Links
Labels
- Akhlak (25)
- Al-Qur'an (30)
- Aqidah (9)
- Demokrasi (5)
- Dunia Islam (42)
- Hadits (1)
- Ibadah (16)
- Kontra Liberalisme (15)
- Muamalah (20)
- Pembelaan Iman (13)
- Pemikiran Islam (53)
- Sejarah Islam (6)
- Syari'at (14)
- Tafsir (23)
Popular Posts
Jumlah Kunjungan
Arsip
- January 2025 (1)
- November 2024 (1)
- March 2024 (1)
- October 2019 (1)
- February 2018 (92)
- January 2018 (1)
- April 2014 (1)
- March 2014 (6)
- December 2013 (3)
- November 2013 (3)
- October 2013 (4)
- September 2013 (8)
- May 2013 (1)
- April 2013 (1)
- March 2013 (3)
- February 2013 (2)
- December 2012 (2)
- November 2012 (2)
- October 2012 (5)
- September 2012 (2)
- August 2012 (5)
- July 2012 (14)
- June 2012 (18)
- May 2012 (54)
Artikel Terbaru MMT
-
Gagal Pahamnya Kristen Dalam Memahami Istilah Malaikat Tuhan - *Oleh : Fachrudin.* Adanya keyakinan Kristen tentang Allah bisa menjelma dan akhirnya bisa melakukan inkarnasi, yang menurut mereka hal tersebut adalah s...
-
Arsip kajian Islam - *بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ* Assaamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Keberadaan orang orang yang ingin menghancurkan Islam dengan berbagai ...
-
Diskusi Arda Chandra dan Wawan Kardiyanto; Kewajiban memakai Jilbab.. - Bermula dari status Wawan Kardiyanto yang memuat berita tentang Najwa Shihab yang tidak memakai jilbab, lalu dia menulis komentar : YANG JARANG DIPAHAMI ...
-
Atasi Krisis Air, ACT Siapkan 237 Truk Tangki Berisi Air - Tim Emergency Response Aksi Cepat Tanggap untuk Bencana Kekeringan, menyiapkan 237 truk tanki berisi air bersih untuk didistribusikan ke beberapa wilayah...
-
Perkataan Nabi Menjadi Bumerang Untuknya? - * Oleh Surya Yaya* Seorang Penghujat Islam membuat tulisan dengan judul :Sesumbar-sesumbar Muhammad yg menjadi bumerang bagi dirinya 1) Kalau dia mengada-...
-
Persoalan nabi Muhammad meninggal karena diracun - *Pertanyaan :* Berdasarkan hadits Bukhari dalam versi bahasa Inggeris ini : *Narrated 'Aisha: The Prophet in his ailment in which he died, used to say, "O...
-
Pembinaan Mualaf Perlu Pahami Psikologis Dan Siap Berkorban Waktu - Pembinaan mualaf yang kurang optimal ditenggarai akibat perhatian umat Islam yang kurang, selain itu juga disebabkan minimnya inovasi atau pembaruan tekni...
-
Ebook 'Combat Kit' By Penjaga Kitabullah - Assalamualaikum wr wb, saudara-saudaraku umat Islam sekalian….. Alhamdulillah Kompilasi seluruh judul Notes sudah dapat saya selesaikan, silahkan di down...
-
-
Powered by Blogger.
Showing posts with label Aqidah. Show all posts
Showing posts with label Aqidah. Show all posts
Ini sebuah cerita tentang penulis Islam terkenal, Muhammad Asad (sebelumnya bernama Leopold Weiss - seorang Yahudi keturunan Austria-Hongaria) yang baru saja masuk Islam, lalu melakukan perjalanan ke Timur Tengah dengan sebuah kapal laut. Diatas kapal itu dia berkenalan dengan serombongan orang Yaman..
"Diantara orang-orang Yaman yang ada di kapal tersebut, ada seorang yang bertubuh pendek, kurus dan memiliki hidung seperti elang yang membuat wajahnya terlihat sangar, tapi gerakannya sangat tenang dan terukur. Ketika dia mengetahui bahwa saya adalah seorang mualaf, dia menunjukkan perhatian yang sangat khusus kepada saya. Untuk beberapa waktu kami duduk bersama diatas dek kapal sementara dia berbicara tentang kampungnya di daerah pegunungan di Yaman, namanya : Muhammad Saleh.
Pada suatu malam, saya mengunjungi tempatnya yang berada di dek paling bawah, salah seorang temannya terbaring sakit, tergeletak pada sebuah tempat tidur besi. Dan saya di beritahu oleh mereka ternyata dokter kapal enggan untuk datang ketempat mereka. Kelihatannya temannya tersebut terserang malaria. Lalu saya memberinya beberapa butir pil kina. Sementara saya sedang sibuk dengan si sakit, orang-orang Yaman tersebut berkumpul di sudut lain berkeliling mengitari Muhammad Saleh dan sambil sesekali melirik kepada saya, Muhammad Saleh memberikan penjelasan kepada rekan-rekannya. Pada akhirnya salah seorang dari mereka maju mendekati saya -seorang pria tinggi dengan wajah berwarna zaitun coklat dan mata yang hitam dan tajam, dan dia menyodorkan seikat uang kertas Franc yang kusut lalu berkata :"Kami tadi telah mengumpulkan ini., sayangnya tidak begitu banyak, terimalah ini sebagai tanda penghargaan dari kami..".
Saya melangkah mundur, kaget, dan menjelaskan bahwa bukan karena uang tersebut saya bersedia menolong temannya yang sakit. Orang yaman tersebut menjawab :"Tidak..tidak.., kami tahu itu, tapi terimalah uang ini, ini bukan bayaran melainkan hadiah dari saudara-saudara anda. Kami sangat bahagia melihat anda, oleh karena itu kami bermaksud memberi anda uang ini, anda adalah seorang Muslim dan saudara kami, anda bahkan lebih baik daripada kami semua, karena kami ini terlahir sebagai Muslim, nenek moyang kami adalah Muslim, namun anda menerima Islam dengan hatimu sendiri. Terimalah uang ini saudaraku, demi Rasulullah..".
Label:
Akhlak,
Aqidah,
Dunia Islam,
Muamalah,
Pemikiran Islam
|
0
komentar
Seseorang pernah bercerita tentang sahabatnya yang non-Muslim..
"Saya memiliki sahabat karib yang bukan pemeluk Islam. Terus-terang saja, orangnya sangat baik, semua akhlak yang diajarkan dalam Islam dia praktekkan ditengah-tengah kelakuan umat Islam yang sebaliknya, lebih banyak menjalankan kehidupan bergaya orang-orang kafir. Teman saya tersebut sangat dermawan dan suka menolong, selalu tersenyum, tidak pernah menyakiti orang lain. Bahkan ketika masuk waktu shalat, malah dia yang rajin untuk mengingatkan saya. Sekalipun bukan Muslim tapi dirumahnya tersedia sajadah kalau-kalau ada temannya yang beragama Islam berkunjung kesana dan melakukan shalat". "Dalam urusan agama, dia tidak pernah meributkan ajaran agama lain, tidak mempermasalahkan dan sebaliknya juga tidak mau keyakinannya disinggung-singgung. Sahabat saya tersebut pernah berkata bahwa dia menghargai ajaran agama apapun. Kalau saya lihat, pemahamannya terhadap Islam sangat sedikit karena memang tidak berminat untuk mendalaminya".
Orang ini lalu melanjutkan dengan pertanyaan :"Apakah orang seperti ini harus masuk neraka..?, dia sama sekali tidak memahami Islam, akhlaknya baik layaknya seorang Muslim yang mematuhi setiap aturan dalam agamanya".
Saya sendiri mengalami hal yang serupa. Anak saya memiliki teman akrab yang rada-rada aneh, yang satu beragama Katolik dan yang satu lagi dari Saksi Jehova. Saya katakan aneh karena dilihat dari perspektif ajarannya, jangankan antara Islam dengan non-Islam, katolik dan Saksi Jehova juga tidak bisa dikatakan sebagai dua denom Kristen yang akur sekalipun sama-sama berpegang kepada alkitab. Mereka sering kumpul dan kalau pergi selalu bersama-sama, saling membantu, sangat kompak. Kalau saya perhatikan, kerukunan diantara mereka terjadi karena masing-masing tidak pernah mempermasalahkan keyakinan yang dianut pihak lain, semuanya menerima apa adanya. Sekarang ini kerukunan seperti itu harganya terasa sangat mahal, bahkan dikalangan sesama umat Islam sendiri. Saya yakin, kalau anak saya dikasih tahu tentang bagaimana nasib orang-orang kafir kelak di akhirat, dia pasti akan keberatan dan 'tidak ikhlas' melihat sahabat karibnya tersebut harus masuk neraka.
Al-Qur'an sebenarnya 'membuka peluang' soal non-Muslim yang tidak akan dihukum di neraka karena kekafirannya, sekalipun tidak dijelaskan bagaimana Allah akan menyelamatkan mereka dari azab :
..dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul. (Al-Israa' 15)
Pemahaman ayat ini bisa dua hal, pertama, orang-orang kafir yang tidak sampai risalah Islam kepada mereka, maka tidak ada azab dan hukuman Allah. Kedua, secara tersirat merupakan pernyataan Allah bahwa Dia tidak akan membiarkan satu orangpun yang terlepas dari petunjuk-Nya.
Label:
Aqidah,
Muamalah,
Pemikiran Islam
|
3
komentar
Kisah pertaubatan manusia pertama kali dilakukan oleh Adam dan Hawa ketika mereka melanggar larangan Allah. Al-Qur’an mengisahkan :
Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan". Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (Al-Baqarah 36-37)
Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. Allah berfirman: "Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan". (Al-A’raaf : 23-24)
Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk. Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (Thaha 122-123)
Kalau dilihat kronologis kisah pertaubatan Adam dan Hawa ini berdasarkan ketiga informasi ayat Al-Qur’an diatas, maka kita bisa menyimpulkan bahwa pernyataan taubat sudah disampaikan sebelum mereka diturunkan kebumi, kemudian penerimaan Allah terhadap taubat tersebut terjadi mulai dari ucapan Adam dan Hawa sampai setelah mereka diturunkan. Apa maknanya..?
Label:
Akhlak,
Al-Qur'an,
Aqidah,
Ibadah
|
0
komentar
Tulisan ini saya sampaikan tahun lalu di forum diskusi Muslim-Menjawab, dan cukup relevan dihadirkan kembali. Natal sudah mendekat beberapa hari lagi. Kalau dilihat bagaimana kemeriahan natal di negeri ini yang hampir sama meriahnya dengan perayaan Idul Fitri, padahal penduduk Katolik/Kristen yang merayakannya berjumlah hanya 10% dari total penduduk yang mayoritas Muslim. Melihat kenyataan ini seharusnya bagi umat Kristen yang tahu dan memahami, akan berterima kasih kepada saudara-saudara mereka yang Muslim, bahwa secara umum umat Kristen dijaga dan dilindungi untuk bisa menjalankan ajaran agama mereka dengan tenang dan tenteram. Lihatlah kemeriahannya, hampir semua mal dan pusat perbelanjaan meriah dengan nuansa natal, karyawan dan karyawatinya memakai (atau terpaksa memakai) topi Sinterklas, ada promosi berupa 'Christmas Sale', warna ruangan dominan berwarna merah, yang merupakan ciri khas natal. Begitulah sikap umat Islam di negeri ini, sesuatu yang barangkali tidak mereka dapatkan di negeri dimana mereka menjadi minoritas.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Terjadi perbedaan pendapat para ulama tentang boleh atau tidaknya seorang Muslim menyampaikan ucapan selamat natal kepada umat Kristen yang merayakannya. Umumnya pihak yang membolehkan beranggapan bahwa terdapat pemisahan antara natal sebagai suatu ritual ibadah/misa dan natal sebagai suatu perayaan hari kelahiran, seperti halnya dengan perayaan ulang tahun seseorang. Pendapat ulama yang membolehkan penyampaian ucapan selamat natal menyatakan bahwa ucapan tersebut sebagai bentuk tahni’ah/ucapan selamat dan penghormatan, bahkan menurut Yusuf Qadrawi mengkategorikan hal ini sebagai al-birr – perbuatan yang baik – sesuai Al-Qur’an surat al- Mumtahanah 8 dan an-Nisaa 86. Di Indonesia sendiri kita tidak menemukan adanya fatwa MUI yang menetapkan apakah mengucapkan selamat natal diharamkan atau tidak, yang ada hanyalah fatwa MUI thn 1981 yang menyatakan tentang tidak boleh mengikuti perayaan natal bersama, bukan soal mengucapkan selamat natal. Disini bisa dilihat bahwa MUI-pun membedakan antara natal sebagai suatu ritual ibadah dengan natal sebagai suatu perayaan hari kelahiran.
Sikap MUI ini tergambar juga dengan pernyataan Dien Syamsudin, Sekjen MUI sekaligus Ketua Umum PP Muhammadiyah yang menyatakan : “Kalau hanya memberi ucapan selamat tidak dilarang, tapi kalau ikut dalam ibadah memang dilarang, baik orang Islam ikut dalam ritual Natal atau orang Kristen ikut dalam ibadah orang Islam,". Setali tiga uang, dulu semasa hidupnya Gus Dur juga tidak mempermasalahkan ucapan Natal dari seorang Muslim dengan alasan :"Perayaan Natal adalah perayaan hari kelahiran Isa Almasih, jadi sebagai umat Islam yang mengakui kenabian beliau, tidak masalah kalau kita juga ikut merayakannya..".
Label:
Akhlak,
Aqidah,
Dunia Islam,
Ibadah,
Pemikiran Islam,
Syari'at
|
0
komentar
Masjid di kompleks kami punya seorang tenaga kerja harian, pak Sarip namanya. Beliau penduduk kampung sebelah yang sehari-hari bekerja sebagai tukang sampah. Masjid lalu mengupah pak Sarip untuk membersihkan kamar mandi, tempat wudhu dan jalanan disekitar diluar jam kerjanya sebagai tukang sampah, biasanya beliau hadir setiap maghrib dan shubuh. Hampir setiap shubuh saya selalu bertemu dengan pak Sarip yang sedang mengepel lantai teras, menyapu jalanan, membersihkan kamar mandi dan tempat wudhu. Namun selain itu beliau adalah jamaah yang rajin, selalu ikut shalat berjamaah. Hebatnya masih sempat berganti baju yang rapi, lengkap dengan kopiah dan sarung. Setiap pengajian dan ceramah pak Sarip juga hadir, kadang-kadang ikut mengajukan pertanyaan dengan bahasa yang sering mengundang tawa, jauh dari kedalaman intelektual. Tidak jarang pula ketika tiba saatnya waktu shalat dan kebetulan tidak ada orang yang adzan, pak Sarip-lah yang melantunkan adzan, dan lagi-lagi dengan lafadz yang tidak begitu sempurna.
Tidak sulit untuk membaca keadilan Allah dalam urusan ini. Seandainya surga disediakan hanya untuk orang beriman yang pintar, banyak membaca buku, ilmu yang dalam, menguasai bahasa Arab, punya banyak referensi kitab para mufassir, tidak lupa dilengkapi dengan kajian orientalis, maka tidak ada tempat buat pak Sarip di surga. Namun surga disediakan bagi orang yang bertaqwa, dengan tingkat dan kemampuan berpikirnya masing-masing bisa merasakan takut dan tunduk kepada Allah, lalu mengerjakan semua perintah dan menghindari semua larangan atas dasar rasa takut dan tunduk tersebut. Surga disediakan buat orang yang punya koneksi dengan Allah sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur’an :
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia. (al-Anfaal 2-4)
Label:
Al-Qur'an,
Aqidah
|
0
komentar
Siapa yang bisa dikatakan sebagai kelompok sesat dalam Islam..? Sebagian orang bilang Ahmadiyah termasuk didalamnya, yang lain mengatakan Syi’ah adalah aliran sesat, banyak dari ulama yang menyatakan beberapa aliran tasawuf sudah tersesat, jangan tanya sama orang yang mengaku kelompok Wahabi atau Salafi, hampir semua umat Islam yang tidak ikut dalam kelompok tersebut sudah pasti dikategorikan sesat oleh mereka.
Marilah kita memegang pedoman dasar untuk menyatakan diri sebagai seorang Muslim atau tidak, apakah kita masih memegang kalimat shahadah – laa illaha illa Allah Muhammad Rasulullah – apakah kita meyakini bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, apakah kita termasuk orang-orang selalu berusaha mengidentifikasikan diri, termasuk segala tingkah-laku kita kepada apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah, artinya juga kita mengimani bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang harus diikuti, dan hadits merupakan sumber informasi dalam mengimplementasikan ajaran Islam oleh nabi Muhammad SAW. Kalau kita sudah berpegang kepada kedua hal tersebut maka tidak ada alasan untuk tidak mengatakan kita adalah seorang Muslim, tidak peduli bagaimanapun model penafsiran terhadap aturan-aturan Islam. Berdasarkan ini maka kita bisa mengatakan Ahmadiyah bukanlah termasuk pemeluk Islam karena mereka telah menambah-nambah Al-Qur’an dengan kitab suci lain yang ditempatkan sejajar, juga mengidentifikasikan tingkah-laku kepada orang lain yang juga disejajarkan dengan Nabi Muhammad. Dengan ukuran ini maka aliran ingkar sunnah juga sulit dimasukkan sebagai bagian dari umat Islam karena telah menyingkirkan hadits, sebagai sumber informasi tentang tingkah-laku dan ajaran Rasulullah mengaplikasikan ajaran Islam yang terdapat dalam Al-Qur’an.
Label:
Aqidah,
Dunia Islam
|
4
komentar
Sekarang lagi ‘’ngetrend’ usaha kaum homo dan lesbian untuk bisa diterima oleh masyarakat, termasuk dengan mengakui perkawinan mereka lewat pranata sosial yang sudah ada. Karena sistem perkawinan umumnya disahkan melalui aturan agama, maka tentu saja arah ‘pergerakan’ mereka adalah mencoba agar sistem agama tersebut bisa mengakomodasi hasrat mereka untuk menikah. Kita mendapat informasi bahwa didunia Kristen hal ini sudah mulai berjalan, misalnya musikus Elton John menikah dengan pasangan laki-lakinya di gereja, dihadapan pendeta yang menyaksikan dan mensahkan ikrar perkawinannya. Dalam prosedur pernikahan Kristen hal ini mungkin bisa saja diterima, karena prinsip pernikahan dalam ajaran Kristen adalah : pihak laki-laki dan wanita datang ke hadapan pendeta (yang mewakili otoritas agama untuk mensahkan) lalu berikrar untuk saling mengasihi dalam susah dan senang. Si pendeta mendengar ikrar tersebut lalu menyatakan bahwa mereka sudah sah menjadi suami istri. Disini terbuka peluang untuk menerima pasangan sejenis untuk menikah karena posisi mereka yang equal sudah memenuhi prinsip pernikahan tersebut.
Prinsip pernikahan dalam Islam punya model yang berbeda, karena adanya 'ijab-kabul'. Intinya pihak laki-laki datang kepada keluarga si wanita, lalu keluarga si wanita-lah yang bertindak sebagai wali/wakil bagi calon mempelainya. Melalui wakil tersebut, keluarga menyatakan untuk menyerahkan anak wanitanya ketangan si laki-laki yang datang, bahwa wanita yang selama ini berada dibawah tanggung-jawab dan lindungan pihak keluarganya telah dialihkan kepada laki-laki tersebut. Selanjutnya pihak laki-laki yang menerimanya akan bertindak persis sama dengan apa yang selama ini dilakukan oleh pihak keluarga, bahwa dia akan bertanggung-jawab dan melindung wanita yang sudah diserahkan oleh keluarganya. Jadi tidak peduli apakah si wanita berstatus lebih tinggi, lebih kaya, lebih bertenaga dan lebih kuat, sedangkan laki-lakinya mungkin sebaliknya, maka tetap wanita berada didalam tanggung-jawab dan lindungan suaminya. Begitu prinsip pernikahan dalam ajaran Islam, bahwa posisi seseorang dalam pernikahan melekat kepada jenis kelaminnya.
Label:
Aqidah,
Kontra Liberalisme,
Syari'at
|
0
komentar
Kalau ditanya kepada wanita :”Apa alasannya anda memamerkan aurat..?” maka jawabannya bisa macam-macam. Ada yang bilang karena merasa lebih fresh dan segar, ada juga yang bilang lebih ‘pede’ karena mau memamerkan bagian yang dianggap indah untuk dipandang orang lain, bisa membuat kagum baik buat laki-laki maupun wanita lain, atau juga mengatakan memang merupakan cara untuk bersaing dan lebih menonjolkan diri agar menjadi fokus perhatian orang disekitar. Saya pikir tidak akan ada yang menjawab :”Ini hak asasi gue…, jadi gue pamer aurat untuk menyatakan kebebasan yang tidak bisa diatur oleh siapapun”, karena sepanjang memamerkan aurat merupakan tindakan yang tidak nyaman, maka hal tersebut pasti tidak akan dilakukan. Mungkin ada juga yang punya alasan :”Justru karena dilarang oleh Islam, maka aurat sengaja saya pamer, untuk menunjukkan pemberontakan saya terhadap aturan-aturan yang mengekang..”, kalau ini yang terjadi maka si wanita tersebut bisa dikategorikan sudah sakit. Namun anehnya ketika tahu laki-laki disekitar melotot ‘mengagumi’ aurat yang dipamerkan, si wanita malah repot sendiri menutup-nutupinya, dengan menarik-narik kebawah rok mini yang dikenakannya.
Aurat merupakan bagian tubuh yang bisa ‘membiasakan’ pandangan orang, terutama kaum laki-laki. Maksudnya ketika kita terbiasa melihat aurat bertebaran disekitar kita dan gampang untuk ditemukan maka aurat tersebut ‘nggak ngaruh’ buat orang. Silahkan anda pergi ke Bali dan nongkrong di pantai, lalu pandangi para perempuan yang berbikini disana, mana yang lebih menarik minat anda ketika melihat bule pakai bikini atau cewek Indonesia pakai bikini, saya pastikan anda lebih tertarik melihat ‘yang lokal’. Penyebabnya adalah karena aurat bule sudah terbiasa kita lihat, bisa dengan gampang kita temukan di film, video, internet. Sedangkan aurat perempuan Indonesia relatif jarang kita temukan. Anda juga bisa mencoba hidup dalam masyarakat primitif yang kaum perempuannya pakai pakaian ‘minimalis’, paling juga beberapa hari anda akan terbiasa dan tidak bakalan terganggu lagi dengan pemandangan tersebut.
Label:
Akhlak,
Aqidah
|
0
komentar
Sering kita temukan orang mengutip perkataan tokoh sufi perempuan Rabi’ah al-‘Adawiyah yang menyatakan kemurnian cintanya kepada Allah, sehingga dia berkata apabila ibadahnya didasari ketakutan akan neraka maka dia menyatakan biarlah masuk neraka, sebaliknya jika itu dilakukannya karena ingin masuk surga maka dia meminta untuk dijauhkan dari surga. Perkataan ini seolah-olah menunjukkan bagaimana murninya cinta Rabi’ah kepada Allah, cinta yang tidak mengharapkan suatu imbalan-pun kecuali balasan cinta dari Allah. Kelihatannya ini kemudian menjadi inspirasi dari syair lagu yang dibawakan oleh Chrisye dan Ahmad Dhani ;”Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau bersujud kepada-Nya..”.
Perlu diketahui bahwa Allah menciptakan surga dan neraka bukan atas ‘pesanan’ manusia, misalnya ketika Dia menciptakan makhluk yang bernama manusia, lalu terjadi suatu ‘kesepakatan’, si manusia berkata :”Oke..Tuhan.., saya telah diciptakan dari ketiadaan dengan tugas semata-mata untuk menyembah Engkau, maka saya minta apabila saya berhasil menjadi hamba-Mu maka Engkau harus memberikan imbalan berupa surga, dan jika saya gagal maka silahkan menjebloskan saya ke neraka”. Surga dan neraka diciptakan Allah karena Dia mengetahui tentang diri kita melebihi pengetahuan kita terhadap diri kita sendiri, jadi jangan ‘sok tahu’ sekalipun mungkin dimaksudkan untuk menunjukkan keikhlasan kita dalam penyembahan kepada Allah.
Berikutnya, saya lihat ada kesalahan dalam menafsirkan soal surga dan neraka, seakan-akan mau menyatakan keduanya adalah ‘lokasi’ yang bersifat netral, padahal surga dan neraka bisa juga merupakan suatu ‘kondisi’. Allah menginformasikan lewat Al-Qur’an bahwa kelak di akherat kita hanya menghadapi 2 hal, kalau tidak surga, yaa neraka, di surga kita menerima limpahan rahmat dan kasih-sayang Allah, sebaliknya di neraka yang ada hanya kemurkaan Allah. Tidak ada rahmat dan kasih sayang Allah di neraka, demikian pula sebaliknya, tidak ada kemurkaan-Nya di surga. Neraka bukanlah diibaratkan seperti gubuk reyot lalu kita berkata :”Tidak apa-apa tinggal di gubuk reyot juga, asal hidup bahagia..”, neraka identik dengan kemurkaan Allah, maka tidak mungkin kita lalu berkata :”Tidak apa-apa dimurkai Allah juga di neraka, asal dicintai-Nya..”, bahasa apaan tuh…!!!??
Maka lakukanlah ibadah penyembahan kepada Allah sekaligus berharap surga-Nya, itulah sikap kita seharusnya sesuai apa yang diinginkan Allah..
Label:
Akhlak,
Aqidah
|
0
komentar
Subscribe to:
Posts (Atom)



















