Loading

Labels

Jumlah Kunjungan

Artikel Terbaru MMT

Facebook Arda Chandra

Powered by Blogger.
Showing posts with label Al-Qur'an. Show all posts
Showing posts with label Al-Qur'an. Show all posts

Ada ungkapan yang sering sekali kita dengar yang berasal dari seorang kafir ketika bicara tentang takdir :"Sebelum semuanya terjadi Tuhan sudah menetapkan takdirnya, maka sikap saya yang tidak percaya kepada Tuhan jelas merupakan ketetapan-Nya juga. Lalu mengapa harus saya yang disalahkan dan dihukum kalau Dia memang sudah menetapkan saya menjadi orang kafir..?". 

Ketika melontarkan 'pembelaan diri' agar orang ini tetap bisa melanjutkan hidup dalam kekafirannya dan menyalahkan takdir - artinya menyalahkan Allah - atas pilihan hidup yang sedang dijalaninya, sebenarnya sudah terjadi kesalah-pahaman dalam melihat takdir. Awal mula takdir adalah menyatu dengan iradah/kehendak Allah, berada dalam ilmu Allah, artinya bersemayam dalam 'kecerdasan' Allah dan menyatu dengan eksistensi Allah. Islam mengajarkan bahwa kehendak Allah tersebut dicantumkan dalam suatu kitab yang dinamakan Lauh Mahfudz, suatu kitab yang mencatat semua peristiwa yang terjadi di alam semesta dari dulu, sekarang dan masa yang akan datang, Al-Qur'an menyatakan : "dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering.." (QS 6:59), dan dari sana mengalir menuju alam kehidupan semua makhluk. Bagaimana bentuk catatan yang ada dalam Lauh Mahfudz kita juga tidak tahu persis, apakah dalam bentuk tulisan seperti halnya kalimat dan sebuah buku, atau berbentuk program aplikasi yang memiliki rumus logika 'jika A maka B' lalu melakukan interaksi dengan proses kehidupan. Yang pasti keberadaan lauh Mahfudz tersebut sangat dekat dan 'menempel' dengan alam semesta, makanya diistilahkan sebagai suatu 'blueprint' yang nyata. 

Bisa dilihat bahwa takdir merupakan suatu proses yang bergerak dinamis dan bukan bersifat statis. Kita bisa mengibaratkan bahwa takdir itu seperti sebuah film dan bukan merupakan potret, sekalipun ketika 'dipreteli', suatu gulungan film sebenarnya merupakan rangkaian potret yang diputar secara cepat dan menghasilkan gambar yang bergerak. Pernyataan orang kafir tentang takdir Allah tersebut merupakan suatu kesalahan ketika memperlakukan sebuah film seperti melihat potret, ini menjadi kesalahannya yang pertama. 



Persoalan tentang asal-mula nama 'Allah' ini sudah banyak didiskusikan orang, bukan hanya dikalangan internal umat Islam saja, tapi perbedaan pemahaman yang sengit juga terjadi di intenal agama samawi lainnya seperti Kristen. Hal ini dikarenakan untuk sebagian pemeluk Kristen terutama mereka yang berbahasa Arab, nama 'Allah' ini juga dipakai untuk menjadi nama generik (proper name) Tuhan mereka, dan ini sudah terjadi jauh sebelum agama Islam datang. Tulisan ini berusaha untuk melihat asal-mula nama 'Allah' berdasarkan sumber Islam, yaitu Al-Qur'an dan mengajukan pikiran logis untuk mengungkapkan mengapa nama tersebut dipakai dalam ajaran Islam. 

Al-Qur'an memberikan informasi bahwa sebagai suatu sebutan, nama 'Allah' sudah diucapkan sejak manusia pertama. Kita memang tidak menemukan sebutan ‘Allah’ keluar dari mulut nabi Adam dan Hawa termasuk juga ketika Al-Qur’an bercerita tentang penciptaan manusia dan kehidupan kedua nenek moyang umat manusia tersebut ketika berada di ‘jannah’. Satu-satunya sebutan Tuhan yang ada, hanyalah kata ‘rabb’, yaitu bahasa Arab dari nama jabatan Tuhan : 

Keduanya berkata: "Ya Tuhan (rabb) kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. (Al-A'raaf 23) 

Kita juga tidak menemukan nama diri ‘Allah’ tersebut keluar dari mulut Iblis maupun malaikat pada peristiwa itu. Para malaikat dicatat menyebut kata ganti orang pertama ‘Engkau’ dan Iblispun juga demikian, selain menyebut ‘Engkau’ juga menyebut kata ‘Rabb - Tuhan’ sebagai nama jabatan. Apa rahasia dibalik ini..?? Apakah waktu disurga dan ketika Adam dan Hawa diturunkan ke bumi, Allah belum memperkenalkan nama-Nya..?? 





Apakah anda pernah melihat berita di televisi tentang proses pengadilan kasus pembunuhan..?. Ketika hakim memutuskan si pelaku dihukum penjara 15 atau 20 tahun, lalu pihak keluarga korban melakukan protes sampai menjerit-jerit dan berguling-guling menangis dilantai pengadilan, tidak rela si pelaku hanya dipenjara karena mereka ingin pembunuh keluarga mereka tersebut dihukum mati, setimpal dengan nyawa keluarga mereka yang telah dilenyapkan dengan dzalim. Apalagi mereka tahu kalau setiap hari kemerdekaan dan Idul Fitri, si pelaku masih punya peluang untuk mendapatkan remisi karena berkelakuan baik selama di penjara, total jenderal dia hanya menjalani masa tahanan tidak lebih dari 10 tahun. Begitu terbebas dan wara-wiri kembali di pasar, tinggallah keluarga korban melongo menyaksikan, tanpa bisa berbuat apa-apa. Mungkin rasa ketidak-adilan ini akan mereka bawa mati, lalu di akhirat kelak mereka menuntut kepada Allah agar si pembunuh berikut dengan pak hakimnya dimasukkan kedalam neraka jahanam. Kalaulah tuntutan mereka tersebut dikabulkan Allah, alangkah malangnya nasib si pelaku, di dunia sudah masuk penjara, di akhirat masih masuk neraka juga. 

Atau katakanlah anda mengalami nasib sial, bersengketa dengan seseorang yang memiliki kekuatan seperti Mike Tyson, anda lalu dihajar sampai bonyok padahal bukan sebagai pihak yang bersalah. Anda mau lapor ke polisi..? si pelaku paling dihukum beberapa bulan. Anda mau membalas memukul..? Mike Tyson koq ditantang berkelahi..? 

Semua orang pasti sependapat bahwa dalam sistem hukum manapun, keputusan hakim haruslah bisa memenuhi rasa keadilan semua pihak. Dan yang 'paling sensitif' dalam merasakan keadilan ini adalah pihak korban. Sudah puluhan tahun Indonesia merdeka dan telah mempraktekkan aturan hukum produk bangsa, namun keadilan yang bisa dirasakan oleh masyarakat masih jauh dari yang diharapkan. Sampai-sampai rakyat sudah 'imun/kebal' dengan keputusan-keputusan pengadilan dan bersikap masa bodoh, lalu membathin : "Biar nanti saja di akhirat dapat hukuman setimpal..". 

Tulisan ini tidak akan menyinggung soal aturan hukum Islam secara detail, karena kasus-kasus hukum banyak corak dan karakternya. Kita semua bisa mempelajarinya pada sumber-sumber yang melimpah di internet ataupun buku-buku terkait. Dengan membatasi materi tulisan hanya menyinggung soal hukum Islam terhadap kasus-kasus yang menyebabkan kematian atau luka kepada orang lain, kita akan bisa menilai bagaimana aturan hukum Islam ditetapkan Allah tersebut tidak hanya terfokus kepada pemberian hukuman kepada pelaku perbuatan, namun juga sangat mempertimbangkan rasa keadilan dari pihak korban. 



Kisah pertaubatan manusia pertama kali dilakukan oleh Adam dan Hawa ketika mereka melanggar larangan Allah. Al-Qur’an mengisahkan : 

Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan". Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (Al-Baqarah 36-37) 

Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. Allah berfirman: "Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan". (Al-A’raaf : 23-24) 

Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk. Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (Thaha 122-123) 

Kalau dilihat kronologis kisah pertaubatan Adam dan Hawa ini berdasarkan ketiga informasi ayat Al-Qur’an diatas, maka kita bisa menyimpulkan bahwa pernyataan taubat sudah disampaikan sebelum mereka diturunkan kebumi, kemudian penerimaan Allah terhadap taubat tersebut terjadi mulai dari ucapan Adam dan Hawa sampai setelah mereka diturunkan. Apa maknanya..? 



Peristiwa awal-mulanya kejatuhan Adam dan Hawa ke dunia merupakan kisah yang sangat menarik, bukan hanya dalam khazanah Islam, tetapi juga agama samawi lainnya seperti Yahudi dan Kristen. Namun kalau dilihat gaya bahasa Al-Qur’an dalam menceritakan kisah ini, kalimat-kalimatnya sangat membuka peluang untuk penafsiran, mulai dari pemakaian kata bahasa Arab, susunan kalimat, maupun hubungan antara satu kelompok ayat dengan kelompok lainnya. Keterbukaan penafsiran kisah ini anehnya tidak membuat maksud dan tujuan Al-Qur’an sebagai kitab petunjuk terhadap eksistensi Allah menjadi tidak jelas. Apapun penafsiran yang dimunculkan, muaranya tetap saja kepada satu hal, bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Kuasa, Maha Tahu dan Maha Pengampun, sedangkan manuia adalah makhluk-Nya yang lemah, cenderung berbuat salah dan ujung-ujungnya kembali menyerahkan diri kepada Allah untuk meminta ampunan. 

Al-Qur’an sendiri menceritakan kisah ini terpencar sebanyak 7 kali dalam 7 surat, yaitu : Al-Baqarah 30-39, Al-A’raaf 11-25, Al-Hijr 26-42, Al-Kahfi 50, Al-Isra’ 61-65, Thaaha 115-124 dan Shaad 71-85. Inti dari kisah tersebut bisa dilihat, baik melalui penggabungan semua ayat maupun dibaca secara sendiri-sendiri, pengulangan tidak diartikan menyampaikan fokus kisah yang sama karena setiap rangkapan ayatnya memiliki kekhususan masing-masing. 

Satu hal yang membedakan pemahaman Islam dengan ajaran Yahudi dan Kristen, ‘terlemparnya’ umat manusia untuk hidup di dunia ini bukanlah merupakan suatu kutukan. Ayat Al-Qur’an yang menginformasikan hal tersebut hanyalah menjelaskan adanya beberapa perubahan yang dialami oleh Adam dan Hawa. Setelah terjadinya pelanggaran, Allah lalu memerintahkan mereka untuk turun ke dunia dengan menyebutkan bagaimana kondisi yang akan dialami mereka dan anak-keturunan, bahwa manusia di dunia akan bermusuhan satu sama lain (QS 2:36), (QS 7:24) dan (QS 20:123), namun sebaliknya dikatakan juga pada ayat yang sama, manusia juga akan menjalani kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan, mempunyai tempat kediaman dan tetap akan mendapatkan petunjuk dari Allah. Pada banyak ayat lain, Al-Qur’an menyebutkan juga bahwa kehidupan di dunia adalah ‘kesenangan yang menipu’ (QS 57:20) dengan segala rejeki, harta, emas perhiasan, anak keturunan (QS 13:26), (QS 18:46), ( 57:20), (QS 9:55) dan banyak ayat lainnya, sehingga membuat orang-orang yang terlena dengannya akan lebih mementingkan kehidupan dunianya dibandingkan apa yang akan diperoleh di akhirat (QS 2:212), (QS 30:7), (QS 76:27), intinya tidak ada satu ayatpun yang menyatakan hidup di dunia ini penuh ketidak-enakan, sengsara dan hasil dari suatu kutukan. Sebaliknya penggambaran kondisi ‘jannah’ tempat Adam dan Hawa sebelumnya digambarkan bukan sebagai suatu yang berkontradiksi dengan apa yang dialami mereka di dunia. Ketika Allah memerintahkan mereka untuk tinggal di ‘jannah’ setelah masa penciptaan mereka, Allah menyatakan bahwa ditempat tersebut : tersedia makanan yang baik lagi banyak (QS 2:35), bisa dimakan dimanapun mereka sukai (QS 7:19), tidak akan kelaparan, dahaga, ditimpa panas matahari dan telanjang (QS 118-119). 



Ketika kita berbicara tentang istilah ‘ummi’ yang disematkan kepada Rasulullah maka fokus perdebatan biasanya bermuara kepada beberapa hal. Umumnya pihak non-Muslim akan menyatakan dan mempertanyakan kebenaran seorang nabi Muhammad yang ‘ummi’, mereka mengartikan kata ini dengan ‘tidak bisa baca tulis’ alias ‘buta huruf’. Dilihat dari sejarah hidup beliau rasa-rasanya tidak mungkin nabi Muhammad merupakan orang yang buta huruf. Beliau adalah ‘manager’ yang sukses mengelola perusahaan milik Siti Khadijah, berinteraksi dengan masyarakat sampai ke negeri Syam, mosok tidak ada niat sedikitpun untuk membaca tulisan-tulisan yang ditemuinya dipasar-pasar..? Boleh jadi Rasulullah memang tidak bisa baca-tulis sampai usia tertentu, lalu koq bisa tetap ngotot untuk tidak belajar membaca dan menulis sampai akhir hayatnya..?, Lha..mbok-mbok pembantu rumah-tangga saja bisa melek huruf dengan mengikuti Kejar paket A atau B, bagaimana mungkin Rasulullah mau ‘memandegkan diri’ untuk tidak belajar sampai tua..? 

Motivasi non-Muslim mengajukan hal ini setahu saya bertujuan untuk membuktikan bahwa dengan kemampuan Rasululah yang bisa membaca dan menulis, maka terbuka kemungkinan Al-Qur’an adalah merupakan karangan beliau, yang ditulis berdasarkan referensi yang pernah dibaca dari kitab-kitab yang ada. “Arahan moncong senjata’ selanjutnya bisa ditebak, akan ada ‘masukan-masukan’ tentang nabi Muhammad yang sering nongkrong di perpustakaan milik Waraqah bin Naufal, seorang Kristen yang hidup dijaman itu, yang dikatakan oleh hadist telah menerjemahkan kitab Injil kedalam bahasa Arab. Berdasarkan hasil kunjungan ke perpustakaan inilah Rasulullah kemudian memunculkan ide tentang ajaran Islam dan Al-Qur’an, begitu perkiraan ‘input’ yang akan diberikan. 

Sebaliknya pihak Muslim menolak keras tuduhan ini, mereka bersikukuh menyatakan bahwa Rasulullah yang ‘ummi’ artinya tidak pernah sekalipun bersentuhan dengan tulisan ataupun bacaan, agar keyakinan tentang kemurnian Al-Qur’an sebagai wahyu Allah bisa dijaga. 


Pernah seorang pelukis terkenal bercerita, suatu saat pikirannya buntu, inspirasi untuk membuat sebuah lukisan tidak muncul-muncul juga. Ketika dia memandang cat yang tergeletak diatas meja, dia melihat banyak cat yang berwarna emas dan perak yang masih tersisa karena memang jarang dipakai dalam lukisan-lukisan yang dia buat. Untuk mengisi kekosongan ide, dia lalu memanfaatkan cat tersebut, menggores-gores kanvas dengan sebebas-bebasnya, mencampur –aduk warna sesuka hati sehingga akhirnya mewujudkan suatu lukisan abstrak dengan perpaduan warna emas dan perak yang ruwet. Begitu selesai, kebetulan datang seorang kenalan berkunjung, temannya tersebut seorang direktur perusahaan metalurgi, tentu saja orang kaya. Ketika dia melihat hasil lukisan, sang direktur ini terkesan, lalu dia duduk didepannya memandang lukisan berlama-lama, merenung dan melamun. Ujung-ujungnya, akhirnya dia membeli lukisan yang belum kering dan belum ditanda-tangani tersebut dengan harga tinggi, tanpa menawar-nawar lagi. Si pelukis bercerita kepada saya sambil nyengir :”Saya buru-buru mencantumkan tanda tangan, dan sampai sekarang saya tidak mengerti sebenarnya waktu itu saya lagi bikin lukisan apa..”. 

Sulit memang mengukur nilai keindahan suatu hasil karya seni, baik dibidang satra, lukisan, lagu, tari. Pelukis Basuki Abdullah berantem terus dengan Affandi sampai tua terkait soal ini. Dalam pandangan Basuki Abdullah, nilai keindahan suatu lukisan terletak pada goresan garis dan warna yang harus sesuai yang nampak, bahkan harus terlihat ‘lebih indah dari aslinya’. Makanya ibu-ibu pejabat paling suka dilukis oleh beliau, yang gembrot bakalan terlihat langsing, yang mukanya ‘jutek’ terlihat berseri-seri dan ramah. Beda lagi dengan Affandi, pelukis ini justru menilai keindahan berasal dari ekspresi yang bisa ditangkap dan dituangkan dalam warna, bukan dari bentuk fisik yang terlihat. Makanya gambar seseorang yang dilukis Affandi bakalan ‘rusak berat’, termasuk ketika dia melukis gambar mukanya sendiri. 



Sekali waktu sambil menunggu waktu shalat di Masjdil Haram, saya membuka-buka kitab Al-Qur’an yang saya bawa dan membacanya pelan-pelan. Suasana di masjid terbesar di dunia tersebut memang biasa seperti ini, apalagi di bulan Ramadhan. Al-Qur’an adalah kitab yang paling banyak dibaca orang, ada yang membacanya dalam hati, atau sambil berbisik, ada juga yang agak rada keras sehingga terdengar kiri-kanan. Ada yang membaca dengan lancar, ada yang terbata-bata dan salah-salah. Ada yang iramanya ikut Syeikh Sudais atau Syeikh Maher al-Muaiqly, imam shalat Masjidil Haram yang kondang itu, atau pakai ‘gaya’ sendiri, mencatut irama lagu Manuk Dadali ataupun campur Sari-nya Didi Kempot, pokoknya lengkap, ada semuanya. 

Tiba-tiba seorang Arab, belakangan saya tahu dari Mesir, mencolek bahu saya dan berkata dalam bahasa Arab campur Inggeris campur bahasa Tarzan, intinya dia berkata :”Saya takjub mendengar kamu yang bukan orang Arab membaca Al-Qur’an seperti itu, koq mau-maunya membaca kitab dalam bahasa lain..”. lalu dia melanjutkan dengan bertanya apakah saya mengerti artinya. Saya berterus-terang menjawab bahwa sebagian besar dari ayat Al-Qur’an yang dibaca tersebut sama sekali tidak mengerti artinya, cuma membaca saja sesuai dengan kemampuan bahasa Arab saya. Si Arab jadi nyengir, mungkin dia merasa makin heran mengapa orang mau repot-repot membaca sesuatu yang tidak dia mengerti. Saya lalu memperlihatkan handpone saya yang kebetulan punya aplikasi program Al-Qur’an dengan terjemahan bahasa Indonesia, lalu bilang :”Kalau mau memahami Al-Qur’an, saya biasanya melihat dari program ini, ada terjemahan ayat-per ayatnya..”. Saya lalu melanjutkan :”Di Indonesia saya sering berdiskusi tentang Islam termasuk dengan pemeluk agama lain, dan untuk memberikan penjelasannya saya sering juga memakai kitab Fi Zhilaali al-Qur’an. Si Arab dari Mesir ini kelihatannya agak bingung dan bertanya :”Kitab apa itu..??”. Sekarang giliran saya yang nyengir lalu menjelaskan bahwa kitab tersebut merupakan tafsir Al-Qur’an kontemporer karangan Sayyid Quthb, seorang ulama terkemuka Ikhwanul Muslimin yang ada di Mesir, yang mati syahid dihukum mati oleh pemerintah Nasser. Ternyata ada juga orang Mesir yang tidak kenal kitab karangan beliau tersebut. 



Kami tidak menurunkan Al Qur'an ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas 'Arsy. Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah. Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi. Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai al-asmaaul husna (nama-nama yang baik), (Surat Thaha 2-8)

Marilah kita mulai membaca ayat ini pelan-pelan, satu persatu. Kita mengambil posisi berhadapan dengan Al-Qur’an, membaca informasi yang ada didalamnya.

Pertama kita baca kalimat 'Kami tidak menurunkan Al-Qur'an ,dst, dst', ketika membaca kalimat tersebut, kita diposisikan oleh si Penulisnya untuk mengambil tempat berhadapan dengan-Nya, Dia bicara langsung kepada kita karena memakai kata ganti orang pertama, lalu ketika melanjutkan membaca 'yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan langit dan bumi', ketika itu posisi sudah berpindah, si penutur kalimat seolah-olah berada disamping, menceritakan tentang Allah 'disana' si Pencipta langit dan bumi, kita seolah-olah berada disatu ketinggian melihat luasnya langit dan bumi yang diciptakan-Nya, berinteraksi dengan alam raya sebagai bukti tentang keberadaan Allah. Kalau dibayangkan sebagai suatu shooting adegan film, posisi kamera yang sebelumnya berada dibelakang kita, mewakili mata kita untuk menatap sipenutur cerita telah berpindah, posisinya sekarang beralih berada disamping untuk mengarahkan pandangan kearah alam semesta, keberadaan kita tidak lagi tampak dalam layar, namun tergambar melalui mata kamera, sama-sama memandang alam yang ditangkap oleh kamera tersebut. 



Ini juga merupakan pertanyaan yang sering diajukan oleh pihak non-Muslim yang tidak memahami konsep Islam soal kesesatan manusia. Al-Qur’an jelas menyatakan bahwa setiap kesesatan yang terjadi memang merupakan kehendak-Nya, dan apabila Dia berkehendak untuk menyesatkan manusia, tidak ada sesuatupun yang sanggup untuk menyelamatkan manusia tersebut : 

Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan. ‪(An-Nahl: 93) 

Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. ‪(Ibrahim: 4) 

dan siapa yang disesatkan Allah, niscaya tidak ada baginya seorangpun yang akan memberi petunjuk. ‪(Ghaafir: 33)‪ 

dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya. ‪(Al-Kahf: 17) 

Pernyataan Al-Qur’an ini sangat jelas, bahwa kesesatan yang dialami manusia merupakan ‘hasil kerja’ Allah sendiri yang memang mengehendaki manusia tersebut tersesat, dan ketika Dia sudah menyesatkan manusia, maka tidak ada kekuasaan apapun yang mampu memberikan pertunjuk agar manusia tersebut bisa diselamatkan. Menanggapi soal ini, biasanya non-Muslim akan langsung bereaksi :”Tuhan seperti apa yang telah membuat manusia tersesat..??”, lalu mulai ‘berpromosi’ untuk mengajukan alternatif konsep ketuhanan mereka dengan menyatakan :”Tuhan kami Maha Kasih, Dia selalu mengharapkan agar manusia yang tersesat untuk kembali, bahkan Dia mau mengorbankan diri untuk itu. Tuhan yang benar adalah Tuhan yang menyelamatkan ketika tahu ada manusia yang tersesat, bukan malah mempergunakan kekuasaan dan kehendak-Nya untuk menyesatkan manusia..”. Sampai disini logikanya terkesan benar, namun terbentur kepada satu pertanyaan :”Kalau bukan atas dasar kehendak dan kuasa Tuhan, lalu atas kuasa siapa seseorang bisa menjadi tersesat..?? atas kehendak siapa seorang manusia bisa tersesat..?? Apakah ada kekuasaan dan kehendak diluar kuasa dan kehendak Tuhan yang mempunyai kemampuan untuk itu..??”. Kalau dikatakan kesesatan seseorang diakibatkan oleh kehendaknya dan kuasanya sendiri, maka ini bertentangan dengan fakta, bahwa bisa terjadi seseorang yang telah berusaha untuk menyesatkan dirinya namun atas kuasa dan kehendak Allah, dia tetap tidak akan tersesat. Kalau dikatakan kesesatan manusia tersebut merupakan kehendak dan kuasa syaitan dan Iblis, maka apabila Tuhan berkehendak agar manusia tersebut tidak tersesat, kuasa dan kehendak syaitan dan Iblis tidak akan bisa direalisasikan. Ini adalah pikiran yang masuk akal dan terjadi dalam kehidupan sehari-hari. 



Tentang adanya kisah kaum terdahulu yang dimuat dalam Al-Qur’an merupakan satu topik yang juga sering dipermasalahkan oleh umat Kristen, karena banyak terdapat kesamaannya, baik dengan kisah yang dimuat dalam alkitab maupun tercantum dalam kitab-kitab apokripa, yaitu dikategorikan sebagai cerita rakyat (folklore) Yahudi yang tidak dimasukkan dalam ayat-ayat alkitab. Kita sampaikan saja contohnya : Kisah soal burung gagak yang dijadikan contoh oleh Qabil bagaimana cara menguburkan mayat Habil yang dibunuh (al-Maaidah 31) mirip dengan kitab Tradisi yahudi kuno tulisan Pierke rabbi Eleazer (150M-200M) dan Jewish Mishnah Sandhedrin 4:5 yg ditulis pada abad 2, kisah Nabi Sulaiman dan singgasana ratu Bilqis (an-Naml 17-44) berkesuaian dengan Tarqum II Ester yang ditulis abad ke-2 SM, kelahiran Maryam (Ali Imran 35-37) mirip dengan buku apokripa The Protevangelion’s James the Lesser 4:4, 5:9 dan 7:4, cerita nabi Ibrahim menghancurkan berhala (as-Saaffaat 91-97) sama dengan yang dimuat dalam cerita rakyat Yahudi abad II Masehi yang dikarang oleh Midrash Rabbah hampir 4 abad sebelum Al-quran, Isa Almasih bicara dalam ayunan (Maryam 29-30) persis informasi yang tercatat dalam buku apokripa/dongeng Mesir abad II yang berjudul :”First Gospel of the Infancy of Jesus Christ” (kitab pertama tentang masa kanak-kanak yesus Kristus), mukjizat yang dilakukan Isa Almasih (Ali Imran 49) menghidupkan burung pipit sama dengan buku apokripa/dongeng abad II yang berjudul “Thomas’s Gospel of The Infancy of Jesus Christ” (Buku Thomas tentang masa kanak-kanak Yesus Kristus), kisah kehamilan Maryam dan kelahiran Isa Almasih (Ali Imran 45-47 dan Maryam 19-21) sama dengan cerita alkitab pada Lukas 30-35. 

Perlu diketahui bahwa tidak ada seorang Muslimpun membantah beberapa cerita dalam Al-Qur’an mempunyai kesamaan dengan kisah yang terdapat dalam khazanah Yahudi, baik dalam maupun diluar alkitab, karena kenyataannya memang demikian. Islam mengakui nabi-nabi terdahulu yang datang dari kaum Yahudi, orangnya itu-itu juga dan tentu saja cerita mereka tetap sama. 

Apa itu dongeng, apa itu folklore atau cerita rakyat..?? Sejak SD kita umumnya telah mendapat pelajaran sastra, yang membahas tentang dongeng (para ahli soal ini biasanya menyebut istilah : Folklore). Masih terekam dalam ingatan bahwa guru SD kita pernah menjelaskan, dongeng terdiri dari beberapa jenis. Ada yang namanya : fabel, yaitu dongeng yang ada dalam masyarakat bersumber dari cerita tentang hewan, misalnya : sang kancil, burung gagak dan srigala, lalu ada yang namanya : legende, yaitu dongeng yang berhubungan dengan tempat-tempat tertentu, misalnya : kisah Sangkuriang di Tangkuban Perahu, Situ Bagendit, Loro Jonggrang, ada juga dongeng berasal dari cerita disekitar dewa-dewi yang dinamakan : mite, misalnya Dewi Sri, lalu ada dongeng yang dikembangkan dari kisah sejarah yang benar-benar terjadi dinamakan : sage, misalnya : Joko Tingkir, Ken Arok dan Ken Dedes, Hang Tuah. 


 
Masjid di kompleks kami punya seorang tenaga kerja harian, pak Sarip namanya. Beliau penduduk kampung sebelah yang sehari-hari bekerja sebagai tukang sampah. Masjid lalu mengupah pak Sarip untuk membersihkan kamar mandi, tempat wudhu dan jalanan disekitar diluar jam kerjanya sebagai tukang sampah, biasanya beliau hadir setiap maghrib dan shubuh. Hampir setiap shubuh saya selalu bertemu dengan pak Sarip yang sedang mengepel lantai teras, menyapu jalanan, membersihkan kamar mandi dan tempat wudhu. Namun selain itu beliau adalah jamaah yang rajin, selalu ikut shalat berjamaah. Hebatnya masih sempat berganti baju yang rapi, lengkap dengan kopiah dan sarung. Setiap pengajian dan ceramah pak Sarip juga hadir, kadang-kadang ikut mengajukan pertanyaan dengan bahasa yang sering mengundang tawa, jauh dari kedalaman intelektual. Tidak jarang pula ketika tiba saatnya waktu shalat dan kebetulan tidak ada orang yang adzan, pak Sarip-lah yang melantunkan adzan, dan lagi-lagi dengan lafadz yang tidak begitu sempurna. 

Tidak sulit untuk membaca keadilan Allah dalam urusan ini. Seandainya surga disediakan hanya untuk orang beriman yang pintar, banyak membaca buku, ilmu yang dalam, menguasai bahasa Arab, punya banyak referensi kitab para mufassir, tidak lupa dilengkapi dengan kajian orientalis, maka tidak ada tempat buat pak Sarip di surga. Namun surga disediakan bagi orang yang bertaqwa, dengan tingkat dan kemampuan berpikirnya masing-masing bisa merasakan takut dan tunduk kepada Allah, lalu mengerjakan semua perintah dan menghindari semua larangan atas dasar rasa takut dan tunduk tersebut. Surga disediakan buat orang yang punya koneksi dengan Allah sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur’an : 

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia. (al-Anfaal 2-4) 


 
Al-Qur’an memakai banyak istilah untuk roh/nyawa/jiwa (untuk selanjutnya saya memakai istilah : nyawa), sebagai ‘sesuatu yang non-materil’ yang ada dalam diri kita, yang bersatu dengan jasad dan membuat kita menjadi hidup. Kadang-kadang memakai kata ‘nafs’, dilain waktu memakai istilah ‘ruh’. Namun kata ‘nafs’ tidak selalu merujuk kepada unsur non-materil tapi juga bisa dipakai untuk menunjukkan diri manusia secara keseluruhan, baik jasad maupun nyawa yang ada didalamnya, misalnya pada ayat ini : 

Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. (al-Maadiah 32) 

Kata ‘membunuh manusia’ diterjemahkan dari bahasa Al-Qur’an ‘qatala nafsan - membunuh nafs – tentu saja yang dimaksud disini bukan nyawanya yang dibunuh, karena nyawa tidak bisa mati, maka kata ‘nafs’ disini berarti manusia secara keseluruhan, manusia hidup yang terdiri dari jasad dan nyawa. Demikian pula dengan istilah ‘ruh’, kata tersebut juga memiliki banyak pengertian, juga diartikan sebagai : malaikat Jibril (al-Qadr 4), Al-Qur’an (asu-Shura 52), rahmat Allah (al-Mujadalah 22), disamping untuk menunjukkan nyawa yang ada dalam diri kita. 

Istilah ‘hidup’ diartikan ‘bersatunya nyawa dengan jasad’ sedangkan kata ‘mati’ berarti sebaliknya, yaitu terpisahnya nyawa dengan jasad manusia. Dalam ayat lain Allah menjelaskan soal proses kematian : 

Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu" (al-An’aam 93) 

Jelas dikatakan ketika seseorang dalam keadaan skharatul maut, maka malaikat mencabut nyawa dengan penggambaran perkataan ‘akhrijuu anfusakum’keluarkanlah nafs-mu – untuk menunjukkan proses terpisahnya nyawa dengan jasad, proses ini dikatakan sebagai kematian. Sebaliknya dalam menjelaskan soal ‘kehidupan’, Al-Qur’an menyatakan : 

Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (as-Sajadah 7-9) 



Islam mengajarkan, disaat kita mati maka semua manusia membawa 2 koper bekal untuk dipertanggung-jawabkan pada fase kehidupan selanjutnya. Kedua koper tersebut masing-masing berisi pahala dan dosa, sebagai nilai ‘konversi’ dari perbuatan baik maupun buruk yang kita lakukan selama hidup di dunia. Semua manusia tanpa terkecuali membawa bekal tersebut, bedanya mungkin terletak pada kuantitas dan kualitas pahala dan dosa. Ada manusia yang koper pahalanya terisi penuh dan sebaliknya koper dosanya cuma terisi setengahnya. Ada juga yang membawa dosa namun karena sempat bertaubat dan diterima Allah maka bekalnya tersebut kelak sudah tidak lagi diperhitungkan. Namun semuanya pasti membawa kedua koper tersebut. 

Islam juga mengajarkan bahwa manusia yang masuk kategori sebagai penghuni surga bukanlah manusia yang selama hidupnya tidak pernah berbuat dosa, sebaliknya calon penghuni neraka juga bukan manusia yang tidak pernah berbuat kebaikan. Al-Qur’an menginformasikan bahwa semua perbuatan kita, sekalipun sebesar ‘zarrah’ akan dihitung tanpa terkecuali. Maka selain keimanan yang ada dalam qalbu, semua catatan perbuatan baik dan buruk tersebut akan ditimbang, ada proses ‘off-set’ antara pahala dan dosa, pahala menghapus dosa, dan sebaliknya dosa juga menghapus pahala, lalu kita tinggal menunggu bagaimana hasil akhirnya. Menghitung keseimbangan pahala dan dosa juga tidak hanya berurusan dengan soal kuantitas dari perbuatannya saja, kualitas juga memegang peranan. Jangan menganggap remeh dosa kecil, anda misalnya menganggap menyebarkan paku di jalanan hanya perkara sepele, namun bisa membuat bus yang isinya puluhan orang terguling, atau melukai seseorang dan berakibat kena tetanus, orang tersebut kemudian menderita bertahun-tahun karenanya. Bisa dibayangkan berapa catatan dosa yang mesti anda terima.. 

Pahala bukan hanya hasil dari perbuatan baik semisal menolong orang, rajin beribadah, shalat, puasa, zakat, infaq, sedekah, tapi juga ketika kita ikhlas dan sabar menerima musibah dan cobaan yang ditetapkan Allah, apapun bentuknya.. 

Ini adalah ajaran yang masuk akal, sederhana dan gampang diterima oleh siapapun. Sekalipun orang tersebut bukan pemeluk Islam atau bahkan penganut atheisme sekalipun, mereka dengan mudah bisa menerima konsep ini dan berkata :”Kalau memang prosesnya demikian, memang sangat masuk akal..”. 



Rasululllah bercerita tentang seorang pengembara yang telah melakukan perjalanan jauh, berambut kusut dan pakaian berdebu. Kondisinya menunjukkan bagaimana penderitaan yang sudah diterimanya dalam waktu sekian lama, perjalanan jauh menunjukkan bahwa dia tidak memiliki tempat berdiam yang nyaman dan tetap, rambut kusut menggambarkan sudah tidak ada lagi waktu memikirkan diri sendiri, dan pakaian lusuh dan berdebu memperlihatkan kefakirannya. Ditengah padang pasir tandus dia menengadahkan kedua tangannya kelangit, memasrahkan diri kehadirat ilahi, seraya berseru :”Wahai Rabb…, wahai Rabb….”, namun do’a tidak berjawab… Para sahabat yang mendengar kisah tersebut berkata :”Tidak mungkin Allah tidak mendengarkan do’a hamba-Nya yang sengsara tersebut, dia sudah berjalan jauh mencari Allah, mengalami penderitaan yang sangat berat, tidak lagi sempat memikirkan dirinya sendiri….”. Rasulullah berkata :”Bagaimana Allah mengabulkan do’a orang tersebut karena dalam dirinya mengalir darah dari minuman yang haram, dalam dagingnya mengendap makanan yang haram, tenaga dan pikirannya dihasilkan dari sesuatu yang haram…??”. 

(Cerita bebas bersumber dari hadist Rasulullah) 

Dari Abu Hurairah –Radhiallahu ‘Anhu berkata: Telah bersabda Rasulullah –Shallalahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam: “Sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima sesuatu kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin (seperti) apa yang telah diperintahkan kepada para rasul, maka Allah telah berfirman: 

“Wahai para Rasul, makanlah dari segala sesuatu yang baik dan kerjakanlah amal shalih” (QS. Al-Mukminuun: 51). 

“Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa-apa yang baik yang telah Kami berikan kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 172). 


 
Tulisan ini pernah dimuat dalam forum debat lintas agama Swaramuslim yang sudah tutup, karena saya lihat masih banyak pertanyaan dari non-Muslim terkait soal ini, saya muat kembali.. 

Pendapat umum yang diungkapkan netters Kristen tentang surga dan keselamatan dalam Islam adalah ibarat juragan pemilik angkot dengan sang sopir angkot, si sopir ditargetkan oleh si pemilik untuk mengusahakan kendaraan miliknya untuk mendapat jumlah uang tertentu, lalu si sopir memperoleh imbalan dari setoran yang dia berikan kepada sang juragan, bedanya mungkin kalau si pemilik angkot ikut mendapatkan bagian dari setoran tersebut, maka Tuhan akan mengembalikan semua ‘setoran’ hamba-Nya untuk kemanfaatan dan kenikmatan dari hamba itu sendiri. Makanya sering kita dengar tuduhan netters Kristen yang mengatakan bahwa umat Islam bertindak seperti robot, melakukan ibadah yang ‘kering’ dengan iman, yang penting mengisi hidup dengan semua aturan yang ditetapkan Tuhan, lalu tinggal menghitung-hitung apakah semua perbuatan tersebut sudah layak diganjar dengan surga. Tuhan, dalam pandangan seperti ini seolah-olah ‘tidak bisa berbuat lain’ dan harus memberikan imbalan sesuai apa yang Dia janjikan sendiri, karena kalau tidak, artinya Tuhan sudah menyalahi janji-Nya kepada kaum Muslim. 

Sebaliknya netters Kristen membanggakan diri mereka (terutama yang Protestan) dengan mengatakan bahwa surga semata-mata merupakan anugerah Tuhan dan semua perbuatan baik kita tidak akan mampu membuat kita masuk kesana, maka yang menentukan seorang Kristen mendapat keselamatan dan surga adalah karena iman, hati yang selalu dekat dengan Tuhan, mungkin juga melalui adanya roh kudus yang bersemayam didalam dada. 



Pada suatu kesempatan memberikan ceramah, ustadz Athian Ali dari Bandung bercerita soal ulama. Katanya istilah ‘ulama merupakan bentuk jamak dari kata ‘alim, artinya : orang yang berilmu, dalam istilah ini yang dimaksud dengan ilmu, tidak terbatas hanya kepada ilmu agama saja tapi semua ilmu, tidak peduli apakah itu ilmu yang baik atau buruk, ilmu putih atau hitam. Ketika sekumpulan orang-orang berilmu, atau ‘alim tersebut berkumpul, maka kelompok tersebut dinamakan ‘ulama. Jadi kalau serombongan ahli copet atau maling berkumpul maka mereka sudah berhak dipanggil dengan ‘ulama, kumpulan orang berilmu copet atau maling. Lalu kelompok maling tersebut membuat suatu organisasi, wadah tempat mereka melakukan kegiatan, ada ketua dan sekretaris, pakai AD/ART dan program kerja, kita akan menyebutnya dengan majelis, yaitu organisasi tempat berkumpulnya ‘ulama, para ahli copet/maling tadi. Dan karena perkumpulan tersebut didirikan di Indonesia, tidak ada salahnya kalau kemudian organisasi tersebut diberi judul Majelis ‘Ulama Indonesia, disingkat dengan MUI, sudah sah menurut arti kata dan bahasanya. 

Lelucon tersebut disampaikan ustadz Athian disekitar tahun 80’an, ketika beliau masih muda, terkenal dengan ceramah yang ‘menyikut’ kiri-kanan. Kebetulan ketika itu disampaikan dimasjid Istiqomah – Bandung, lokasinya pas di sebelah kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) – Jawa Barat, pengurusnya diisi oleh para ulama senior. Saya tidak tahu apa kejadian selanjutnya, soalnya ceramah beliau disampaikan lengkap dengan pengeras suara sehingga terdengar kemana-mana. termasuk ke kantor MUI. Waktu itu dijaman Orde Baru, lagi hangat-hangatnya sorotan kepada MUI yang dituduh hanya merupakan stempel pemerintah setelah ditinggalkan oleh buya HAMKA. Pandangan umat Islam, terutama para mahasiswa terhadap MUI benar-benar sudah berada pada titik nadir. 

Yang jelas saat ini ustadz Athian Ali juga dikenal sebagai ulama, pihak yang disindirnya dulu, beliau mengetuai FUUI – Forum Ulama Ummat Indonesia. Entah sejak kapan ustadz Athian Ali memiliki status sebagai ulama. 



Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (al-Anfaal 2) 

Dulu saya pernah mendapat satu pertanyaan tentang Tuhan :”Apakah bisa Tuhan yang Maha Berkehendak dan Maha Adil untuk berkehendak tidak adil..?”. Ini pertanyaan khas orang yang kurang kerjaan memang, sama seperti halnya pertanyaan :”Apakah Tuhan yang Maha Pencipta dan Maha Kuasa bisa menciptakan sebuah batu yang tidak kuasa untuk diangkat-Nya..?”. 

Al-Qur'an sendiri menyatakan bahwa pemahaman tentang keberadaan Tuhan dalam diri manusia sudah ditanamkan sejak manusia belum dilahirkan : 

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)" (al-A’raaf 172) 

Al-Qur'an punya pemilihan kata yang akurat tentang sebutan Tuhan dalam ayat ini, karena Tuhan disebut dengan 'rabb' :"Bukankah Aku ini rabb-mu..?", Al-Qur'an tidak menyatakan 'illah', sebagai suatu kata lain bahasa Arab yang juga diartikan sebagai Tuhan. 'Rabb' memiliki arti sebagai Tuhan Sang Pencipta, sedangkan 'illah' lebih diartikan 'Tuhan Yang Disembah'. Kita tentu boleh bertanya :"Lho...saya nggak ingat bahwa sebelumnya saya pernah mengadakan perjanjian dengan Tuhan..", lalu kita menyimpulkan bahwa perjanjian tersebut tidak pernah ada, sekalipun itu adalah suatu sikap yang 'konyol', karena banyak juga peristiwa dan kejadian ketika kita masih kecil yang terlupa namun tidak membuat peristiwa tersebut dikatakan tidak pernah ada, sesuatu dikatakan pernah/tidak pernah terjadi bukan tergantung kita ingat atau tidak. Lagipula Tuhan menempatkan 'kesepakatan' tersebut bukan pada kesadaran kita, tapi pada alam bawah sadar kita. Naluri manusia adalah makhluk yang beriman kepada Tuhan. Seseorang bisa saja menyangkal keberadaan Tuhan, menjadi atheis, namun pada saat yang sama dia otomatis telah memper-Tuhan-kan yang lain. Orang menyatakan bahwa tidak ada Tuhan, yang ada hanyalah materi, maka 'materi' telah berfungsi menjadi Tuhan bagi dirinya. Bahkan ketika seseorang menyatakan 'Tidak ada Tuhan' maka kondisi 'Tidak ada Tuhan' sudah berfungsi sebagai Tuhan bagi dirinya, karena dia kemudian akan menggantungkan semua hasrat dan harapannya kepada kondisi tersebut. Manusia tidak bisa melepaskan diri dari naluri sebagai makhluk yang ber-Tuhan. 



Kisah ini dimulai Al-Qur'an dengan pernyataan nabi Musa terhadap seorang murid yang mengikutinya, bahwa dia bertekad tidak akan berhenti melakukan pengembaraan untuk menemukan seseorang, tempat dia akan belajar dan mendapatkan ilmu yang tidak dia ketahui [QS 18:60]. Tidak dijelaskan apa sebab musabab nabi Musa melakukan pengembaraan ini, beberapa ahli tafsir berpendapat bahwa sebelumnya nabi Musa pernah 'kelepasan omong' menyatakan kepada murid-muridnya bahwa sebagai seorang nabi dan rasul dia telah diberikan ilmu yang melebihi siapapun di dunia. Allah lalu menegur kesombongan ini dan memerintahkan nabi Musa untuk mencari seorang guru yang akan membuktikan, bahwa ilmu yang dibangga-banggakan nabi Musa tersebut sebenarnya tidak ada apa-apanya dibandingkan yang dimiliki oleh orang tersebut. Ketika perjalanan nabi Musa sampai kepada pertemuan dua lautan, terjadi keajaiban, ikan goreng bekal makanan yang dibawa tiba-tiba hidup dan melompat kelaut, ini merupakan pertanda bahwa ditempat itulah beliau akan menemukan orang yang dimaksud [QS 18:61-65]. 

Singkat cerita ketika nabi Musa telah menemukannya (sebagian ahli tafsir sepakat bahwa orang yang dimaksud adalah nabi Khidir, seorang nabi 'idola' dari kaum sufi Islam karena dianggap memiliki ilmu-ilmu ghaib yang tidak masuk akal, untuk selanjutnya saya menyebutnya dengan nabi Khidir) lalu nabi Musa meminta untuk mengikuti nabi Khidir agar bisa mendapat pelajaran tentang ilmu yang tidak dimilikinya. 



Nabi bersabda, "Tahukah kalian siapa sebenarnya orang yang bangkrut?" Para sahabat menjawab, "Orang yang bangkrut menurut pandangan kami adalah orang yang tidak memiliki dirham (uang) dan tidak memiliki harta benda". Kemudian Rasulullah berkata, "Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari Kiamat membawa pahala shalat, pahala puasa dan zakatnya, (tapi ketika hidup di dunia) dia mencaci orang lain, menuduh orang lain, memakan harta orang lain (secara bathil), menumpahkan darah orang lain (secara bathil) dan dia memukul orang lain, lalu dia diadili dengan cara kebaikannya dibagi-bagikan kepada orang ini dan kepada orang itu (yang pernah dia zhalimi). Sehingga apabila seluruh pahala amal kebaikannya telah habis, tapi masih ada orang yang menuntut kepadanya, maka dosa-dosa mereka yang didzalimi ditimpakan kepadanya, dan pada akhirnya dia dilemparkan kedalam neraka (Shahih Muslim No.4678, Tirmidzi No. 2342) 

Siapakah kira-kira yang dimaksud ‘orang lain’ yang disebut dalam hadits tersebut? Apakah mungkin mereka itu orang yang tinggalnya jauh dari kita.? Misalnya anda yang tinggal di Indonesia, maka ‘orang lain’ yang dimaksud Rasulullah adalah Mr. Smith di Amerika Serikat, atau Nakamura-san di Tokyo, Mr. Mugabe di Afrika..? Lalu kapan adanya kesempatan kita berinteraksi dengan mereka sehingga memunculkan kedzaliman dan sikap menyakiti..?. Bagaimana mungkin bisa dikatakan kita melakukan dosa padahal kenalpun tidak..?. 

Maka ‘orang lain’ yang dimaksud oleh hadist tersebut pastilah orang-orang terdekat kita. Anda tahu siapa mereka..? mereka adalah keluarga kita, istri atau suami, anak-anak, orang-tua, saudara, tetangga kiri dan kanan, jamaah masjid, rekan sekantor, teman sekolah, karyawan dan anak buah kita, itulah ‘orang lain’ yang bisa menyeret kita ke neraka akibat kedzaliman yang kita lakukan terhadap mereka.