Loading

Jumlah Kunjungan

Artikel Terbaru MMT

Facebook Arda Chandra

Powered by Blogger.

Pergantian tahun berdasarkan sistem penanggalan apapun adalah tonggak imajiner yang diciptakan manusia untuk mengevaluasi dirinya, sama halnya dengan yang dilakukan setiap merayakan ulang-tahun, pergantian bulan atau dipertengahan bulan dengan melakukan puasa 3 hari, atau setiap Jum'at datang, bahkan setiap pergantian pagi dan petang. Disitu ada do'a dan ibadah, untuk selalu digunakan mendekatkan diri kepada Allah.

Melewati pergantian tahun Masehi saat ini, kembali diri ini meninjau barang sejenak tentang apa yang telah dilakukan selama 1 tahun yang telah lewat. Banyak kebodohan dan kesia-siaan. Ketika kesehatan yang diberikan Allah malah dipakai untuk mengayunkan langkah menjauh dari-Nya, harta yang telah dianugerahi dipergunakan dengan mubazir hanya untuk berfoya-foya, kekuasaan yang dilimpahkan dipakai untuk mendzalimi orang lain. Lalu ketika Allah memberikan yang sebaliknya, kesehatan yang dicabut-Nya, kekurangan harta dan keterpurukan, diri ini kembali tertunduk, bersimpuh dihadapan-Nya dengan berurai air-mata, berdo'a memohon ampunan dan mengharapkan lindungan. Kelakuan ini tidak lebih seperti manusia yang menghabiskan waktu untuk menenun kain lalu ketika selesai kembali menguraikannya menjadi benang.

Lalu apa yang mesti hamba minta disaat pergantian tahun ini yaa Allah..? Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui sedangkan hamba tidak tahu apa-apa. Bisa jadi semua kesehatan, kekayaan dan kemahsyuran yang Engkau berikan adalah beban yang tidak bisa hamba pikul, merupakan ujian-Mu yang tidak sanggup hamba lalui.

Maka kali ini hamba memohon, janganlah Engkau berikan beban dan ujian yang tidak sanggup hamba tanggung. Berilah kekuatan untuk selalu berprasangka baik tentang apapun yang akan Engkau berikan, tanamkanlah keyakinan bahwa apapun yang Engkau tetapkan, itulah yang terbaik bagi hamba. Jadikanlah hamba ini orang yang selalu ingat disaat berjalan, duduk atau berbaring, selalu akan berkata : "Yaa Allah.. apapun yang Engkau tetapkan, tidak ada yang sia-sia..".

(Status 1 Januari 2014)


Saya sering bolak-balik Bandung Surabaya. Kadang beberapa bulan di Bandung, lalu pindah lagi berdiam beberapa lama di Surabaya. Jadi saya punya 2 masjid tempat mengerjakan shalat berjamaah.

Ada perbedaan dengan kedua masjid langganan saya pada masing-masing kota tersebut, terutama waktu shalat Shubuh.

Di Bandung masjid tidak punya kebiasaan menyetel kaset sebelum adzan, jadi suara yang keluar dari toa masjid semata-mata hanya adzan shubuh. Hasilnya setiap shalat hadir sekitar 80 s/d 100 jamaah. Mereka ada yang datang dari jarak yang cukup jauh karena banyak menggunakan motor bahkan mobil.

Di Surabaya lain lagi. Setengah jam sebelum adzan shubuh, udara sudah ramai dengan suara yang diperdengarkan melalui toa, diawali syi'ir tanpo waton, lalu bacaan setengah juz amma, dilanjutkan shalawat, baru adzan shubuh. Hasilnya peserta shalat berjamaah hanya 3  - 4 orang bapak-bapak ditambah beberapa dari ibu-ibu. Seringnya jamaah perempuannya malah lebih banyak dibandingkan laki-laki.

Mungkin tujuan menyetel kaset agar kaum Muslim yang ada disekitar masjid bisa bangun lebih awal untuk mempersiapkan diri, bangun diwaktu shubuh memang butuh persiapan agak lama dibandingkan waktu shalat lain.

Namun ternyata ini tidak bisa jadi jaminan.

Ketika hati sudah tuli, telingapun bisa pekak, suara keras toa masjid selama apapun tidak mampu menggerakan manusia untuk shalat berjamaah.

Maka menurut saya sebaiknya menyetel kaset keras-keras tersebut dilarang saja, mengganggu orang dan tidak juga bermanfaat.


Pagi ini sempat keluar rumah mau beli nasi pecel. Sangat kaget mengamati wajah orang-orang yang ditemui di jalanan, para pejalan kaki, pengendara motor dan mobil. Wajah-wajah tanpa senyuman dan kening berkerut. Apalagi saat menunggu giliran di pertigaan atau perempatan jalan, tergambar raut muka mau berkelahi dan berperang. Hampir semua seperti menanggung beban, tanpa mereka sadari.

Inikah kehidupan yang dicari-cari semua orang..? Saya bisa menyaksikan neraka dengan mata kepala sendiri. Dibalik materi, kesejahteraan, kemapanan hidup, tidak ada lagi tersirat kebahagiaan sedikitpun, tidak ada lagi suasana hati disaat seorang bocah kecil bermain membangun rumah pasir dipinggir pantai, atau anak perempuan mengikat rambutnya dengan sehelai pita, bukan untuk apa-apa, hanya ingin menikmati bahagia.

Saya terbayang ketika berada didalam neraka itu dulu. Ketika tiba waktunya libur, sejenak memanfaatkan intermezzo dari irama kehidupan yang menekan, hati ini tiba-tiba menjadi kalap meraih kebahagiaan, berusaha menggapainya dengan mencari tempat liburan, membelanjakan uang berapapun untuk membuat hati senang.

Inikah kehidupan yang didambakan semua orang..? Tidak bisakah kita menghadirkan surga di dunia kita ini..?


Menurut penelitian Bank Dunia, tahun 2010 kelompok kelas menengah di Indonesia sudah berjumlah 50% dari total penduduk. Mereka terdiri dari kalangan profesional, pengusaha menengah, pegawai negeri dan karyawan dengan ciri-ciri mobilitas tinggi, punya rumah dipinggiran kota atau apartment, punya waktu buat belanja di mall dan liburan, nonton di bioskop 21 dan jadwal makan dengan keluarga di restoran.

Kelas menengah juga rewel menuntut kenyamanan hidup, lingkungan yang tidak mau diganggu aktifitas sosial namun juga tidak suka merecoki urusan orang, cenderung apolitis dan dari aspek spiritual lebih condong mengusung nilai-nilai universal yang berlaku seperti HAM, toleransi, kesetaraan gender, bahkan sering nilai-nilai ini dipakai dengan menyingkirkan aturan agama yang dianggap sudah tidak sejalan.

Kelas menengah juga gampang meledak begitu merasa ada yang akan mengganggu kenyamanan hidup mereka. Makanya mereka nyinyir dengan tindakan pemerintah suatu daerah yang memberikan keberpihakan kepada kelompok masyarakat miskin dengan mengorbankan sedikit kenikmatan yang sudah didapat. Maka memberikan badan jalan untuk PKL, menopang kegiatan becak dikampung-kampung Jakarta dengan ijin terbatas, merupakan kebijakan yang mengganggu kenyamanan tersebut.

Bagi saya, penguasa harus terus berpihak kepada rakyat miskin, memberi alternatif agar mereka bisa mencari nafkah. Kalau bukan dengan dukungan penguasa, lalu kepada siapa lagi mereka harus menyandarkan diri.


Acara Khalifah Di Trans7 pagi ini berbicara tentang penyair dijaman Rasulullah. Ternyata kedudukan para penyair, baik dari pihak Islam maupun kaum kafir mengambil peranan penting dalam konflik panjang yang terjadi pada masa kenabian beliau. Karena dijaman tersebut belum ada media massa seperti koran dan majalah, belum ada media sosial seperti facebook, twitter dan instagram, maka syair berfungsi sebagai sarana penyebar informasi, bertujuan mengkonsolidasikan kekuatan, memupuk semangat berperang, menyebarkan kebenaran yang dianut, sekaligus berusaha melemahkan semangat pihak lawan.

Begitu penting dan berbahayanya posisi penyair ini dalam konflik, maka Allah sampai mengingatkan kita tentang mereka dalam Al-Quran QS 26:221-226, bahwa para penyair dari kaum kafir mempunyai hubungan langsung dengan syaitan, menyebarkan informasi dusta lalu diikuti oleh orang-orang yang sesat (dalam istilah sekarang mereka yang memproduksi hoax dan diikuti oleh netizen yang memviralkan berita bohong atas dasar kebencian dan berpihak kepada orang kafir). Dan pada ayat selanjutnya Allah menjelaskan bagaimana posisi dari para penyair dari kaum beriman :

"Kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak mengingat Allah dan mendapat kemenangan setelah terzalimi (karena menjawab puisi-puisi orang-orang kafir). Dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali."
(QS. Asy-Syu'ara' 26: Ayat 227)

Di jaman sekarang, para penyair itu adalah anda-anda yang menulis di media sosial, berusaha mengcounter setiap propaganda musuh Islam yang menyebar hoax dan fitnah, bertujuan melemahkan semangat kita untuk membela agama, memecah-belah dan adu domba. Dan secara internal menulis untuk mempersatukan umat, menyebar petunjuk para ulama, mengkonsolidasikan kekuatan untuk bergerak bersama-sama.