waktu dengan bangga, tidak lupa saya akan mengadakan selamatan mengundang teman-teman, kalau perlu mengundang band D’masiv atau wayang kulit semalam suntuk, sebagai tanda syukur atas hadiah yang sudah diberikan. Lalu…?? Yaa…cuma sampai disitu, setelah itu saya akan kembali melanjutkan kehidupan dengan cara yang sama seperti sebelum Ramadhan, toh ketaqwaan sudah saya dapatkan dan saya sudah menikmatinya, nanti pada Ramadhan ditahun depan, saya akan bikin program lagi agar kembali bisa mendapatkan sertifikat yang sama.
Namun untungnya, ketaqwaan tidak ada sertifikatnya, selesai Ramadhan kita sama sekali tidak mengetahui apakah kita sudah berhasil menjalankan ibadah puasa tersebut dengan standard yang telah ditentukan oleh Allah, apakah Dia sudah menjadikan kita orang-orang yang bertaqwa sesuai apa yang dinyatakan-Nya dalam Al-Qur’an, ketika Ramadhan selesai kita hanya bisa berharap :”Semoga Allah menerima ibadah yang kita lakukan selama ini – taqabbalallahu minna wa minkum…”, atau sebaliknya kita hanyalah seseorang yang rugi seperti yang disampaikan oleh Rasulullah : “Berapa banyak orang yang puasa, tapi tidak dapat apa-apa kecuali haus dan lapar.” (Hadits Riwayat Bukhari-Muslim).
Label:
Ibadah
|
0
komentar
Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)-nya, maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam. (al-Mu’minun 102-103)
Al-Qur’an mengajarkan kita bahwa kelak di akhirat segala amal kebaikan yang dilakukan atas dasar keimanan kepada Allah akan ditimbang dengan keburukan dan dosa yang dikerjakan di dunia. Ketika amal kebaikan tersebut ternyata lebih berat dibandingkan kejahatan dan dosa, maka kita dikatakan sebagai orang yang beruntung karena kebaikan yang banyak tersebut menutupi dosa, istilahnya : masih ada surplus pahala.
Namun kenyataannya, kita tidak gampang untuk menghitung-hitung berapa sebenarnya jumlah pahala yang telah kita tabung, sebaliknya juga tidak mudah untuk mengkalkulasi berapa banyak dosa yang telah kita lakukan, yang akan kita bawa disaat kita mati kelak. Sebagai satu contoh sederhana, katakanlah mulai minggu depan anda melakukan puasa Ramadhan. Allah mengatakan bahwa pahala berpuasa menjadi urusan-Nya, dialah yang akan memberikan penilaian terhadap puasa yang kita lakukan. Lalu sejauh mana anda bisa yakin kalau puasa tersebut diterima oleh Allah dengan sempurna..? bagaimana kalau hanya limapuluh persennya saja..? atau bahkan sama sekali tidak diterima. Rasulullah mengingatkan kita.
“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroniy dalam Al Kabir dan sanadnya tidak mengapa. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1084 mengatakan bahwa ini shohih ligoirihi -yaitu shohih dilihat dari jalur lainnya-)
Label:
Ibadah
|
0
komentar
Mumpung lagi ribut soal sepakbola piala Eropah, kesempatan saya ingin bicara soal sepakbola…
Dalam suatu kesebelasan yang sedang bertanding, faktor perubahan kondisi setiap pemain selalu menentukan. Lumrah dalam jangka waktu 2 x 45 menit seorang pemain punya performance yang tiba-tiba menurun dalam beberapa menitnya, lalu pada masa selanjutnya mendadak menjadi ‘beringas’, demikian silih berganti untik setiap pemain. Bisa terjadi ketika si striker dalam kondisi letih lesu, gelandang menyerangnya yang ‘on-fire’, maka serangan dan tendangan ke arah gawang lawan akan banyak dilakukan oleh si gelandang menyerang tersebut. Lalu pada menit-menit berikutnya keadaan berubah, giliran striker yang segar-bugar, si gelandang yang ‘adem-ayem’, si striker yang bakalan dikasih umpan-umpan matang untuk menjebloskan gawang lawan. Pemain sayap kiri mendadak bengong, serangan dialirkan lewat sayap kanan, giliran yang kanan mandeg, bola lebih sering dioper ke pemain kiri. Disitulah letak dinamika suatu team kesebelasan, sehingga pertandingan enak ditonton. Ketika suatu kesebelasan mampu mengelola dinamika turun-naiknya performance para individu yang terlibat didalamnya, maka hasil akan dicapai berupa kemenangan yang manis. Siapa yang akan menikmati kemenangan tersebut..?? seluruh pemain, bahkan pemain cadangan juga ikut. Ketika pemilik club memberikan bonus sebagai hadiah atas kemenangan tersebut, semuanya kebagian, semuanya happy..
Sekarang mari kita berpindah kepada shalat berjamaah. Orang-orang pasti paham bahwa ketika melakukan shalat, apakah itu sendirian atau berjamaah, seorang Muslim juga akan mengalami turun-naiknya ‘performance’, kita akan mengatakannya ‘tingkat kekhusu’an’. Dalam mengerjakan shalat kadang-kadang kita bisa berkonsentrasi, merasakan kehadiran Allah yang mengamati, lalu pada menit-menit berikutnya pikiran melayang entah kemana, lalu balik lagi untuk kembali khusu’ mendekat kepada Allah. Tidak ada seorangpun dalam shalatnya yang bisa khusu’ terus-menerus, sebaliknya juga tidak juga ada orang yang melamun melulu, pasti antara khusu’ dan melamun terjadi silih-berganti. Ketika anda mengerjakan shalat sendirian, saat-saat khusu’ menjadi milik anda, sama juga ketika anda melamun maka itu juga menjadi tanggungan anda. Katakanlah dalam waktu shalat yang berjalan 10 menit, diantaranya 5 menit anda pakai buat melamun, sisanya bisa anda lakukan dengan khusu’, maka nilai shalat anda tersebut hanyalah 50% saja, itu hitung-hitungan diatas kertasnya.
Label:
Ibadah
|
0
komentar
“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan ke masjid di kegelapan malam bahwa mereka akan beroleh cahaya yang sempurna di hari kiamat.” (HR. Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah di dalam kitab shahihnya, dan Imam Hakim).
Menarik apa yang saya amati dari jemaah shubuh saya pagi ini. Beberapa mereka yang konsisten shalat ke masjid terdiri dari orang-tua yang sudah punya problem dengan kesehatan, ada yang sudah terkena stroke dan di operasi, kondisi yang sering ambruk, bahkan ada yang pernah pingsan ketika shalat, ada juga yang bermasalah dengan diabetes, jantung, prostat, dll. Kondisi kesehatan ini jelas bukan sesuatu yang nyaman untuk setiap pagi buta pergi ke masjid melaksanakan shalat shubuh berjamaah.
Cuaca belakangan ini juga tidak bersahabat karena sering hujan, jalan di kompleks perumahan yang banyak berlubang memunculkan perjuangan tersendiri untuk berjalan mencapai masjid akibat lumpur yanhg ditimbulkannya. Dari cerita jamaah, sudah ada 4 orang yang jatuh terpeleset bahkan sampai terkilir.
Ada jamaah yang rumahnya agak jauh mendatangi masjid membawa mobil. Saya bisa membayangkan setiap pagi mereka harus membuka pintu garasi dan pagar, memanaskan mesin, menutup kembali pintu, lalu bergerak menuju masjid.
Label:
Ibadah,
Pemikiran Islam
|
1 komentar
Seseorang berniat mau berangkat ke masjid untuk menunaikan shalat fardhu berjamaah, katakanlah di waktu 'Isya atau Shubuh, namun mendadak turun hujan deras menghalangi langkahnya pergi. Wajarnya kita tentu punya pikiran melaksanakan shalat fardhu dirumah saja karena memiliki alasan yang kuat untuk itu. Namun orang ini ternyata berpikiran lain :"Kalau saya membatalkan kepergian saya ke masjid maka logikanya semua orang mempunyai pikiran yang sama, lalu siapa lagi yang akan mengisi masjid untuk shalat fardhu berjamaah...?". Akhirnya dia memilih untuk mengambil payung menerobos hujan deras, mengangkat ujung celana, berangkat juga ke masjid.
Sesampai disana dengan ujung celana yang basah, dan ternyata tepat apa yang dia duga, peserta shalat fardhu hanya 2 orang, dia sendiri dan si penjaga masjid...
Ketika selesai shalat berjalan keluar melewati pintu masjid, wajahnya tertengadah ke langit, dengan mata berkaca-kaca mengucap lirih :" Yaa..Allah, hamba lakukan ini semata-mata mengharapkan ridho dari-Mu, agar Engkau mau menyayangi dan mengasihi hamba, maka limpahkanlah Kasih Sayang-Mu kepada hamba ini..". Ada keyakinan kuat karena merasa telah memberikan peribadatan yang terbaik, yang tidak akan bisa dilakukan oleh semua orang.
Label:
Ibadah
|
0
komentar
Mungkin kita pernah bertanya kalau kita memang diciptakan Allah untuk melaksanakan penghambaan kepada-Nya, lalu mengapa harus ada ritual ibadah sunnah, selain pelaksanaan ibadah wajib..?. Ibadah sunnah adalah ritual dengan ketentuan ‘apabila dikerjakan mendapat pahala, kalau tidak dikerjakan tidak beresiko apa-apa’. Rasulullah mencontohkan selain shalat wajib 5 waktu, kita juga dianjurkan untuk shalat sunnah 2 rakaat sebelum Shubuh, 2 atau 4 rakaat sebelum Dhuhur, 2 rakaat setelah Dhuhur, 2 rakaat setelah Maghrib, dan 2 rakaat setelah ‘Isya. Lalu ada qiyamul lail (shalat malam) 8 rakaat ditambah witir 3 rakaat, shalat dhuha diwaktu pagi 2 sampai 8 rakaat. Selain puasa wajib di bulan Ramadhan, ada puasa sunnah Senin-Kamis, atau yang punya ‘hobby’ berpuasa bisa melaksanakan puasa Daud, sehari puasa sehari tidak. Ada infaq dan sadaqah selain zakat wajib, ada umroh selain kewajiban berhaji. Lalu kalau kita diciptakan ke dunia untuk menyembah Allah, mengapa tidak ditetapkan saja semua hal tersebut menjadi suatu kewajiban, toh banyak orang yang sanggup melakukannya secara konsisten…?
Pemahaman kita terhadap ibadah sunnah tersebut bisa kita dapatkan ketika kita melakukannya, rasakan saja apa yang akan muncul dalam hati. Disaat melakukan ibadah wajib, maka dasar yang melandasi niat kita sering karena hal tersebut memang harus dilaksanakan, suka atau tidak suka, mengingat resiko yang harus diterima kalau kita tidak mengerjakannya. Tidak melakukan shalat wajib 5 waktu..?? ada perasaan berdosa yang muncul dalam hati. Tidak puasa Ramadhan tanpa alasan yang kuat..?? menyesal setengah mati lalu cepat-cepat minta ampun, demikian seterusnya.
Label:
Ibadah,
Pembelaan Iman,
Pemikiran Islam
|
0
komentar
[13:28] …(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
Kalau ketenteraman dan kebahagiaan bisa anda beli, berapa kira-kira harga yang pantas harus anda keluarkan agar keduanya bisa dapatkan..?? bagi saya mau rasanya mengorbankan seluruh apa yang dimiliki, berupa harta, jabatan bahkan kehormatan sebagai kompensasi ketenteraman dan kebahagiaan yang akan saya peroleh, karena pada dasarnya semuanya itu memang merupakan sarana untuk itu. Harta yang kita kumpulkan, jabatan yang kita kejar-kejar, kehormatan yang kita pertahankan dan tunjukkan kepada orang lain, bahkan anak-anak yang kita hasilkan, boleh dibilang punya muara yang sama, yaitu agar kita selalu berada dalam ketenteraman dan kebahagiaan hidup.
Namun kehidupan yang kita lakoni punya dinamikanya sendiri, pada saat tertentu kita bisa merasakan ketenteraman dan kebahagiaan dan pada saat yang lain akan mengalami hal sebaliknya, penyebabnya bisa bermacam-macam, bahkan anehnya kedua kondisi yang bertolak belakang tersebut bisa disebabkan oleh hal yang sama. Kita bisa saja tenteram dengan harta yang kita kumpulkan, namun harta yang sama bisa mengakibatkan malapetaka dan kehancuran, atau kadang kira merasa bahagia dengan jabatan yang kita pegang, disatu saat jabatan tersebut memunculkan kesengsaraan, hmmm…keluarga dan anak-anak menjadi sumber kebahagiaan kita..?? jangan heran disaat yang lain mereka adalah sumber kegundahan hati..
Label:
Dunia Islam,
Ibadah,
Pemikiran Islam
|
1 komentar
Saat kita mau menghadap raja/presiden, lumrahnya kita akan mengikuti aturan protokoler yang telah ditetapkan oleh mereka. Anda tidak akan melakukan protes mengapa misalnya harus bersikap begini begitu, melewati jalan tertentu, waktu tertentu. Makin besar kekuasaan si raja/presiden bisa jadi makin 'aneh' tata-cara yang harus kita lakukan, mungkin kita disuruh bersujud, merangkak, tidak boleh menengok ketika berhadapan dengan raja yang punya kekuasaan absolut. Apakah bisa kita mempertanyakan tata-cara tersebut..? misalnya ketika kita tidak bisa menerimanya, lalu mengusulkan tata-cara protokoler sesuai apa yang kita mau dan kita sukai..?? Tentu saja tidak bisa..
Demikian pula dengan ritual 'menghadap' Tuhan. Tata-cara penyembahan kepada Tuhan logikanya tidak bisa diserahkan kepada si penyembah yang berkreasi sesuai dengan maunya mereka, lalu Tuhan disuruh untuk mengikutinya. Kita coba bertanya dari 'titik nol' :"Kalau Tuhan itu ada dan merupakan sesuatu yang disembah, apakah tidak masuk akal kalau aturan dan tata-cara penyembahan akan ditetapkan-Nya sendiri..??". Semua orang, tidak peduli atheis sekalipun, akan menerima pikiran logis ini. Karena apabila aturan penyembahan diserahkan kepada pihak yang menyembah lalu Tuhan terpaksa mengikuti aturan tersebut, maka otomatis Tuhan tidak lagi menjadi Tuhan. Sama halnya seorang raja yang terpaksa harus mengikuti tata-cara dan protokoler yang ditetapkan atas maunya pihak yang menghadap, maka raja tersebut tidak bisa lagi disebut sebagai raja.
Ketika Tuhan menetapkan tata-cara penyembahan yang harus dilakukan oleh manusia, apakah pantas kalau Tuhan tersebut menjelma menjadi manusia agar bisa memberikan contoh langsung bagaimana cara melakukannya..?? Tentu saja tidak..., maka Tuhan bisa mengutus seseorang diantara manusia, memilihnya sebagai manusia tauladan untuk memberikan contoh bagaimana ritual penyembahan tersebut dilakukan.
Label:
Ibadah,
Syari'at
|
0
komentar
Subscribe to:
Posts (Atom)


























