Loading

Jumlah Kunjungan

Artikel Terbaru MMT

Facebook Arda Chandra

Powered by Blogger.

Manusia sering memakai istilah dengan memelintir maknanya sehingga apa yang dia lakukan seolah-olah terkesan terhormat. Kalau suatu waktu anda ditangkap polisi lalu-lintas maka anda kemungkinan ditawarkan :"Bapak mau saya bantu..?", maksudnya daripada harus repot mengikuti proses pengadilan tilang lebih baik urusan diselesaikan di lapangan. Pak polisi menjuluki perbuatannya sebagai kegiatan mulia untuk membantu kesulitan para pengemudi yang ditangkap.

Demikian pula dengan istilah ini, politisi menganggap pemerintah butuh sosok yang berkualitas untuk mengurus kementrian, maka dikatakan :"Saya tidak berkeberatan mewakafkan kader partai untuk membantu pemerintah.", maksudnya mau menunjukkan kalau partai tersebut telah berkorban dalam menempatkan orang-orangnya dalam posisi menteri.

Tindakan membantu atau mewakafkan merupakan perbuatan yang memerlukan pengorbanan bagi pihak yang menjalankannya, ada sumbangan tenaga ataupun materi tanpa kompensasi apapun, kecuali imbalan dari Allah kelak di akhirat. Kalau itu dilakukan karena keuntungan yang ingin didapatkan maka bukan membantu atau mewakafkan namanya.

Berhentilah memakai istilah yang bertujuan untuk membuat mulia perbuatan yang sebenarnya tidak mulia. Mengapa tidak berbicara apa adanya saja bahwa anda memang mengharapkan sesuatu untuk keuntungan pribadi atau kelompok sendiri.? Lumrah saja dalam dunia politik untuk berusaha memegang jabatan dan menmgambil keuntungan dari kekuasaan yang diperoleh..


Istilah kafir sangat dikenal dalam ajaran Islam dengan beberapa pengertian dan tingkatan, mulai dari sikap menolak menyembah Allah sebagai Tuhan, sampai kepada mengingkari nikmat yang diberikan Allah (kufur nikmat). Para ulama juga membuat konsep membagi orang kafir yang tidak menyembah Allah sebagai Tuhan dengan beberapa tingkatan, terkait dengan sikap mereka dalam berhubungan dengan kaum Muslim, mulai dari kafir yang bermusuhan (kafir harby) sampai kepada kafir dzimmy, yaitu orang yang mengingkari Allah dan sudah merelakan diri untuk hidp damai dalam kekuasaan Muslim.

Ketika kita menyebut seseorang dengan kafir, biasanya dalam pengertian umum ditujukan kepada mereka yang non-Muslim, orang yang menyembah Tuhan selain Allah dan tidak mengakui nabi Muammad SAW adalah utusan Allah, dan dari sudut pandang ajaran Islam, Allah tidak akan menyelamatkannya di akhirat kelak.

Masalahnya, ada juga non-Muslim tersinggung ketika disebut sebagai orang kafir dan menganggap itu merupakan hujatan dan penyerangan terhadap keyakinan yang dianutnya, ini buat saya sangat mengherankan. Katakanlah istilah kafir ini dipakai juga oleh pemeluk agama selain Islam untuk menyatakan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang mereka sembah, misalnya Kristen mengatakan kepada saya :"Kamu orang kafir..", lalu saya bertanya :"Apa yang anda maksud dengan kafir..?", dan dijawab :"Orang yang tidak menyembah Yesus sebagai Tuhan, dan artinya tidak akan mendapat keselamatan dari Yesus..". Maka keimanan saya akan mengatakan itu adalah benar, saya adalah orang yang menyembah Allah sebagai satu-satunya Tuhan dan hanya mengharapkan keselamatan dari Dia, lalu apa alasannya saya mesti tersinggung dikatakan sebagai kafir menurut ajaran Kristen..? Pernyataan Kristen tersebut justru merupakan konfirmasi keimanan saya, bahwa saya tidak menyembah Tuhan yang dia sembah.

Jadi ketika seseorang yang tidak menyembah Allah dan tidak mengakui nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah tersinggung dikatakan kafir, maka sebenarnya secara-diam-diam dia mengakui kalau Allah adalah Tuhan dan mengharapkan keselamatan datang dari Allah, dengan dikatakan sebagai orang yang terputus dan bakalan 'dicuekin' Allah kelak di akhirat maka 'kenyamanannya' dalam berlindung kepada Tuhan yang lain menjadi terganggu.

Maka untuk membuktikan keimanan anda, tersinggung dengan penyebutan kafir tidak perlu terjadi, saya mengatakan anda kafir anda juga mengatakan saya kafir karena kita masing-masing punya Tuhan yang berbeda untuk disembah dan juga Tuhan yang tidak sama untuk memberikan keselamatan.


Sampai sekarang saya masih belum memahami tentang orang-orang NU. Pada satu sisi dibalik gaya mereka yang 'ndeso' dan sarungan bisa muncul kaum intelektual Islam yang sarat ilmu, membangun cara berpikir yang didukung referensi kuat dari kajian para ulama terdahulu, menghasilkan argmentasi yang kokoh dan sangat Islami, Ibarat seseorang yang berdiri diatas tumpukan bahu para pemikir Islam pendahulu mereka. Hal ini bisa kita lihat dari pembicaraan lawan diskusi tokoh JIL dan para penanya yang hadir d video ini.

Namun disisi lain dari rahim NU juga muncul orang-orang liberal yang mencampakkan referensi dan kajian ilmiah para ulama terdahulu dan memelintir apa yang mereka sampaikan,  bertujuan mencocok-cocokkan dengan pemahaman yang berasal dari kalangan non-Muslim di dunia barat. Ada kesan minder atau rendah diri, seolah-olah mau menunjukkan kalau referensi dari internal Islam sudah ketinggalan jaman, lalu 'berjoget dalam irama gendang yang ditabuh orang lain', padahal para ulama Islam sejak dulu sampai sekarang sudah melakukan kegiatan ilmiah membahas soal apapun, termasuk filsafat Yunani dan sains.

Namun semuanya seperti diakomodasikan dikalangan NU sebagai bagian dari proses berpikir khas NU, bahkan secara organisasi justru kalangan liberal inilah yang sedang memegang kekuasaan di NU..

Saya benar-benar tidak paham..


Ijinkanlah saya bercerita tentang sebagian nasib masyarakat diwilayah Bandung utara, tepatnya disebelah Tahura - taman hutan raya Ir. H. Juanda. Pada suatu waktu saya berniat belajar memelihara lebah yang kebetulan lokasi pendidikannya ada ditempat tersebut, diajarkan oleh salah seorang penduduk setempat yang merupakan peternak lebah disana. Pada saat istirahat dia bercerita tentang nasib tetangga-tetangganya..

Di wilayah Bandung utara banyak dibangun komplek perumahan, villa, dll karena lokasinya yang bagus, berada diketinggian, berhawa sejuk dan dimalam hari bisa memandang ke kota yang dihiasi lampu-lampu. Dahulunya tanah disana dimiliki oleh para penduduk, namun dengan berkembangnya kompleks perumahan, banyak yang akhirnya menjual tanah-tanah mereka kepada developer, lalu pulang ke daerah asal seperti di Subang, Garut, Tasik, dll. namun karena tingkat pendidikan dan ketidak-mampuan berusaha, uang hasil penjualan tanah dipakai untuk pengeluaran yang konsumtif, beli motor, dll, akhirnya habis. Penduduk yang dulunya bermukim di Bandung utara tersebut akhirnya kembali lagi dan pontang-panting mencari pekerjaan, ada yang jad satpam, tenaga kebersihan dan pembantu rumah-tangga. Berada ditempat yang sama namun dengan nasib yang berbeda.

Pemerintah sekarang kelihatannya menjadikan pembangunan infrastruktur sebagai primadona. Ada proyek Trans Sumatera, jalan tol di pulau-pulau di luar Jawa, jalur kereta api, kereta cepat, dll. Diharapkan dengan adanya infrastruktur baru tersebut wilayah yang dilalui akan meningkat derajatnya, menjadi sentra-sentra perekonomian dengan membangun perumahan, sentra industri, taman rekreasi seperti Disney World. Pembangunan akan membuka banyak lapangan kerja dan pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Begitu cita-citanya.

Cerita kecil tentang penduduk di Bandung utara bisa dijadikan pelajaran bahwa pembangunan infrastruktur memiliki akibat negatif kalau tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas intelektual masyarakat. Rakyat akan menjadi kuli dan para pemilik modal akan makin 'jauh dari jangkauan' karena mampu mengambil manfaat materi yang melimpah. Maka seharusnya semuanya harus diprogramkan secara simultan.

Memang membangun infrastruktur jauh lebih gampang dibandingkan meningkatkan kemampuan dan kecerdasan masyarakat. Kalaupun tidak ada modal tinggal berhutang dengan konsesi yang memadai bagi pemilik modal, hasilnya juga kelihatannya nyata dalam waktu relatif singkat, dan tentunya bisa dipakai untuk pencitraan :"Hanya dijaman saya proyek ini bisa dibuat...". Sebaliknya membangun kualitas intelektual rakyat membutuhkan paling kurang 1 generasi, si pemimpin mungkin sudah selesai bertugas ketika program tersebut berhasil dan bisa-bisa akan diklaim sebagai hasil kerja pemimpin berikutnya. Mungkin ini penyebab mengapa program peningkatan pendidikan masyarakat tidak menjadi favorit bagi penguasa, sekalipun dalam berbagai kampanye hal ini sering dijanjikan. Indikasinya gampang kita lihat, MPR bahkan harus 'repot-repot' merubah UUD'45 dengan menetapkan batasan anggaran pendidikan 20% dari APBN dan APBD (Pasal 31 ayat 4), menunjukkan kalau penguasa harus 'dipaksa' untuk memperhatikan program pendidikan.

Maka berhati-hatilah dengan pembangunan infrastruktur, tanpa diimbangi program peningkatan kualitas masyarakat hal ini bisa menjadi pisau bermata dua, diharapkan mampu memotong sesuatu sesuai kebutuhan, namun bisa malah melukai diri sendiri.


Dulu saya pernah mengajukan pertanyaan 'santai tapi serius' tentang makna dari negara kebangsaan :"Kalau saat ini nabi Muhammad SAW masih hidup, siapakah yang akan dibela beliau ketika kesebelasan sepakbola Arab Saudi bertanding dengan Indonesia..?. Ini baru soal sederhana tentang pertandingan sepakbola, bagaimana halnya dengan urusan lain antar negara seperti kontrak dagang, perang dan persekutuan damai, investasi asing, urusan imigrasi, TKI, dll..?

Negara bangsa seperti yang kita kenal saat ini mempunyai landasan yang membedakan satu dengan yang lainnya, yaitu adanya kebangsaan dan kedaulatan, dua konsep yang sebenarnya sangat samar batasannya. Indonesia dan Malaysia punya warga yang serumpun namun tetap menjadi negara terpisah karena yang satu bekas jajahan Belanda yang lain dijajah Inggeris, India dan Pakistan sama-sama dijajah Inggeris dan sama-sama merdeka dalam waktu yang sama, namun karena perbedaan agama mayoritas yang satu Hindu dan yang lain Islam, tidak terjadi penyatuan negara. Lain lagi Pakistan dengan Bangladesh, dua-duanya negara dengan penduduk mayoritas pemeluk Islam namun akhirnya menjadi negara sendiri-sendiri karena lokasinya berjauhan. Tidak ada satu konsep yang baku mendasari apa yang dimaksud dengan kebangsaan sehingga bung Karno punya konsep sendiri yang juga tidak kalah samarnya, kebangsaan dimunculkan karena adanya persamaan nasib.

Keberadaan suatu negara bangsa juga bukan bersifat alamiah, namun merupakan akibat interaksi dengan pertarungan politik, bisa dilacak sejak abad ke-15 ketika mulai terjadinya pemisahan kerajaan-kerajaan di Eropah dengan kekuasaan gereja Roma. Silih berganti muncul negara, ada yang bergabung, lalu pecah lagi. Jadi negara bangsa bukanlah suatu yang bersifat ajeg dan mapan, begitu masyarakat dan pemegang kekuasaannya punya kehendak lain, bisa jadi muncul negara baru. Maka sebagaimana keniscayaan munculnya negara bangsa, kemungkinan adanya suatu kekhalifahan Islam yang mencakup seluruh dunia juga bukan merupakan hal yang mustahil. Bentuknya bisa bermacam-macam karena Rasulullah tidak pernah memberikan petunjuk soal ini, bisa saja memakai model negara persemakmuran, atau model Uni Eropah yang tetap mengakui eksistensi negara bangsa, atau benar-benar berbentuk negara yang berdaulat.

Semua umat Islam pasti menghendaki adanya kekhalifahan, adanya suatu kekuasaan yang mencakup dan mempersatukan seluruh umat manusia, dilaksanakan dalam nilai-nilai Islam, melindungi semua rakyat, baik yang beragama Islam maupun yang bukan. Namun mereka berbeda paham tentang cara untuk mencapainya. Ada Pan-Islamisme yang dicetuskan oleh Jamaluddin al-Afghani, lalu Hasan al-Bana di Mesir membentuk Ikhwanul Muslimin, dimasa sekarang ada gerakan Hizbut Tahrir. Semua gerakan tersebut punya konsep dan cara mewujudkan negara khilafah yang berbeda-beda. Karena berbeda maka akhirnya dalam gerakan sendiri berlaku 'hukum alam', otomatis muncul perpecahan antara yang ikut kelompok dengan yang berada diluar kelompok.

Bagi saya sendiri, khilafah Islam semata-mata merupakan anugerah Allah, yang diberikan-Nya apabila umat Islam memang sudah mempersiapkan diri, menunjukkan sebagai komunitas yang benar-benar menjalankan syariat Islam. Maka langkah yang paling logis dan paling terjangkau adalah dengan memperbaiki lingkungan terdekat terutama dari aspek kehidupan sosial. Mulai dengan rajin shalat berjamaah di masjid sehingga terjadi interaksi dalam ukhuwah. Apabila hal ini sudah meluas dan menjadi kebiasaan yang bersifat menyeluruh maka turunnya pemimpin/khalifah hanya soal waktu.